Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa pada malam nanti akan terjadi fenomena langka yakni gerhana bulan atau peristiwa terhalangnya cahaya matahari. Fenomena yang dikenal dengan nama trilogi supermoon tersebut dikatakan langka karena pada saat itu berlangsung tiga peristiwa alam secara bersamaan, mulai dari Supermoon, Blue Moon, dan Gerhana Bulan Total.

Gabungan peristiwa itu yang membuatnya dinamakan Super Blue Blood Moon atau gerhana bulan biru kemerahan. Pada saat itu bulan akan berada pada titik terdekat dengan bumi. fenomena alam ini merupakan fenomena yang biasa namun langka. Kejadiannya 100 tahun lebih, bahkan yang terakhir 150 tahun yang lalu. peristiwa langka ini bisa disaksikan pada pukul 17.00-23.00 WIB, Puncaknya pada pukul 20.29 WIB.

RASULULLAH ﷺ menganjurkan kepada kita, sebagai kaum Muslimin agar mengerjakan shalat, ketika terjadi gerhana. Baik itu gerhana matahari maupun gerhana bulan. Adapun shalat yang dilakukan, ternyata memiliki tata cara yang berbeda. Shalat gerhana tidaklah sama seperti shalat wajib dan sunnah lainnya. Lalu, seperti apa shalat gerhana itu?

Tata cara shalat gerhana ialah kaum Muslimin berkumpul di masjid tanpa adzan dan iqamah. Tidak ada salahnya kaum Muslimin dipanggil dengan panggilan, “Ash-shalatu jami’ah.” Kemudian shalat dua rakaat. Dan pada setiap rakaat terdapat dua ruku dan dua sujud dengan memanjangkan bacaan, ruku dan sujud. Jika gerhana selesai di tengah-tengah shalat, maka mereka boleh menyempurnakannya seperti shalat sunnah biasa.

Dalam shalat gerhana tidak ada khutbah. Namun, imam diperbolehkan menasihati jamaah, karena itu baik sekali. Aisyah RA berkata, “Matahari mengalami gerhana semasa hidup Rasulullah ﷺ , kemudian Rasulullah berangkat ke masjid. Beliau berdiri, kemudian bertakbir, dan para sahabat berbaris di belakang beliau.

Dalam shalatnya Rasulullah ﷺ membaca surat panjang, kemudian bertakbir, kemudian ruku’ lama sekali namun lebih cepat daripada bacaan di rakaat pertama, kemudian mengangkat kepalanya sambil berkata, ‘Sami allahu liman hamidahu, rabbana lakal hamdu,’ kemudian berdiri dan membaca surat panjang namun lebih pendek daripada surat pada rakaat pertama.

Kemudian bertakbir. Kemudian ruku dengan ruku yang lebih cepat daripada ruku pertama. Kemudian berkata, “Sami allahu liman hamidahu, rabbana lakal hamdu,’ kemudian sujud. Kemudian berbuat seperti itu pada rakaat berikutnya, hingga genap empat ruku dan empat sujud. Lihat Selengkapnya mengenai Tata Cara Shalat Gerhana

Gerhana selesai sebelum Rasulullah ﷺ keluar dari masjid. Kemudian beliau berdiri, berkhutbah kepada manusia. Beliau menyanjung Allah dengan apa yang layak Dia miliki.

Kemudian bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dan keduanya tidak gerhana karena kematian seseorang atau kehidupannya (kelahirannya). Jika kalian melihat gerhana, maka segeralah shalat’,” (Diriwayatkan Muslim).

Shalat gerhana bulan tidak berbeda dengan shalat gerhana matahari. Sebab, Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika kalian melihat gerhana, maka segeralah shalat,” (Diriwayatkan Muslim).

Hanya saja sebagian ulama berpendapat bahwa shalat gerhana bulan itu seperti shalat-shalat sunnah lain, yaitu dikerjakan sendiri-sendiri di rumah-rumah, atau di masjid-masjid, dan tidak dilaksanakan secara berjamaah. Sebab, tidak ada dalil yang menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan shalat gerhana bulan seperti yang beliau perbuat di shalat gerhana matahari.

Inilah, namun permasalahannya itu luas. Jadi, siapa yang ingin melaksanakan shalat gerhana bulan dengan berjamaah maka silahkan. Dan barangsiapa yang ingin melaksanakannya sendiri-sendiri maka silahkan. Karena yang diperintahkan adalah kaum Muslimin segera shalat; laki-laki dan wanita, agar Allah segera menyingkap kembali gerhana tersebut.