وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِين

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (QS. Al Hajj : 34)

Apa saja yang kita dapat ada, harusnya ada yang kita beri. Itu seimbang. Ada karunia Allah, maka ada yang harus kita korbankan untuk jalan Allah. Ada yang ita makan ada pula yang harus kita buang. Jika tidak kita buang, maka akan ada masalah dengan tubuh kita. Bahkan aWpa yang akan kita makan, jangan sampai ada hak selain tubuh kita yang kita konsumsi. Berkorban merupakan keniscahyaan, bukan paksaan dan sesuatu yang dipaksakan, merupakan amalan yang semestinya dilakukan. Jika tidak dilakukan, maka akan sama dengan kita makan dan minum tapi tidak pernah buang air besar atau buang air kecil. Oleh karena itu segenap syariat dalam konteks sosial yang di perintahkan Allah kepada hambaNya adalah sebagai keseimbangan diri, sebagai sarana menyelamatkan, menyehatkan dan bernilai baik untuk dirinya dan orang lain. Oleh karena itu upaya ikhlas menuju syariat itulah yang dinilainya, bukan besar kecilnya, bukan daging dan darahnya yang akan sampai kepada Allah. Tapi ketaqwaan meraihnya, kesungguhan menunaikan syariatNya.

Menjadi Pejuang Syariat Qurban.
Syariat Allah yang diperintahkan Allah pasti bernilai positif, pasti mengandung kebaikan dan menyimpan hikmah yang menguntungkan. Maka untuk itu, wajib bagi kita untuk tunduk dan patuh kepada syariat yang di tetapkan Allah. Namun, untuk menjadi pejuang yang tunduk dan patuh kepada syariat membutuhkan bimbingan. Dalam firman Allah ( / Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban) menurut kitab tafsir Ibnu Katsir dari Ali ibnu Thalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan mansak ialah hari raya. Maka saat penyembelihan hewab qurban wajib menebut nama Allah sebagaimana lanjutan firman di atas. Baiklah, kita akan coba menyentuh jiwa pejuang kita terutama jiwa pejuang syartiat qurban dengan beberapa tuntunan berikut ini :

1. Kokohkan Sembahan kita adalah Tuhan Yang Maha Esa
Mengokohkan hati bahwa Allah Yang Maha Satu itu pasti memberikan bimbingan bahgi hambaNya yang mau melaksanakan syariatNya. Maka pertama-tama libatkan Allah dalam kehendak untuk berjuang dalam berqurban. Tujuan berqurban bukan karena siapa-siapa, bukan untuk benda-benda yang diberhalakan, bukan riya’, bukan karena pujian, tapi benar-benar berqurban untuk keridhoan Allah. Sebagaimana Allah firmankan dalam QS Al Baqarah ayat 207 :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Hanya ridho Allah Yang Maha Esa itulah orientasi berqurban, lillah (karena Allah). Karena munculnya perintah qurban ini juga menegaskan agar meninggalkan budaya-budaya lama yang mengorbankan sesuatu untuk berhala-berhala, gunung, pohon laut dan lain sebagainya. Yang kesemuanya itu adalah makhluk Allah bukan Khalik. Oleh karena itu sebagai upaya meraih kerelaan Allah terhadap amalan kita, maka lakukanlah qurban. Harus ada nilai pengorbanan untuk melakuan syariat qurban, kalau ingin mendapatkan keridhoa Allah, bukan putus asa sebelum mencoba, bahkan tidak boleh kita tidak punya keinginan untuk tidak berqurban.

2. Berserah diri
Saat sudah ada kehendak ingin mendapatkan ridho Allah Yang Maha Esa dengan syariat Qurban. Maka selanjutnya, berserah dirilah kepada Allah, nanti Allah yang akan membimbing niat kita kepada action dalam mewujudkan kehendak qurban itu. Berserah diri, bukan diam dan bukan tidak melakukan apa-apa. Yang pasti, setelah kita ada niat, akan ada bimbingan Allah dan pengingat dari Allah untuk melakukan kehendak itu. Dan terutama jalan yang berupa sarana untuk mewujudkan tertunainya kehendak kita. Taslim kepada Allah itu rela-serela relanya dengan perintah Allah, rela-selera leranya dengan kehendak baik karena Allah, rela dengan perintah Allah dan ketetapan Allah.

3. Positif Thinking atas ketundukan dan kepatuhan kepada Syariat.
Jangan ada sedikitpun pikiran negatif terhadap perintah Allah, karena Allah tidak mungkin mencelakakan hambaNya, karena Allah tidak mungkin menjerumuskan hambaNya dengan perintah/syariatNya. Berfikirlah positif terhadap syariat Allah, karena memang itu untuk kebaikan kita. Dan memang karena Allah memberikan kabar gembira, kabar yang indah untuk hambaNya yang tunduk dan patuh kepada syariat yang Allah tetapkan. Dan siapakah orang-orang yang Muhkbitin (yang tunduk dan patuh) itu, ini dijawab Allah dalam ayat berikutnya di surat Al Hajj :

الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orangorang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka (QS AL Hajj : 35).

Nah, sangat jelas bahwa para pejuang syariat qurban adalah orang yang gemertar hati saat disebut nama Allah (bergegas hati dan langkahnya untuk memenuhi panggilan Allah). Selajutnya para pejuang qurban itu akan terlatih dengan training sabar, apapun yang menimpanya. Kemudian tentu sholatnya akan terjaga dengan baik dan ia akan selalu melanjutkan kebiasaan baik lainnya yakni menginfaqkan hartanya pada setiap anugerah yang diberikan Allah. Dengan demikian, para pejuang qurban adalah orang-orang yang tunduk kepada segenap syariat Allah. Nah, feel qurban itu akan muncul dari getaran hati atas asma Allah yang dibaca, atas sholat yang dikerjakan dan atas infaq yang dikeluarkan. Mari berqurban, sesungguhnya Allah itu akan memampukan siapa saja yang memiliki kehendak berqurban. Niat, kuatkan lalu tawakal kepada Allah. Tidak ada yang tidak mungkin jika bersama Allah, tidak ada yang tidak bisa jika bersma Allah dan tidak ada yang tidak terjadi, selain kehendak Allah. Wallahu a’lam.