Banyak orang membangun bisnis dengan maksud membangun kekayaan tetapi malah jatuh ke dalam lilitan hutang. Bisnis yang seharusnya menjadi mesin pencetak uang malah menjadi mesin pencetak masalah. Tidak sedikit kisah tentang pengusaha yang semula dikenal sebagai orang kaya namun hidupnya berakhir bangkrut dan jatuh miskin.  

Banyak pebisnis financially incompetence. Begitu mendapat masalah yang terpikir pertama kali adalah bagaimana mendapatkan easy money dengan cara hutang atau kredit.  Dia mengelola bisnis dengan uangnya bukan dengan skill dan kompetensi. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa 15% kesuksesan finansial merupakan hasil dari pengelolaan keahlian dan kompetensi, sementara 85% adalah hasil dari kemampuan berkomunikasi dengan orang lain yang dapat melahirkan kepercayaan dan penghargaan.

Hutang sering dianggap sebagai bagian dari kekayaan. “Hutang itu adalah ilusi kekayaan. Kekayaan yang sebenarnya dalam bisnis adalah asset dan uang cash bukan hutang.  Orang yang jatuh ke dalam lilitan hutang itu bukanlah kejadian yang tiba-tiba tetapi proses panjang. Penyebab utamanya adalah sikap abai atau tidak peduli. Mengabaikan masalah-masalah kecil, mentolerir pelanggaran dalam perusahaan dan abai terhadap sinyal-sinyal bahaya dalam bisnis.

Dalam konsep umum ada dua jenis hutang yaitu Investment Debt dan Consumer Debt, yang dapat kita analisa lagi apakah termasuk Good Debt atau Bad Debt.  “Good Debt adalah hutang yang akan membuat bisnis anda bertumbuh sedangkan Bad Debt adalah hutang yang harus anda tinggalkan”. Investment Debt  masuk dalam kategori Good Debt jika investasi itu dapat membayar dirinya sendiri. Namun jika Investment Debt tidak dapat membiayai dirinya lagi maka hutang ini harus segera ditinggalkan karena telah menjadi Bad Debt atau hutang yang buruk. Dalam literatur Islam kita mengenal “Riba” yang memang harus kita tinggalkan, karena tidak ada satupun yang sungguh-sungguh sukses membangun bisnis dan hidupnya dengan menggunakan riba. Untuk seorang muslim syariah itu suatu keharusan. Syariah dan riba itu adalah mentalitas. Riba itu semangatnya keserakahan, eksploitasi dan penjajahan, sedangkan syariah itu adalah tolong menolong dan saling membantu.

Kapan kita berhutang? Saat yang tepat mengambil hutang  adalah ketika  perusahaan dalam posisi growth atau bertumbuh. Tapi jangan sekali-kali berhutang ketika perusahaan dalam keadaan down. “Dalam posisi growth debt is your friend, tapi ketika perusahaan down turnaround cash is your friend. Hanya dengan sedikit keserakahan yang ada dalam diri kita, dan sejumput rayuan untuk mengambil uang mudah, cukup untuk membuat kita jatuh dalam lilitan hutang. Apalagi hutang itu Bad Debt atau hutang yang buruk yang membuat kita seperti budak yang hilang kemerdekaannya.  Karena Bad Debt is Slavery.

Oleh : Arief Budi Pietoyo, SE, MM

Silahkan Di Share, jika Artikel Ini Bermanfaat !
0Shares
0Shares