Bukan cuma anak yang bisa salah. Orang tua pun bisa salah. Coba cek, apakah kita   pernah melakukan kesalahan terhadap anak saat mengasuhnya..

Berikut ini adalah beberapa Kesalahan dalam Mengasuh Anak :

  • Mengabaikan kebutuhan dasar anak.
    Mungkin kita mengira apa yang sudah kita berikan kepada anak adalah yang terbaik. Sekolah mahal, mainan banyak dan selalu baru, memberinya les musik, menari, melukis, dll. Tapi, waktu kita untuk bertemu anak dan memanfaatkan waktu bersamanya hanya sekali dalam sebulan. Betulkah itu kebutuhan anak? Berikan diri kita sebagai kebutuhan dasar anak. Berikan waktu kita, curahkan perhatian kita, dengarkan kisah-kisahnya yang lugu, lucu dan ajaib.

 

  • Memperlakukan anak seperti orang dewasa.
    Banyak tuntutan tak masuk akal terhadap anak. Makan tak boleh berceceran, pakai baju harus match tanpa diajari, tidak boleh salah, harus cepat mengambil keputusan dll. Kita menjadikan diri kita sebagai standar. Tuntut anak sesuai dengan milestone atau tahap perkembangannya.  Pahami fase perkembangannya, ikuti iramanya. Pahami jalan pikirannya. Logika anak-anak jauh dari sempurna. Otaknya masih tumbuh, demikian pun fisiknya.

 

  • Dilayani habis-habisan.
    Mengambil buku di kamar, mengambil sepatu di rak sepatu atau mengambil minum di dapur selalu kita atau pengasuhnya yang mengambilkan. Ia diperlakukan sebagai  bayi yang belum mampu melakukan apapun. Berikan kesempatan pada anak untuk melakukan sesuatu yang seharusnya sudah bisa ia lakukan. Bila perlu, sedikan tempat yang mudah ia jangkau untuk mempermudah apapun yang ia butuhkan. Misalnya meja kecil untuk meletakkan gelasnya. Merasa diri mampu melakukan segala sesuatu sendiri, akan meningkatkan harga diri anak.

 

  • Tidak pernah berkata ‘tidak’.
    Kata “YA” selalu keluar dari mulut kita. Bukan hanya pada sebuah pernyataan anak seperti “Gambar aku bagus, Bunda?”, tapi juga untuk semua permintaannya. Ketika kita pelit mengatakan ‘TIDAK,’ kita tak peduli pada anak. Kita hanya peduli pada diri kita, tak mau repot-repot konflik dengan anak. Kita tak mau berpikir mengapa kita mengatakan ‘TIDAK.’ Gunakan kata ‘YA’ dan ‘TIDAK’ secara adil. Pikirkan sebelum mengatakan ‘YA’ atau ‘TIDAK’  karena anak harus tahu mengapa dia mendapatkan jawaban itu. Terutama untuk bereksplorasi, dua kata ini sangat penting.

 

  • Bicara dengan bahasa yang kacau.
    Tidak ada standar bahasa yang jelas. Kita sesekali berkata  ‘utu’ untuk ‘lucu’, ‘acih’ untuk ‘terima kasih’ dll. Terdengar lucu saat mengucapkan  kata-kata itu, tapi  jelas-jelas membingungkan anak. Bicara sesuai dengan kaidah bahasa. Ucapkan kata-kata dengan benar, tak perlu mengikuti anak bicara dengan ucapan cadel.  Dia memang belum fasih bicara karena perkembangan bicaranya juga belum sempurna. Si kecil butuh role model untuk mengenal dan meniru. Jangan ragu untuk mengenalkan banyak kata kepada anak, bisa melalui lagu, buku atau film.

 

  • Tidak ada disiplin.
    Meletakkan tas sekolah di kolong meja, meletakkan sepatu di kursi tamu, ada sendok di  rak buku. Menyedihkan sekali kondisi rumah si kecil. Sama seperti di jalan raya yang punya aturan, di rumah pun harus ada aturan karena  aturan dibuat demi keamanan dan  kenyamanan bersama. Ajarkan disiplin pada anak sejak dini. Buat daftar apa saja yang harus dipatuhi oleh semua penghuni rumah, agar semua anggota keluarga bersikap konsisten menjalaninya. Khusus untuk anak, kita bisa membantu mengingatkannya bahwa sepatu tempatnya bukan di sofa, tas sekolah bukan di kolong meja tempatnya.

 

  • Tidak dituntut untuk menghormati orang tua.
    Demi menjaga keakraban dengan anak atau dianggap sebagai teman yang menyenangkan, kita berperilaku seperti teman sebayanya. Atau kita malah membiarkan si kecil memanggil kita  dengan sebutan nama atau dengan ucapkan “eh”. Tak ada batasan antara pemegang otoritas dan yang harus mematuhinya. Berlakukan konsep menghormati orang tua, apalagi kita hidup dengan budaya  timur. Mengucapkan salam saat bertemu orang lain, membungkuk ketika berjalan di depan orang lebih tua yang sedang duduk, sudah menjadi tata krama yang harus diikuti oleh anak.

 

  • Memberi hadiah berlebihan.
    Karena tak punya waktu untuk anak, kita menggantikan kehadiran kita dengan hadiah. Saat kita sedang berjuang untuk mendorong anak melakukan yang terbaik, kita juga memberikan hadiah yang berlebihan atau tidak seharusnya ia dapatkan. Misalnya kita memberikan hadiah sepeda  karena anak berhasil membereskan tempat tidurnya. Berikan penghargaan atau hadiah sesuai dengan usaha yang anak lakukan. Hadiah tak harus berupa benda.  Ucapan atau pujian seperti “Kamu hebat” atau “Kamu pintar” dapat kita gunakan. Fungsi hadiah sebenarnya adalah menghargai apa yang sudah dilakukan oleh anak.

 

  • Dibiarkan jauh dari kita.
    Kita sudah ajarkan pada anak tentang siapa nama orang tuanya, tempat tinggalnya, nomor telepon kita, atau harus menghubungi satpam bila kehilangan kita. Tapi, bukan berarti kita memberikan kepercayaan penuh pada anak untuk berada jauh dari jangkauan kita. Usahakan anak selalu berada dalam pengawasan mata kita saat berada di tempat umum. Selain kita tidak mengetahui bahaya apa yang akan mengancam dari lingkungan, hati-hati juga dengan kemampuan logika atau berpikir anak. Kasus anak terjepit eskalator atau jatuh dari lantai atas tidak sedikit, bukan?

 

  • Tidak mengijinkan anak menjadi anak.
    Memaksakan selera atau mimpi kita kepada anak, dilakukan para orang tua dari generasi ke generasi. Segala hal harus sesuai dengan kehendak kita, jika tidak mau maka ‘teror’ pun kita lakukan. Misalnya menurut kita pakaian t-shirt dengan celana yang warnanya senada itu pakaian yang paling bagus untuk si kecil. Sedangkan menurut anak rok kotak-kotak berwarna merah dengan t-shirt kuning garis-garis sudah sangat keren. Dengarkan  pendapat  anak. Ia memang masih kecil, tapi tidak berarti suaranya tidak didengar oleh kita atau orang dewasa. Saat kita mau mendengarkan pendapatnya, ini juga menjadi cara untuk mengajarkan anak belajar mendengarkan  orang lain.

    (erin, disarikan dari majalah ayahbunda)

Silahkan Di Share, jika Artikel Ini Bermanfaat !
0Shares
0Shares