Ummat Islam bangsa Indonesia merupakan ummat terbesar di dunia, yang notabene ± 85 % jumlah ummat islam Indonesia, dari jumlah ± 230 juta jiwa. Maka potensi zakat di Indonesia sangatlah besar, berdasarkan lembaga Baznas, tercatat potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 217 triliun, di mana nilai ini jika dikelola secara maksimal hampir setara dengan 10 persen APBN. Hal inilah yang menginisiasi Baznas dan World Zakat Forum (WZF) menggelar konferensi internasional “3rd World Zakat Forum 2017” di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta. Hal ini akan banyak menjadi solusi yang sangat strategis bagi berbagai permasalahan bangsa ini, mulai dari pengangguran yang menurut data BPJS 5,33 %. Oleh karena itu mari kita berusaha megentaskan kefakiran melalui berjihad dengan zakat. Berikut ini yang harus kita lakukan untuk berjihad dengan zakat :

MEMASYARAKATKAN ZAKAT
Sadar zakat tidak semua dipahami oleh musmilin. Maka transformasi keilmuan tentang zakat, cara penghitungan zakat, marilah terus dilakukan oleh amil-amil zakat. Sehingga masyarakat melek zakat, mungkin zakat fitrah memahami, tapi belum tentu juga paham lalu mengamalkan. Inilah fungsi amil zakat memberikan kepahaman yang dalam. Dengan demikian wajib bagi amil zakat untuk paham detail tentang zakat, infaq, shodaqoh dan sejenisnya. Jangan sampai para amil zakat tidak memahami saat diminta pemahaman tentang zakat. Untuk memasyarakatkan zakat, tentu jangan dimulai dari mana-mana, tapi dari diri dan kelarganya terlebih dahulu. Melatih anaknya untuk belajar berinfaq sejak dini akan memberikan dampak yang bagus kedepannya. Kegiatan pembelajara ini bisa dengan menyiapkan kotak infaq dirumah, atau bisa dengan mengajarkan saat ke masjid, atau bisa juga mengajak anak-anak kita ke Panti Asuhan. Ini menumbuhkan empati bagi anakanak kita. Adapun tentang keilmuan tentang zakat, kita sampaian yang ringan yang mudah dimengerti olehnya, misal tentang zakat fitrah yang tiap tahun kepala keluarga wajib mengeluarkan zakat untuk anggota keluarga termasuk anak-anaknya.

PENGELOLAAN DENGAN BENAR DAN TRANSPARAN
Lembaga Amil Zakat (LAZ) menjadi saluran zakat yang dipercaya oleh masyarakat. Maka sudah seharusnya melakukan pengelolaan zakat, yang meliputi penerimaan dan penyaluran dengan sistem yang benar dan transparan. Baik dalam hal pelayanan, administrasi maupun dalam mempublish penerimaan dan penyaluran zakat kepada masyarakat yang 16 Juni 2017 17 Yayasan Suara Hati tepat sasaran dans sesuai syariat yang ditetapkan. Pentingnya pengelolaan zakat dengan benar dan transparan akan menimbulkan trust yang kuat kepada masyarakat sebagai muzakki (yang berzakat). Sistem pengelolaan tentu membutuhkan managemen yang mumpuni, inilah sebabnya saat ini Lembaga Amil Zakat sudah banyak yang mengadopsi sistemsistem managemen modern guna mengangkat dan mengembangkan LAZ seperti corporatedalam memanagemen sistem SDM dan pelayanannya.

MEMBANGUN JARINGAN SISTEM ZAKAT YANG RELEVAN
Informasi yang super cepat, kini mengharuskan bagi segenap Lembaga Amil Zakat untuk menyesuaikan keberadaannya. Karena jika tidak, akan mengalami stagnasi dan jalan ditempat. Karena salah satu ciri masyarakat modern adalah kecepatan dan kepuasan. Dengan demikian jaringan sistem yang kekinian menjadi syarat mutlak untuk mengembangkan keberadaanya. Mulai dari ofline maupu online. Media sosial yang begitu deras banyak mempengaruhi persepsi sosial dan media cetak maupun elektronik pun turut menyumbang pertimbangan-pertimbangan sikap masyarakat dalam memilih jalan atau cara menyalurkan zakatnya.

KREATIF DALAM PEMBERDAYAAN ZAKAT UNTUK MASALAH UMMAT
Kalau kita tidak ingin hidup dalam kebosanan, maka kreatiflah. Nah, pemberdayaan zakat itu tentu harus tepat sasaran dan sesuai peruntukannya menurut syariat. Untuk mendekatkan kepada tepat sasaran dan kesessuaian syariat dibutuhkan identikasi akurat dan keilmuan yang dalam. Pemberdayaan zakat menjadi sangat penting bagi yang menyalurkan zakatnya kepada Lembaga Amil Zakat, karena dari sini akan menambahkan kepercayaannya, keyakinannya dan lebih menenteramkan baginya. Identifikasi masalah yang tepat dan penerapan yang kreatif akan membawa dampak yang lebih diterima oleh masyarakat dan mudah membawa dampak syiar yang besar terhadap perihal zakat. Oleh karena itu sebelum menyalurkan zakat masailul amah (masalah-masalah ummat) hendaknya sudah dipahami. Mengingat zakat yang diberikan kepada 8 asnaf bisa langsung dirasakan sebaimana peruntukannya seagaimana dalam QS At Taubah ayat 90. Adapun rinciannta sebagai berikut :

1. Fakir : orang yang tidak berpenghasilan
2. Miskin : orang yang berpenghasilan redah, sehigga tidak mencukupi kehidupannya
3. Amil : semua pihak yang terlibat dalam pengelulaan zakat
4. Mu’alaf : orang yang hedak masuk islam dan yang baru masuk islam
5. Riqob : untuk menghilangkan perbudakan atau penjajahan
6. Ghorim : orang yang mengalami kebangkrutan, terlilit hutang
7. Sabilillah : kepentingan jalan Allah
8. Ibnu sabil : anak jalanan, orang dalam perjalanan yang sangat membutuhkan

Adapun infaq peruntukannya lebih luas kepada orang tua, kerabat, anak-anak yatim, anak jalanan dan kepentingan jalan Allah sebagaimana dalam QS A Baqoroh ayat 215.
Permasalahan ummat yang sebenarnya bisa kita kategorikan dalam dua hal yakni yang bersifat lahiriyah dan bathiniah, kesejahteraan fisik dan psikologis. Salah satu contoh bencana kemanusiaan tidak hanya membutuhkan kebutuhan fisik, namun juga kebutuhan bathin. Orang miskin tidak hanya membutuhkan dana riil, tapi juga perlu menthor untuk membangun usahanya. Mu’alaf justru membutuhkan support mental yang mengokohkan imannya, maka tidak harus berupa kebutuhan uang, namun keilmuan dan pemahaman keagamaan sangat membantu untuk melembutkan hatinya.

BERMITRA DENGAN DESA SETEMPAT
Zakat seharusnya menjadi solusi ditempat pengelolaannya. Maka kemitraan dengan desa setempat akan memberikan dampak saling bermanfaat. Masyarakat yang dalam masalah kehidupannya akan mendapat solusi dari pegelola zakat dan pemerintah desa mensupport warganya untuk berzakat. Manfaat timbal balik ini hendaknya disadari jika saling bersinergi. Dengan demikian kehidupan masing-masing desa yang menerapkan zakat akan sangat terasa manfaatnya. Berjihad dengan zakat tidak akan ada ruginya, bagi pemerintah sudah saatnya menjadikan zakat sebagai solusi ummat, bagi ummat islam jelas merupakan kewajiban sebagaimana ketentuannya dan bagi pengelola zakat sudah seharusnya menyalurkan secara merata dan berdasarkan identifikasi masalah yang obyektif, terutama ke lingkungan setempat yang paling membutuhkan. Jika pemerintah desa, pengelola zakat dan ummat saling sinergi maka desa yang merupakan pemerintah paling bawah akan lebih produktif dan mudah menyelesaikan masalah-masalahnya. Wallahu a’lam.