Oleh : Sujali, S.S

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَاقَوْمِ ٱذْكُرُواْ نِعْمَةَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَآءَ وَجَعَلَكُمْ مُّلُوكاً وَآتَاكُمْ مَّا لَمْ يُؤْتِ أَحَداً مِّنَ ٱلْعَالَمِينَ

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain.”  (QS. Al Maidah [5] ayat 20)

Merdeka berarti harus membangun
bukan untuk pribadi atau golongan
makmur untuk semua adil untuk semua
hukum pun berlaku untuk semua

merdeka bukanlah bebas tanpa hukum
merdeka bukanlah menang berkuasa
merdeka berarti bersatu membangun

Allah mencintai umat yang membangun
Allah membenci umat yang membuat rusak.

Lirik lagu di atas dipopulerkan oleh group band wanita terkenal di Indonesia, ya,  Nasida Ria dari Semarang. Lirik lagu yang sangat luar biasa untuk menggambarkan bagaimana mengisi kemerdekaan, yaitu membangun negeri dengan lebih baik. Terlebih penguatan hukum yang harus proporsional berlaku bagi semua lapisan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu membangun bermakna juga tidak merusak yang bersifat menghancurkan berkeping tak bermanfaat. Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah [2] ayat 11 :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُون 

Artinya : Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kalian merusak di bumi,” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami (adalah) orang yang membangun.” 

 

Sudahkah kita turut membangun untuk kemakmuran bangsa dan negara? Apakah kita termasuk orang- orang yang dicintai Allah  (umat yang membangun), ataukah termasuk orang- orang yang dibenci oleh Allah (umat yang membuat rusak).

Merdeka memiliki beragam makna. Dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada Tahun 1945, Sang Proklamator tidak secara tegas menerangkan apa makna kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia. Namun dalam pernyataan tertulis menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia, tentu yang dimaksud adalah kemerdekaan dari penjajahan Jepang. Oleh karena itu, makna kemerdekaan bagi Rakyat Indonesia merupakan tugas para generasi setelahnya untuk menjawabnya. Hal ini telah dijabarkan dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan adalah pintu gerbang menuju cita-cita kebangsaan dan keindonesiaan yang sejati.

Apa makna kemerdekaan bagi kita? Sebagai bagian terbesar dari Bangsa Indonesia, Umat Islam dapat mengambil makna kemerdekaan tersebut dari AlQur’an. Dalam kitab suci ini ditunjukkan berbagai kisah kemerdekaan orang-orang terdahulu yang dapat mengilhami kita, bagaimana seharusnya menjadi bangsa merdeka di era globalisasi.

Pertama : Merdeka dari orientasi hidup (keyakinan) yang keliru.

Makna kemerdekaan dapat diambil dari kisah Nabi Ibrahim ketika ia membebaskan dirinya dari orientasi asasi yang keliru dalam kehidupan manusia. Dalam Surat Al-An’am Ayat 76-79 dikisahkan perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan. Pencarian spiritual tersebut merupakan upaya Ibrahim dalam membebaskan hidupnya dari orientasi hidup yang diyakininya keliru, namun hidup subur dalam masyarakatnya. Seperti diketahui, masyarakat Ibrahim saat itu menyembah berhala. Bagi Ibrahim, penyembahan terhadap berhala merupakan kesalahan besar. Sebab manusia telah melakukan penghambaan yang justru menjatuhkan harkat dan martabat dirinya sebagai manusia.

Bentuk penghambaan yang menjatuhkan harkat-martabat manusia seperti itu juga terjadi pada era modern. Penghambaan terhadap materialisme dan hedonisme telah mengantarkan manusia modern untuk melakukan korupsi tanpa perasaan bersalah, mengorbankan nyawa-nyawa tak berdosa, menghalalkan berbagai cara untuk meraih kursi dan posisi, dan seterusnya. Penghambaan-penghambaan yang demikian bukan hanya melukai harkat-martabat manusia, namun juga menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, yang hakikatnya menjadi tujuan dari proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Kedua : Merdeka dari kedzoliman penguasa.

Makna kemerdekaan juga dapat dipetik dari kisah Nabi Musa ketika membebaskan bangsanya dari penindasan Firaun. Kekejaman rezim Firaun terhadap bangsa Israel dikisahkan dalam berbagai ayat Alquran. Rezim Firaun merupakan representasi komunitas yang menyombongkan diri dan sok berkuasa di muka bumi. Keangkuhan rezim penguasa ini membuat mereka tak segan membunuh dan memperbudak kaum laki-laki bangsa Israel dan menistakan kaum perempuannya. Keangkuhan inilah yang mendorong Musa tergerak memimpin bangsanya untuk membebaskan diri dari penindasan, dan akhirnya meraih kemerdekaan sebagai bangsa yang mulia dan bermartabat (QS Al-A’raaf [7] ayat 127, Al-Baqarah [2] ayat 49, dan Ibrahim [14] ayat 6).

Mengakhiri keangkuhan seperti halnya kisah sukses Nabi Musa, Proklamasi Tahun 1945 hakikatnya juga merupakan momen yang mengakhiri episode keangkuhan dan penindasan rezim kolonial. Sebuah keangkuhan yang membuat bangsa kita miskin dan terhina selama ratusan tahun. Namun jangan lupa, berakhirnya keangkuhan dan penindasan rezim kolonial tidak serta merta membebaskan Rakyat Indonesia dari keangkuhan dan penindasan rezim lain dalam bentuk yang berbeda.
Tugas terberat dari sebuah bangsa merdeka sesungguhnya adalah bagaimana mempertahankan kemerdekaan dirinya sebagai bangsa merdeka, serta bebas dari hegemoni internal dan eksternal yang menindas. Merdeka dari hegemoni penindasan internal berarti bebas dari penguasa-penguasa pribumi yang bertindak dan bertingkah laku laksana penjajah asing (dzolim).

Kita memerlukan pemerintahan yang sayang dan cinta kepada rakyatnya sendiri dalam bentuk dan tindakan nyata. Merdeka dari hegemoni eksternal artinya bebas dari pengaruh dan tekanan asing (terutama di bidang politik, ekonomi, dan budaya). Bangsa yang merdeka, namun di bawah tekanan politik negara lain, sesungguhnya bukan bangsa yang merdeka. Bangsa yang merdeka, tapi menyerahkan pengelolaan sumber daya alamnya kepada pihak asing tanpa share yang adil, bukan pula bangsa yang merdeka. Bangsa yang merdeka, namun sangat inferior terhadap identitas budaya bangsa lain, bukan pula bangsa yang merdeka. Kemerdekaan bagi bangsa Indonesia haruslah kemerdekaan yang holistik dan integral dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketiga : Merdeka dari diskriminasi.

Kisah sukses Nabi Muhammad dalam mengemban misi mulianya di muka bumi (QS Al-Maa’idah [5] ayat 3) menjadi sumber ilham yang tak pernah habis bagi Bangsa Indonesia untuk memaknai kemerdekaan secara lebih menyeluruh dan sesuai dari segala aspek kehidupan. Ketika diutus 14 abad silam, Nabi Muhammad menghadapi sebuah masyarakat yang mengalami tiga penjajahan sekaligus: disorientasi hidup, penindasan ekonomi, dan kezaliman sosial. Disorientasi hidup diekspresikan dalam penyembahan patung oleh masyarakat Arab Quraisy.

Rasulullah berjuang keras mengajarkan kepada umat manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan ‘’tuhan-tuhan’’ yang menurunkan harkat dan derajat manusia (QS Luqman [31] ayat 13; Yusuf [12] ayat 108; Adz-Dzaariyaat [51] ayat 56; Al-Jumu’ah [62] ayat 2). Penindasan ekonomi dilukiskan AlQur’an sebagai sesuatu yang membuat kekayaan hanya berputar pada kelompok-kelompok tertentu saja (QS Al-Hasyr:7). Rasulullah mengkritik orang-orang yang mengumpulkan dan menghitung-hitung harta tanpa mempedulikan kesejahteraan sosial dan keadilan ekonomi (QS Al-Humazah [104]  ayat 1-4; Al-Maa’uun [107] ayat 2-3).

Rasulullah mengkampanyekan pembebasan budak, kesetaraan laki-laki dan perempuan, dan kesederajatan bangsa-bangsa. Dalam khutbah terakhirnya di Arafah, saat haji wada’, beliau menegaskan bahwa tak ada perbedaan antara hitam dan putih, antara Arab dan non-Arab. Semuanya sama di mata Tuhan. Tidak ada celah yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya, kecuali tingkat ketakwaan mereka kepada Tuhan-Nya (QS Al-Hujuraat [49] ayat 13). Apa makna kemerdekaan bagi kita? Sebagai bagian terbesar dari Bangsa Indonesia, Umat Islam dapat mengambil makna kemerdekaan tersebut dari AlQur’an. Alangkah indahnya jika Bangsa Indonesia mampu memaknai kemerdekaannya seperti yang diilhamkan Alquran. Rakyat merasakan kemerdekaan ekonominya dan meraih kesejahteraan bersama.

Tidak ada lagi penghisapan ekonomi, baik oleh oknum pribumi maupun pihak asing. Seluruh warganegara Indonesia sama kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan. Kemerdekaan tidak hanya dirasakan oleh manusia-manusia Indonesia di Jawa, namun juga manusia-manusia Indonesia di Aceh, pedalaman Irian Jaya, serta pulau-pulau terpencil. Manusia Indonesia di wilayah-wilayah ini harus dapat merasakan kemerdekaan yang ikhlas dan sejati, bukan kemerdekaan yang terpaksa dan semu.