Oleh : Ayu Citra Mayasari
(Dosen STIKES Surabaya)

 Para ahli mendapatkan kenyataan bahwa berbagai penyakit merupakan cetusan dari pengaruh berbagai keadaan mental (pikiran) negatif yang mendasarinya. Penyakit mempengaruhi manusia secara fisik, mental, emosional, dan bila penyakit itu cukup kuat, akan mempengaruhi juga rohani kita. Elen Schuman dalam bukunya, Cause in Miracles, lebih jauh mengatakan bahwa semua penyakit berasal dari rasa bersalah, kebencian, dan perasaan yang tidak bisa memberi ampunan. Temperamen kita tampaknya sudah melekat semenjak lahir. Sebagian dari kita ada yang tampak selalu bergembira, sementara yang lain kelihatan murung. Namun, bagaimana tanggapan kita terhadap ujian hidup akan mempengaruhi watak kita secara keseluruhan dalam bereaksi dan beraksi dalam menjalani kehidupan itu sendiri.

Penyebab Penyakit

Menurut terapi Gestalt yang diuraikan dalam buku Louis Proto, seseorang yang tidak bisa lagi tersenyum untuk orang lain, apalagi tersenyum untuk dirinya sendiri, berarti orang tersebut sudah mencanangkan dirinya membentuk “pabrik penyakit” di tubuhnya sendiri. Banyak sebab yang menjadikan seseorang tidak bisa lagi mengembangkan senyum tulus untuk orang lain, juga untuk diri sendiri, di antaranya memendam emosi sebagai berikut. Rasa bersalah yang berlebihan merupakan kebencian yang diarahkan terhadap dirinya sendiri. Rasa bersalah merupakan perasaan yang paling sia-sia dan salah satu perasaan yang paling merusak yang dapat kita miliki. Rasa iri hati membuat merasa kehidupan sendiri merupakan bentuk malapetaka yang harus dijalani.

Orang demikian terpaksa menjalani hidupnya dengan mendorong kereta kehidupannya di jalan berduri yang diciptakan sendiri. Rasa rendah diri terjadi ketika seseorang yang mengalaminya hidup seperti katak dalam tempurung, dia merasa aman di dalam tempurung dan merasa tertekan, merasa takut di luar tempurungnya. Itu membuatnya enggan keluar untuk melihat dunia luar yang memberinya banyak makna dalam hidupnya. Itulah beberapa faktor yang membuat seseorang tidak bisa lagi tersenyum pada diri sendiri maupun pada orang lain.

Hal itu menyebabkan sudut bibirnya membentuk menjadi turun ke bawah dan terlihat kusut masam dengan sorot mata yang sendu, terkadang ada juga yang bersorot mata bengis seolah memandang semua orang dengan sinis, dan merasa semua memusuhinya atau selalu mencelanya. Pada literatur kesehatan TAO, manusia diajarkan untuk serajin mungkin tersenyum pada diri sendiri termasuk kepada semua organ dalam tubuh kita.

Dalam tersenyum, organ dan anggota tubuh kita diajarkan juga untuk berterima kasih atas kerja sama semua anggota tubuh juga termasuk organ-organ kita ketika mereka semua membantu kita dalam menjalani kehidupan ini. Bayangkan jika satu organ mogok menjalankan tugasnya, pasti masalah bagi manusia itu sendiri, dan kemogokan itu banyak disebabkan oleh aliran energi yang tak terlihat, yaitu energi emosi (perasaan) yang menjalar bagai racun yang mematikan.

Penyakit sebagai Pelajaran

Dr Edward Bach, penemu energi bunga untuk pengobatan, mengemukakan dalam salah satu bukunya bahwa penyakit merupakan pengaruh dari berbagai keadaan mental negatif yang mendasarinya dan ditimbulkan oleh diri sendiri. Jika kita betul-betul tidak menikmati stres yang muncul dalam kehidupan sebagai tantangan, stres itu pun akan menekan dan mempengaruhi kekebalan tubuh dan mental kita, juga tingkat-tingkat energi, keadaan pikiran kita, juga mutu kehidupan kita. Penyakit merupakan pengalaman belajar, penyakit mempunyai maksudmaksud yang ingin diajarkan kepada kita dalam menjalani hidup ini. Pelajaran-pelajaran seperti apakah yang diajarkan penyakit kepada kita? Penyakit itu mengajar kita tentang keseimbangan dan perubahan, bagaimana kita hidup telah tidak seimbang dan berbagai perubahan yang perlu kita buat dalam gaya hidup, pola pikir kita agar keseimbangan bisa pulih kembali.

Tertawa Membuat Awet Muda

Tersenyum sampai tertawa lebar membuat perasaan bahagia menjalar ke seluruh tubuh. Dua orang peneliti, Darwin dan Hodgkinson, menjelaskan tentang otot zygomatik yang akan bergerak menarik sudut bibir atas dan bawah sampai ke tulang pipi sehingga tubuh menerima oksigen lebih banyak menumbuhkan perasaan lepas dan bahagia. Otot zygomatik itu akan mengkerut pada saat wajah dalam ekspresi sedih dan perasaan tertekan menyebabkan darah kekurangan oksigen yang menimbulkan perasaan depresi dan rasa tidak bahagia.

Oleh sebab itu, seseorang yang dalam keadaan tidak bahagia sering kali menghela napas panjang sebagai respons tubuh untuk mengambil oksigen lebih banyak. Nah berdasarkan hal tersebut, marilah kita sering tersenyum. Selain membuat pemandangan di dunia ini lebih indah, juga membuat Anda lebih sehat dan awet muda. Siapa tidak mau menjadi orang sehat, sukses, dan awet muda? Karena itu, tersenyumlah.

Selama tersenyum dengan tulus dan keluar dari jiwa yang sehat, senyum dan tawa menjadi obat yang mujarab, dan banyak survei yang mendapatkan kenyataan bahwa orang-orang ramah yang hidupnya dipenuhi dengan tersenyum menjadi orang-orang yang lebih sehat, lebih mujur, lebih maju, dan lebih bahagia. Tapi harus diingat juga kalau tertawa harus disesusaikan dengan kondisi. Yang penting jangan tertawa sendiri dan jangan tertawa yang berlebihan karena itu akan mematikan hati.{}