Oleh : Etty Sunanti

 

Seringkali anak-anak cenderung teledor dan tidak amanah. Di tambah orang tua yang menganggap, itu hal biasa. Namanya anak belum bisa amanah, wajar-wajar saja. Sehingga, semuanya ditangani orang tua. Anak-anak seolah belum waktunya terlibat urusan keluarga.

 

Anak hanya disibukkan dengan kegiatan sekolah, serta segenap kemampuan akademik. Bila perlu kemampuan bidang yang diinginkan anak, benar-benar diperjuangkan. Misal, les bahasa Inggris, les matematika, les musik, atau apapun yang bersifat dunia.

 

Sementara hal prinsip tentang karakter anak, menjadi terabaikan. Tidak penting. Bahkan ketika anak berbuat pelanggaran, orang tua menebar senyum sebagai kelucuan dunia anak.

 

Padahal karakter dasar itu adalah sifat yang dimiliki Rasulullah Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wassalam. Apakah itu?

  1. Siddiq (berkata benar)
  2. Amanah (bisa dipercaya)
  3. Fathonah (cerdas)
  4. Tabligh (penyampai risalah atau wahyu dari Allah)

 

Maka, sifat Amanah ini menjadi point penting kesuksesan seseorang. Baik di dunia ataupun di akhirat. Seseorang bisa saja memiliki nilai matematika 100, tetapi ketika dia tidak amanah, maka hilanglah reputasinya.

 

Sekali saja, seseorang berkhianat, maka akan membuka segala macam pintu fitnah pada dirinya. Orang akan sulit percaya. Demikian, dalam kehidupan sosial, bermasyarakat, berumah tangga, dunia bekerja, maka amanah adalah kunci kesuksesan.

 

Dan, tentu saja sifat amanah ini tidak serta merta ada pada diri anak manusia. Membutuhkan pendidikan yang intensif dari para orang tua. Perhatian terus menerus. Agar si anak terbiasa, bahwa amanah adalah jiwanya. Bahwa amanah adalah demi kebaikan dirinya sendiri.

 

Bagaimana ciri-ciri anak yang tidak amanah?

Tentu saja, KHIANAT. Mungkin mereka tidak bermaksud khianat. Atau bisa jadi belum paham. Tetapi seyogyanya, orang tua senantiasa membimbing dengan baik.

 

Kalau bahasa Jawa, perbuatan khianat bisa dimulai dari perbuatan “Ndlewer“. Artinya meremehkan tugas atau amanat yang diberikan. Menganggap remeh, tidak penting, bukan urusannya, tidak menguntungkan, atau berjuta alasan egois. Yang membuat seseorang ingin terbebas dari amanah tersebut.

 

Misal, ada anak disuruh orang tuanya membeli makanan di warung (toko). Ada uang kembaliannya, tapi si anak tidak laporan kepada ibunya. Setelah membeli, asal diletakkan di ruang tamu, bahkan tidak laporan kepada ibunya kalau sudah selesai belanja. Dan uang kembaliannya tidak dikembalikan. Bahkan uang kembaliannya jumlahnya berapa tidak tahu. Bahkan ada yang terjatuh atau hilang, juga tidak tahu menahu. Ini namanya “ndlewer” atau seenaknya sendiri. Tidak punya tanggung jawab, dan tidak amanah.

 

Semestinya ayah atau ibu harus mengajarkan kepada anaknya. “Nak, nanti kalau sudah beli, nasi bungkusnya kasihkan ibu ya. Uang kembaliannya dihitung, jangan sampai hilang. Dan kasihkan semuanya kepada ibu. Kalau kamu mau jajan, nanti ibu kasih. Jangan ambil tanpa seizin ibu ya.”

 

Memberikan instruksi yang jelas, harus disematkan kepada amanah yang diberikan kepada putra dan putri kita. Bahkan harus senantiasa menambahkan alasan kuat, bahkan hujjah yang benar.

 

Bagaimana caranya mengajarkan anak agar bisa amanah?

  1. Menanamkan mindset pada seluruh anggota keluarga bahwa Amanah adalah wajib bagi setiap hamba Allah yang beriman. Dalam Alquran surat Al Anfal ayat 27, Allah berfirman yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan RasulNya. Dan janganlah kalian mengkhianati amanah-amanah yang diberikan kepada kalian, padahal kalian mengetahui”. Ayat tersebut adalah larangan dengan fi’il amar yang jelas. Dimana, ketika kita melanggar maka jelaslah kita berdosa karenanya. Mengapa ini wajib bagi anggota keluarga? Karena anak membutuhkan uswah, bahwa amanah adalah sebuah kewajiban bagi siapa saja. Tanpa pilih kasih.
  2. Melatih anak-anak dengan memberikan tugas yang penting mulai usia dini. Misal, menitipkan kunci rumah, menitipkan surat penting agar menyimpan baik-baik, mengantarkan surat atau undangan untuk seorang tokoh masyarakat, menjaga adik yang masih bayi, dan lain-lain. Sekiranya tugas itu yang membuat kita semua tidak percaya, justru kita harus memulai memberikan kepercayaan kepada mereka, bahwa mereka mampu dan amanah. Melatih anak dengan tugas yang “MENGKHAWATIRKAN” ini, tentu saja harus diimbangi dengan kalimat-kalimat yang meyakinkan mereka.

“Nak, ibu nitip adik, tolong kamu jaga ya.. ibu mau belanja ke warung sebentar saja.”

“Aku nggak bisa bu, aku takut adik menangis, aku takut adik jatuh.”

“Insya Allah adik akan aman bersamamu, kamu kan anak hebat, bisa menjaga amanah ibu.”

Yang namanya melatih, tentu pelatihnya harus memahami dan memantau tahapan kemampuan si anak. Seolah amanah itu dipasrahkan 100% padahal 50% saja. Yang 50% kita mengamati apa yang terjadi. Karena itu semua sebagai media mendidik mereka.

  1. Mengamati dan menasihati tiada henti. Sebagai orang tua, wajib memantau setiap perkembangan putra-putrinya. Karena karakter ini bisa up and down, karena benturan persoalan. Al imaanu wa yazidu wa yankus. Iman seseorang itu kadang naik kadang turun. Jika dalam kondisi stabil, karakter bisa stabil. Tetapi ketika mendapat serangan dan tekanan persoalan, seseorang bisa berubah tidak amanah. Bisa berubah berbohong. Jangan menganggap anak kita sempurna. Jangan menganggap diri kita sempurna. Bisa jadi ketidaksempurnaan atau segenap kekurangan, justru didapat dari orang tuanya sendiri. Orang tua hendaknya memberi teladan yang baik, memberi nasihat tiada pernah lelah, dan menciptakan kultur saling mengingatkan. Anak mengingatkan orang tua, pun sebaliknya orang tua tiada henti mengingatkan anaknya. Karena masalah amanah ini adalah target dari syaitan, agar kita tergelincir menjadi pengkhianat, bahkan dengan cara cara yang halus dan tidak kentara.
  2. Berdoa mohon perlindungan kepada Allah, agar senantiasa diberikan sikap amanah. Karena sesungguhnya, orang-orang yang dibersamai Allah-lah yang mampu berbuat amanah. Anak yang tidak amanah, pasti ada kaitan erat dengan kemaksiatan yang lain. Anak yang tidak amanah pasti membuka pintu pintu syaitan yang lain. Apa sifat lain yang muncul dari anak yang tidak amanah?

– Berdusta

– Malas

– Mengambil hak orang lain (mencuri)

– Bersilat lidah, membela diri terus menerus

– Berani melanggar syariat yang lain

Na’udzubillahi min dzalik

 

Tentu kita sangat takut dengan perbuatan-perbuatan demikian. Oleh karena itu, marilah kita menjaga diri kita juga anak anak dari sikap khianat.

 

Semoga Allah Azza wa Jalla melindungi kita dari hal-hal yang buruk. Dan menjadikan kita semua mukmin yang amanah.

SHARE ARTIKEL !
0Shares
0Shares