Keilmuan memang menjadi pokok dari sebuah amal. Dengan ilmu kita mendapatkan petunjuk penerangan dalam aktifitas hidup, tanpa ilmu dalam beramal akan mejadi tersesat dan sporadis. Semua apa yang kita lakukan mesti kita “ilmui” agar lebih tepat dan bijak serta lebih bermanfaat. Namun, saat sudah mendapatkan ilmu, tidak tepat jika semakin memaki, mencela dan merendahkan saudaranya dengan kata-kata maupun sikap. Jika seseorang tahu tentang satu ilmu dan mengamalkannya, terus melihat saudaranya belum melakukan apa yang diamalkan, jangan mencela. Bijaklah, ilmu itu diuji dengan amal dan amal itu diuji dengan ikhlas dan riya’.

Rasulullah memerintahkan para shahabatnya untuk bersikap tawadhu’. Iyad bin Himar menceritakan bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ , وَ لاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan hati sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berlaku zhalim atas yang lain.” (H.R. Muslim no. 2588)

Rasulullah Sholallahu Alaihi wassallam sendiri teladan orang paling berilmu, tapi tawadhu’ kepada sahabat-sahabatnya. Jauh dari sikap sombong dan semakin tawadhu’ kepada manusia serta hebatnya semakin merasa rendah diri kepada Allah. Padahal, surganya jelas, jaminan ampunan dosa sudah jelas. Namun, ibadahnya ikhlas dengan kualitas dan kualitas yang meningkat. Subhanallah..

Ulama’ adalah simbol orang yang berilmu. Cirinya semakin tawadhu’ dan takut kepada Allah. Oleh karena itu, siapapun yang kita lihat ulama’ pastikanlah ia semakin takut kepada Allah, tidak mudah berfatwa kecuali dasar ilmunya jelas.

Mari semakin tawadhu’ walaupun ilmu dan amal semakin bertambah dan berkualitas. Apalah artinya amal tanpa ilmu, amal tanpa ikhlas dan amal bercampur riya’ serta beramal tapi masih mencela saudaranya.