Oleh : Etty Sunanti

Barusan, saya mendapati tamu berkunjung ke rumah. Seorang ibu dan anak perempuan, yang sebelum Ramadhan 1440 kemarin menjadi pengantin baru. Saat lebaran tiba, si wanita mudik bersama suaminya di sebuah desa di Jawa Timur. Sebelumnya, memang tidak ada berkunjung ke rumah besan. Pernikahan terjadi karena saling percaya dan ikhlas. Sebelumnya pihak laki-laki sudah bercerita kalau rumahnya di desa dengan deskripsi yang benar.

Tetapi, setelah berkunjung ke rumah mertua, si wanita ini kaget dan shock atas kondisi rumah mertuanya. Bahkan terlontar ingin berpisah dari suaminya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun.

Sampai segitunyakah, urusan tempat tinggal bisa memicu keinginan berpisah dari suami dunia akhiratnya? Sungguh memprihatinkan.

Si ibu merasa bersalah. Karena saat masa kecil putrinya tidak pernah diajarkan bagaimana seharusnya bisa beradaptasi dengan lingkungan.

Anak tidak diajarkan bagaimana menerima keadaan dan kenyataan hidup, yang tentu akan menimbulkan stress bahkan depresi. Anak-anak terlalu dituntut sempurna, dan tidak mampu melihat kekurangan diri apalagi kekurangan orang lain. Padahal hidup itu beraneka rupa. Ada atas, ada bawah. Ada kaya, ada miskin. Ada pejabat, ada rakyat. Ada guru, ada murid. Ada gunung, ada lautan.

Seringkali seseorang cenderung monoton melihat dirinya sendiri. Tanpa mau melihat dunia luar. Seperti katak dalam tempurung. Baiklah, mengapa kita perlu mengajarkan anak-anak untuk beradaptasi ?

Sebelumnya, kita harus mengerti dahulu apa itu adaptasi. Sebenarnya, kata awal adaptasi digunakan untuk istilah Biologi. Yang artinya, cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup, mampu untuk memperoleh air, udara dan makanan.

Tetapi sejalan waktu, kata adaptasi juga digunakan untuk kepentingan sosial, bahkan masalah kebudayaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata adaptasi berarti penyesuaian terhadap lingkungan, pekerjaan, dan pelajaran. Saya sangat tertarik dengan pembatasan yang diberikan oleh KBBI tersebut. Penyesuaian tersebut hanya pada 3 hal :

1. Lingkungan

2. Pekerjaan

3. Pelajaran

Artinya, hanya 3 hal tersebut yang ditolerir dalam urusan beradaptasi. Bukan beradaptasi masalah prinsip, apalagi masalah aqidah. Biar tidak salah kaprah menerjemakan persoalan ini. Misal seorang muslim harus bisa beradaptasi dengan pola hidup orang Hindu. Jelas itu bukanlah beradaptasi. Tetapi hal tersebut justru merupakan penyimpangan prinsip, dan bukan kategori adaptasi.

Ketika ada masyarakat sekitar kita, yang melakukan ritual agama lain, atau tradisi masyarakat sekitar. Sebagai muslim tidak boleh ikut-ikutan, misal sedekah bumi, larung sesaji tentu sebagai seorang muslim dilarang mengikutinya. Meskipun itu tradisi yang sudah membudaya di masyarakat.

Dan hal ini harus kita ajarkan kepada anak-anak. Batasan apa saja yang boleh dan tidak boleh untuk beradaptasi. Bahkan dalam KBBI, ada penjelasan Adaptasi Kebudayaan. Yang artinya adalah perubahan dalam unsur kebudayaan yang menyebabkan unsur itu dapat berfungsi lebih baik bagi manusia yang mendukungnya.

Jadi ada unsur perubahan positif dalam kehidupan manusia. Misal menyebarkan budaya etos kerja yang tinggi, tertib antrean, menjaga kebersihan lingkungan, gemar bersilaturrahim, saling tolong menolong, dan lain sebagainya.

Prinsip penting dalam pendidikan beradaptasi kepada anak-anak adalah melakukan semua kebaikan,  asal jangan mencampuradukkan antara yang haq dan yang bathil. Dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 42, artinya, “Janganlah kalian mencampur adukkan antara kebenaran dan kebathilan. Dan janganlah kalian sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahui.”

Sementara dalam KBBI, Adaptasi Sosial memiliki arti perubahan yang mengakibatkan seseorang dalam suatu kelompok sosial dapat hidup dan ‘berfungsi’ lebih baik dalam lingkungannya. Dalam tanda kutip, ‘berfungsi’ artinya setiap orang memiliki peranan mendukung kebaikan. Bukan malah kehadirannya menjadi persoalan baru, yang meresahkan. Bahkan menimbulkan kekacauan. Nah untuk itu, setiap orang tua wajib mendidik putra-putrinya agar mampu beradaptasi terhadap lingkungan. Bagaimana mereka mau berdakwah, kalau dirinya saja tidak mampu menerima masyarakat? Bagaimana menjadi seorang pemimpin, jika tidak mampu memahami orang lain? Bagaimana bisa membangun peradaban, kalau dirinya lemah, menutup diri, dan merasa paling benar sendiri?

Lalu, bagaimana cara mendidik anak-anak agar mudah beradaptasi terhadap lingkungan ?

1. BUMI ALLAH.

Meyakinkan kepada anak-anak selama masih hidup di bumi Allah, semuanya akan terjaga oleh Allah. Ini adalah kekuatan keyakinan yang membuat anak merasa tenteram dan aman bersama Allah. Dimanapun dia berada, merasa bersama Allah Azza wa Jalla. Merasa tenteram dan tenang itu dari hati yang bersih. Merasa semuanya milik Allah, akan menjadikan manusia tidak mudah mengeluh. Misal menginap di hotel mewah, merasa biasa saja. Bermukim di  pegunungan merasa enjoy. Di rumah saudara yang sederhana juga biasa saja. Bahkan terdampar di sebuah hutan yang sepi juga bisa.

2. JANGAN SOMBONG.

Anak-anak wajib hukumnya diajarkan bersikap rendah hati. Tidak boleh menghina orang lain beserta kondisinya. Ternyata kebiasaan menghina orang lain, adalah warisan menduplikasi orang tua. Ketika orang tua terbiasa mencela orang lain, maka anak secara otomatis juga ikut senang mencela. Na’udzubillah.

3. MAAF DAN TERIMAKASIH.

Mengajarkan anak untuk meminta maaf ketika berbuat salah, dan mengajarkan selalu berterimakasih atas kebaikan orang lain. Hal ini akan memudahkan mereka untuk bergaul dengan siapapun. Mereka akan menjadi pribadi yang mudah diterima orang lain, karena sikapnya yang sangat santun dan mudah muhasabah diri.

4. KETERAMPILAN DIRI.

Mengajarkan anak-anak menggunakan berbagai fasilitas dalam keseharian, misal mencuci baju secara manual terbiasa, dengan mesin cuci juga biasa. Merapikan kamar, rumah, menjaga kebersihan dimanapun. Saat anak melakukan kebaikan dimanapun berada, maka dimanapun juga dia akan mudah diterima orang lain. Jangan sampai saat dia di rumah orang lain, dia justru seperti raja yang maunya dilayani.

5. MEMBANTU SESAMA.

Anak wajib diajarkan habluminallah dan habluminannas. Hubungan baik kepada Allah, seringkali menjadikan orang egois. Tentu ini sikap yang salah. Ketika orang menjalin hubungan baik kepada Allah, maka hubungan dengan manusia juga akan baik. Habluminannas ini harus diimplementasikan dengan terbiasa membantu sesama insan. Membantu bisa dengan nasihat yang baik, bantuan tenaga, meminjamkan barang untuk kemaslahatan bersama. Bahkan memberikan donasi untuk kelangsungan bersosialisasi terhadap sesama.

6.  BERSYUKUR.

Anak-anak harus sering diajak berdialog. Bahkan sering ditunjukkan penderitaan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa ujian dan musibah. Ketika mereka kita ajak menjenguk orang sakit, mereka bisa bersyukur dalam sehatnya. Ketika kita mengajak mereka berkunjung di kaum dhuafa’, anak bisa merasakan bersyukur dengan fasilitas yang mereka punya. Ketika anak melihat peperangan yang menimpa kaum muslimin, mereka bersyukur dengan memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan segala kemungkinan yang menimpanya.

Nah ayah dan ibu, mari kita biasakan mengajarkan anak-anak untuk beradaptasi dengan lingkungan. Jangan menjadikan mereka tertutup dan egois. Karena sesungguhnya kemampuan adaptasi ini, akan berpengaruh besar dengan masa depan putra-putri kita.

Mereka akan menjadi generasi yang mampu mewarnai kehidupan. Bukan malah terjerembab dalam keburukan.Karena kemampuan beradaptasi ini akan menguntungkan diri mereka sendiri. Dari segi bersosialisasi, berdakwah, bekerja, bahkan berjuang untuk mengatur umat atau masyarakat.

SHARE ARTIKEL !
0Shares
0Shares