Bangun pagi lalu menyiapkan sarapan dan juga keperluan sekolah untuk adik – adiknya, itulah kegiatan harian yang sudah biasa di lakukan oleh Mua semenjak ibunya meninggal. Siti Muarofah, nama lengkapnya, lahir di Sidoarjo, 13 Januari 1995. Anak ke- dua dari empat bersaudara pasangan buah hati dariBapak Mustofa dan Ibu Siti Fatimah (almh) ini tergolong sebagai anak yang tegar dan sabar.

 “Memiliki hobi memasak ternyata sangat membantu”, ungkapnya. Ya,semenjak ibunya meninggal ia harus mengambil peran sebagai ibu untuk mengurus adik – adiknya dari bangun tidur hingga tidur lagi. Seorang kakak sekaligus juga sebagai ibu bagi adik – adiknya, itulah yang di rasakannya selama dua tahun terakhir ini. Terlihat sekali begitu manjanya sang adik di pelukan kakaknya saat iadiwawancarai.

Ketika ditanya tentang sosok seorang ibu bagi Mua, ia langsung menangis dan terdiam seperti mengenang. “Bagi saya sosok ibu adalah seperti seorang teman dan juga orang tua yang perkasa, ibu meninggalkan kami begitu cepat,” tegasnya. Serangan jantunglah yang mengantarkan ibunya berpulangmemenuhi panggilan sang khaliq.

Mua  yang meneruskan pendidikannya di SMA YPM 2 Sukodono ini bercita – cita ingin menjadi seorang Guru IPA, walaupun bapaknya adalah seorang pekerja serabutan yang belum jelas pendapatan tiap harinya. “Allah memang maha adil walaupun hidup sederhana tapi kami tetap merasa cukup karena kami selalu mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kami”, ungkapnya . Akan tetapi harapan yangpaling besar baginya adalah ingin menghantarkan adik – adiknya menjadi generasi bangsa yang membanggakan, dengan cara menjadi seorang ibu yang baik , sabar dan tegas bagi adik – adik yang disayanginya.

Allah maha kaya lagi maha perkasa. Semoga di Bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan ampunanini bisa menjadi pintu taubat dan juga dikabulkannya permohonan kita. Dan Mua yakin Allah akan mengabulkan semua keinginannya. Amin. (ita)