Oleh : Rizky Akbar Nurmalianto, SE

Ujian hidup bagi setiap pemuda muslim selalu ada dan berbeda-beda. Masalah pertemanan, motor, HP dan segala macam gaya hidup. Begitu pula saat mereka sudah berkeluarga, tidak akan sama ujian masing-masing keluarga. Ada yang diuji melalui hartanya, istri atau suaminya, anak-anaknya, maupun sanak keluarganya. Ini semua sebagai ujian kesabaran dan level iman. Alloh Yang Maha Adil tidak akan menimpakan suatu ujian jika hambaNya tidak sanggup. Seperti yang Alloh Firmankan dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 286, “Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya…”

Maka wajib bagi kita, segala hal yang terjadi harus kita sandarkan hanya kepada Alloh. Alloh Maha Mengatur, semua yang terjadi dalam kehidupan ini adalah kehendaknya. Tidak ada satu kejadianpun di luar kehendakNya. Setiap permasalahan sudah Alloh siapkan solusinya, seperti yang Alloh Firmankan dalam Surat Asy-Syarh ayat 5, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.  Makna kata bersama menurut KBBI adalah berbarengan, serentak. Sehingga solusi dari permasalahan hidup ini sudah ada dan telah disiapkan oleh Alloh, sabar dalam menerima ujian dan ikhlas menjalani kehidupan serta terus mendekat kepada Alloh sehingga Dia akan menunjukkan kepada kita jalan keluar yang terbaik.

 

Curhatlah hanya kepada Alloh saja

Setiap orang merasa seakan masalah hidup yang sedang dihadapinya adalah masalah yang paling besar daripada lainnya. Terkadang curhat kepada teman atau bahkan di medsos, mungkin untuk sementara waktu perasaan lega akan didapat. Namun itu bukan solusi terbaik bagi permasalahan tersebut.  Bisa jadi tambah semakin pelik masalah yang dihadapi, karena semakin banyak masukan dari teman-teman yang tidak berkompeten, apalagi bepengalaman dalam menjalani kehidupan. Dalam Surat Yusuf : 86, Alloh berFirman : “Dia (Ya’kub) menjawab, ‘Hanya kepada Alloh aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Alloh apa yang tidak kamu ketahui.” Dari kisah Nabi Yusuf telah dikisahkan kepada kita betapa mendalam kesedihan Nabi Ya’kub atas hilangnya Nabi Yusuf. Beliau tahu bahwa ini adalah tipu daya dari saudara-saudaranya. Namun beliau curhat dan pasrah hanya kepada Alloh Yang Maha Mengetahui. Sikap seperti itulah yang wajib kita contoh, bahwa tidak bermudah-mudah curhat kepada manusia apalagi di medsos. Saat Sholat Tahajjud adalah waktu terbaik kita menyampaikan segala keluh kesah kepada Alloh. Disepertiga malam yang terakhir Alloh turun ke langit dunia. Dalam sebuah hadits Qudsi dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,“Rabb kita Tabaroka Wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni’.” (HR. Bukhari no. 6321 dan Muslim no. 758).

Apa yang perlu kita khawatirkan bila Alloh Yang Maha Menepati Janji akan memperkenankan doa setiap hambanya di sepertiga malam terakhir. Ibnul Qoyyim Al Jauziyah berkata “Segala persoalan dalam hidup ini sesungguhnya tidak untuk menguji seberapa besar kekuatan dirimu, tetapi menguji seberapa besar kesungguhanmu dalam meminta pertolongan kepada Alloh.” Teruslah berusaha untuk menyelesaikan masalah dengan jalan yang baik dan syar’i serta selalu memiliki prasangka yang baik kepada Alloh, bahwa Dia pasti akan memberikan jalan keluar yang terbaik, dari arah yang tidak disangka-sangka.

 

Menjadi Pribadi yang Sholih

Alloh selalu memberikan yang terbaik bagi semua manusia, setiap keadaan dan kejadian adalah kehendak dari Alloh, itulah yang terbaik. Selalu berprasangka baik kepada Alloh, menjalankan semua perintahNya, tidak bermaksiat kepadaNya dan memperbaiki diri dalam beribadah sesuai dengan Sunnah Rosululloh Muhammad, sehingga mampu menjadikan diri sebagai hamba yang sholih. Alloh menghendaki proses kita menjadi hambaNya yang sholih, seberapa sungguh-sungguh kita berusaha menggapainya bukan hasil akhir dari segala usaha yang kita lakukan. Imam Ibnu Rojab menyatakan ada 2 kesholihan, yaitu :

  1. Sholih Linafsihi, sholih untuk dirinya sendiri dan
  2. Sholih Linafsihi wa Lighoirihi, yaitu sholih untuk diri sendiri dan orang-orang disekitarnya. Dia menebarkan energi kesholihan kepada setiap orang yang ada disekitarnya, mengajak orang untuk ikut serta aktif memperbaiki apa yang rusak, meluruskan apa yang bengkok dan membersihkan apa yang kotor. Inilah yang disebut Muslih.

Muslih derajatnya lebih tinggi daripada Sholih. Pemuda-pemuda yang Muslih adalah yang selalu berkontribusi terhadap Islam. Dia tidak memikirkan kebaikan untuk diri dan keluarganya saja, namun juga kebaikan untuk umat. Menjadi seorang yang Muslih dapat mengubah keadaan diri dan lingkungan secara berkesinambungan. Kuncinya adalah istiqomah dalam kebaikan dan kesabaran.

 

Bangkitlah Wahai Saudaraku……

Sebagian besar para pemuda muslim, yang menjadi tumpuan bagi agama ini, terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri. Bagaimana dengan agama kita? Bangkitlah wahai pemuda, kejayaan Islam dibangun oleh pemuda. Pemuda yang dalam hatinya selalu memikirkan tentang kemajuan Islamlah yang telah terbukti dalam sejarah, membawa kejayaan bagi Islam.

Banyak sekali permasalahan umat ini, Islam menantikanmu mampu berkontribusi dalam bidang apapun. Kalau saja Sultan Muhammad Al Fatih kembali hidup dan melihat keadaan pemuda jaman now, mungkin beliau akan terheran-heran tak habis pikir. Betapa kualitas kita dan dirinya terbentang seperti jarak antara kutub utara dan kutub selatan. Dimana kebanyakan pemuda berusia 21 tahun bangga karena dapat menaklukkan hati seorang wanita dan masih kebingungan mencari pekerjaan, sedangkan beliau telah mampu menaklukkan Konstantinopel. Zaid bin Tsabit, mendaftar jihad fii sabilillah sejak usia 13 tahun, pemuda jenius mahir baca-tulis. Hingga Rasulullah bersabda memberi perintah: “Wahai Zaid, tulislah….”. Ia mendapat tugas maha berat, menghimpun wahyu, di usia 21 tahun. Juga Usamah bin Zaid, namanya terkenal harum sejak usia 12 tahun, mukmin tangguh dan muslim yang kuat, Rasulullah menunjuknya sebagai panglima perang di usianya yang ke-20 dan memimpin armada perang menggempur negara adikuasa Romawi di perbatasan Syiria dengan kemenangan gemilang.

Berjamaah kita akan lebih kuat. Bangkitlah, wahai pemuda…. Kiprahmu dinantikan untuk menolong agama Alloh. Jadikanlah kegalauanmu hanya kegalauan untuk memikirkan agama ini. Bersatulah bersama semua Muslimin dalam Iman dan Islam. In Shaa Alloh Islam akan kuat. Buanglah jauh-jauh perbedaan kecil yang bukan perbedaan aqidah. “Kaki anak Adam tidaklah bergeser pada hari Kiamat dari sisi Robbnya sehingga ditanya tentang lima hal ; tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infaqkan, dan tentang apa yang telah dia lakukan dengan ilmunya.” (HR. Tirmidzi)

Masa muda kita pasti akan ditanya oleh Alloh bukan? Lantas jawaban apa yag akan kita sampaikan kepada Alloh?

SHARE ARTIKEL !
0Shares
0Shares