Oleh : Rofiq Abidin


 

وَآتُوا الْيَتَامَىٰ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ ۖ وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَىٰ أَمْوَالِكُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.
(QS. An Nisa’ : 2)

 



 Siapa yang ingin lahir dalam keadaan yatim?, atau saat masih kanak-kanak telah kehilangan salah satu orang tuanya. Tentu tidak semua menginginkan keadaan itu, maka bersyukurlah jika saat ini kita masih punya orang tua. Nabi kita Muhammad Shollahu ‘Alaihissalam adalah lahir dalam keadaan yatim, tak pernah merasakan belaian sang ayah, Abdullah bin Abdul Muthalib. Sehingga empatinya kepada anak yatim begitu besar. Beliau senantiasa memberikan perhatian besar kepada anak yatim, salah satu kisahnya saat menemukan anak dari Ja’far bin Abi Thalib menangis atas kematian ayahnya, Rasulullah menghiburnya dan memerintahkan para sahabat untuk datang kerumah Ja’far bin Abi Thalib yang baru saja syahid untuk membawa sesuatu kepada keluarganya. Inilah salah satu perhatian Rasulullah kepada anak yatim. Bahkan saat ada janda datang dengan anaknya yang masih kecil bernama Anas agar mengizinkan untuk tinggal bersamanya, Rasulullah mempersilahkan.

“Wahai Rasulullah, ini anakku Unais (Anas bin Malik), izinkanlah ia membantu segala keperluanmu setiap hari”. Pinta ibu yang janda ini kepada Rasulullah SAW agar anakknya menjadi Khodim di keluarganya.

Rasulullahpun mengizinkan Anas bin Malik membantu keperluannya. Yang selanjutnya menjadi salah satu sahabat belia yang meriwayatkan hadits paling banyak dari Madinah. Dan menjadi ulama’ yang disegani dikemudian hari, karena mendapat didikan langsung dari Rasulullah di majelis nabi. Tentu masih banyak anak-anak yatim yang mendapat perhatian langsung dari Rasulullah, yang menjadi panduan ilmu parenting bagi ummatnya dikemudian hari. Mari kita perhatikan Hadits riwayat Imam Al Bukhari berikut ini :

Dari Sahl bin Sa’ad r.a berkata:

“Rasulullah SAW bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggangkan keduanya.”.

Kecintaan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam kepada anak yatim memamng sungguh besar. Sehingga memaparkan siapa saja ummatnya yang mau memelihara anak yatim akan bersamanya di surga yang jaraknya sangat dekat, yakni antara jari tengah dan jari telunjuk. Namun memelihara anak yatim tentu membutuhkan kesabaran, karena ada yang timpang dari kasih sayangnya. Bahkan dalam memberikan bimbingan terhadap hartanya pun juga harus sesuai panduan wahyu. Ada beberapa hak anak yatim yang harus dijaga dalam pemeliharaannya diantaranya sebagai berikut :

 

1. Pendidikan

kita semua tahu bahwa ayat Allah yang turun pertama adalah perintah untuk membaca, ini memberikan isyarat bahwa ummat islam ini tidak boleh bodoh dan harus bisa baca. Karena dengan membaca pengetahuan luas dan sikapnya akan mendasara sdengan ilmu. Bekal pendidikan untu anak yatim sangatlah perlu, apalagi menurut undang-undang anak yatim di tanggung oleh Negara. Namun buktinya, tidak sesuai dengan harapan. Padahal anak yatim atau tidak hak pendidikan adalah sama

2. Pengelolaan harta

dalam penglolaan harta, tidak bisa serta merta langsung di pegang oleh anak yatim yang belum balig. Namun harus di kelola si pengurus anak yatim itu. Nah, kalau sudah dirasa mampu, tahu mana yang urgen dan kesia-siaan atau sudah balig dipersilahkan untuk mengelolanya dengan mandiri. Karena dibantu mengelola harta anak yatim adalah haknya. Sehingga pengarahan finansial dapat dilakukan dengan baik, sesuai kebutuhannya.

3. Keperluan jasmaniah

yang jelas kebutuhan asupan tetap diperhatikan. Meraka punya hak untuk diberikan asupan gizi, gak hanya orang kaya saja. Mereka juga generasi penerus bangsa. Penuhilah kebutuhan jasmaniah anak yatim yang menjadi haknya dalam setiap harinya. Jangan menterlantarkan anak yatim, jika tidak ingin dikatakan mendustakan agama.

4. Pembinaan dengan sabar

membina anak-anak yang kurang kasih sayang itu beda banget dengan anak yang sudah mendapatkan kasih sayang setiap hari. Rasa kangen kepada orang tua yang telah meningal akan menjadi tantangan tersendiri. Si pemelihara harus empatik dan simpatik terhadap hal ini, Sehingga dapat bersikap dengan bijak.

Perhatikan firman Allah berikut ini :

وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا ۚ وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۖ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا

 

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu). (QS An Nisa’ : 6)

Dengan demikian, mari kita berikan hak-hak anak yatim, sehingga surga terbentang lebar untuk kita dan semoga kita bertetangga dengan Rasulullah SAW di surga nanti. Jangan sekali-kali abaikan anak yatim, karena itu bukan hanya bukti empatik atau rasa cinta, namun itu juga bukti keyakinan kita kepada ajaran Agama Islam yang kita anut ini. Wallahu a’lam