Gelora semangat anak muda selalu mewarnai setiap degup perubahan di sebuah bangsa. Di Indonesia sendri, gerakan pemuda pada ujungnya adalah tercetusnya proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus. Pun juga perjuangan dakwah Rasulullah SAW yang didukung oleh sebagian besar anak-anak muda. Tengoklah 10 sahabat yang di jamin masuk surga (Assabikunal awwalun) 3 diantaranya berusia diatas 30 dibawah 40 tahun, 2 sahabat berumur 20-30 tahun dan 5 orang di bawah 20 tahun. Abu Bakar As Sidoq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalin, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Al Jarrah, Thalkah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqash dan Said bin Zaid .

Ini menandakan bahwa anak muda memiliki peran besar terhadap perubahan. Karena anak muda merupakan kekuatan yang tak terbantahkan. Namun semua itu jika diberikan kesempatan dalam mengubah kehidupan yang lebih maju, jika tidak sejarah membuktikan mereka akan melakukannya dengan cara yang menurut mereka anggap benar, walaupun dalam tataran generasi sebelum mereka adalah tidak baik. Inilah perlunya sinergi generasi yang lebih kenyang pengalaman dengan generasi muda. Dengan demikian perlu adanya save pemuda. Agar perannya yang begitu besar dapat terberdayaan demi kemajuan, demi kehidupan yang lebih baik dalam berbangsa dan bernegara. Namun terkadang, dalam persepsi kita anak muda adalah dekadensi moral, emosiaonal, foya-foya dan minim pengalaman.

Tengoklah cara Rasulullah memperlakukan pemuda, sehingga semua pemuda merasa diistimewakan. Sebagaimana Rasulullah SAW mengajak Usamah bin Zaid yang masih berumur 18 tahun membuka pintu ka’bah pasca kemenangan besar “Fathul Makkah” tahun 8 H. Ini bukti nyata Rasulullah SAW saja memberikan kesempatan kepada pemuda, bagaimana kita tak mau memberikan kesempatan. Sebenarnya apa saja untungnya jika perubahan itu melibatkan pemuda ?.

MEMBERIKAN IDE YANG FRESH

Ibarat flasdisk kapasitasnya masih berjutajuta giga. Maka pemuda itu idenya segar dan brilliant. Namun terberdayakan atau justru ide dan gagasannya di gantung karena tak ada kesempatan yang di berikan. Yang kalau di biarkan akan menjadi bom waktu melakukan tindakan-tindakan yang diliuar kontrol. Inilah perlunya fasilitator, Abdullah bin Abbas, anak didik nubuwah ini banyak di berikan kesempatan oleh Rasullah SAW dan para sahabat selanjutnya. Sebut saja Umar bin Khatab yang memberikan amanah sepadan dengan dewan pertimbangan presiden. Selama Umar bin Khatab mengalami masalah berat, selalu Abdullah bin Abbas yang dimintai pendapat.

MEMEGANG KENDALI TANGGUNG JAWAB DENGAN KUAT

Pemuda yang telah dibina dedikasinya dengan keilmuan yang matang. Akan sangat bertanggung jawab dengan amanah yang diberikan. Tengoklah Ali bin Abi Thalib yang diusia belia, harus menggantikan posisi tidur Rasulullah SAW yang pergi berhijrah. Resikonya adalah nyawanya, namun keberaniannya dengan keilmuan yang matang ia pun melakukan apa yang diperintahkan Rasul yang dicintainya. Tidak hanya itu amanahnya, Ali pun diberikan amanah untuk mengembalikan uang titipan orang qurais yang yakin menitipkan hartanya kepada Rasulullah SAW, walaupun tidak meyakini ajarannya.

MENCURAHKAN SEMANGAT YANG TOTAL

Pemuda tidak setengah-setengah saat diberikan kepercayaan. Salah satu cirinya adalah semangat yang membara jika sudah pas dengan hatinya. Namun juga bisa berbahaya jika tidak pas dengan kehendaknya. Disinilah perlunya pembinaan bukan di tinggalkan. Rasulullah mampu menangkap kemampuan dan semangat anak muda, sehingga semangat berkobar-kobar dalam menjalankan amanahnya. Semangatnya yang menggebu pin bisa mewarnai rekan lainnya.

MEMBERIKAN KEMAMPUAN TERBAIK

Sangat jelas, pemuda memiliki kemampuan lebih di banding anak-anak dan orang tua. Itu secara fisik. Walaupun memang terkadang generasi senior yang berjiwa muda juga ada. Namun kemampuan anak muda yang terasah akan memerikan dampak cepat dan kreatifnya sebuah amanah. Lihatlah Khalid bin Walid yang baru 3 bulan memeluk islam di berikan kepercayaan oleh Rasululla memimpin pasukan untuk menuju Makkah di tahun 8 H. Ia membayar kepercayaan Rasulullah dengan mengalahkan pasukan kafir di bawah pimpinan teman lamanya, Ikrimah bin Abu Jahal. Tidak hanya itu, Khalid bin Walid yang dijuluki “Pedang Allah” ini berani mengambil keputusan brilliant, yakni mengganti kepemimpinan, saat 3 panglima perang yakni, Zaid bin Tsabit, Ja’far bin Ubaidillah dan Abdullah bin Rowahah menemui syahid ketika melawan pasukan Romawi. Dan Khalid menerapkan strategi perang yang cerdas, hingga membuat pasukan Ramawi yang jumlahnya lebih banyak, justru kembali ke belakang.

Inilah pemuda, yang harus di jaga keberadaanya dengan diberikan kesempatan sesuai dengan kapasitasnya dan potensinya. Inilah pemuda yang lebih empatik kepada kebenaran, kritis terhadap keadaan dan sanggup memberikan yang terbaik bagi bangsanya. Baik pikiran, tenaga dan kemampuannya dalam bidang yang di kuasainya. Karena memberi kesempatan berarti menjaganya, memberikan kepercayaan berarti kita menjaga semnagatnya. Memberikan dukungan menggugah kemampuan terpendamnya.

Jadi tidak boleh kita membiarkan anak-anak muda lalai gara-gara gadgednya. Jangan samapai lalai dengan visinya. Karena ruh perubahan menggelora didadanya, ruh kebangkitan menyalanyala di hatinya. Jangan biarkan ia mencari pelindung di bawah lembah narkoba, lembah free sex dan lembah-lembah kemaksiatan dan kehura-huraan. Berilah tempat yang teduh, jangan mudah di tuduh. Berikan keteduhan nasehat penghakiman. Karena mereka sedang mencari jati diri mereka. Mereka suka mencoba hal-hal baru, fasilitasilah kemampuannya, jangan hanya dijadikan sasaran hujatan, tanpa memberikan tauladan dan kesempatan. Inilah pemuda kekuatan diantara dua kelemahan. Wallahu a’lam