Hidup di dunia tidaklah lama, melainkan hanya sebentar dan sementara.

• Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari)

☆ Ath Thibiy mengatakan :

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini seperti orang asing (al ghorib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. 
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan seperti pengembara. 
Orang asing dapat tinggal di negeri asing. 
Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. 
Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” 
(Fathul Bariy, 18/224)

☆ Imam Abul Hasan Ali bin Khalaf dalam syarah Bukhari berkata bahwa Abu Zinad berkata :

“Hadits ini bermakna menganjurkan agar sedikit bergaul dan sedikit berkumpul dengan banyak orang serta bersikap zuhud kepada dunia”.

Abul Hasan berkata : “Maksud dari Hadits ini ialah orang asing biasanya sedikit berkumpul dengan orang lain sehingga dia terasing dari mereka, karena hampir-hampir dia hanya berkumpul dan bergaul dengan orang ini saja”

• Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa peduliku dengan dunia?! 
Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” 
(HR. Tirmidzi di shohih oleh Syaikh Al Albani)

☆ Nasehat Imam Hasan al-Bashri rahimahullah kepada Imam Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, beliau berkata:

”Sesungguhnya dunia adalah negeri perantauan dan bukan tempat tinggal yg sebenarnya, dan hanyalah Adam Alaihisallam diturunkan ke dunia untuk menerima hukuman akibat perbuatan dosanya…”

☆ Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam syairnya :

”Marilahh kita menuju surga (tempat menetap) karena sesungguhnya itulah tempat tinggal kita semula, yg di dalamnya terdapat kemah yg indah. akan tetapi kita sekarang dalam tawanan musuh syetan, maka apakah kamu melihat kita akan bisa kembali ke kampung halaman kita dengan selamat?”.

☆ Umar bin Al-Khaththab radhiallahu anhu menyampaikan kisahnya :

“Aku masuk menemui Rasulullah ` dalam keadaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada di atas tikar. Aku pun duduk dan beliau menurunkan pakaian atas beliau, beliau tidak memiliki yang selainnya. 
Ternyata, tikar tersebut telah membuat bekas pada lambung beliau. Aku melihat dengan mata kepalaku ke dalam lemari Rasulullah `, ternyata di dalamnya hanya ada sedikit tepung hampir satu sha’ dan ada sejenis daun untuk menyamak kulit dengan jumlah yang hampir sama di pojok kamar, juga ada kulit baru disamak yang tergantung. Aku pun menangis. 
Rasulullah ` bertanya, ‘Wahai Ibnul Khaththab, mengapa engkau menangis?’
Aku katakan, ‘Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis, padahal tikar ini telah membekas di lambungmu. 
Dan dalam lemari ini, aku tidak melihat kecuali yang aku lihat. 
Padahal, di sana Kaisar (penguasa Romawi) dan Kisra (penguasa Persia) berada di tengah-tengah buah-buahan dan sungai (yakni kemewahan). 
Dan engkau adalah utusan dan pilihan Allah Subhana wa ta’ala, beginikah isi lemari engkau?’ 
Rasulullah ` pun bersabda, ‘Wahai Ibnul Khaththab, tidakkah engkau ridha akhirat bagi kita sedang bagi mereka hanya dunia?’” 
(HR. Muslim)

Dengan hadits ini tercermin bahwa Kemuliaan seseorang tidaklah diukur dari banyaknya materi yang dimiliki.

Namun, Kemuliaan diukur dari apa yang ada di dalam hati yakni ketakwaan.

• Allah berfirman :

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu”
(QS. Al-Hujurat:13)

“Biarkanlah mereka (orang-orang kafir) makan dan bersenang-senang serta dilengahkan oleh angan-angan, maka kelak mereka akan mengetahui akibatnya”. 
(QS. 15 : 3)

Dunia ini sementara dan hakikatnya adalah….

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. 
Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. 
Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. 
Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Al-Hadid/57:20)

Wahai para perantau, Dunia adalah tempat persinggahan sementara.

Sudahkah kita mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri yg kekal abadi?

Sadarlah akan singkat nya waktu.

Maka dari itu, hendaknya kita berbekal untuk kehidupan kekal kita, bukan menyia-nyiakan waktu kita di dunia ini.

Hendaknya, apa yang kita miliki di dunia ini kita jadikan sebagai sarana untuk mencari kehidupan yang kekal di akhirat kelak.

• Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah di anugerahkan Allah kepada mu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. 
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(Q.S. Al-Qashash:77).

☆ Abdullah bin Umar Radhiallahu anhu berkata :

”Jika kamu berada di waktu sore maka janganlah menunggu datangnya waktu pagi; dan jika kamu berada di waktu pagi maka janganlah menunggu datangnya waktu sore. Gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan masa hidupmu sebelum kematian menjemputmu”.

☆ Ali bin Abu Thalib berkata:

“Dunia berjalan meninggalkan (manusia) sedangkan akhirat berjalan menjemput (manusia) dan masing-masingnya punya penggemar, karena itu jadilah kamu penggemar akhirat dan jangan menjadi penggemar dunia. Sesungguhnya masa ini (hidup di dunia) adalah masa beramal bukan masa peradilan, sedangkan besok (hari akhirat) adalah masa peradilan bukan masa beramal”.

☆ Anas berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah membuat beberapa garis, lalu beliau bersabda :

“Ini adalah manusia dan ini adalah angan-angannya dan ini adalah ajalnya ketika ia berada dalam angan-angan tiba-tiba datang kepadanya garisnya yang paling dekat (yaitu ajalnya)”.

• Allah Azza wa Jalla berfirman.

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.”

(QS. an-Nisa : 78)