Oleh : Rofiq Abidin
 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al Baqarah : 185)

 

Suarahati.org, Sidoarjo – Saat ada tamu yang menawarkan berbagai kebaikan dan kesenangan, maka kita akan sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari tempat, penampilan maupun hati kita. Begitupun dengan akan datangnya tamu istimewa bernama Bulan Romadhon. Bulan yang menawarkan ampunan Allah, rahmat Allah dan keberkahan. Nah, biasanya untuk menyambut Romadhon ada istilah tarhib romadhon. Secara etimologis (bahasa), kata tarhib berasal dari fi’il “ra-hi-ba, yarhabu, rahbun”yang berarti luas, lapang dan lebar. Dan selanjutnya menjadi fi’il “rahhaba, yurahhibu, tarhiban” yang mengandung arti menyambut, menerima dengan penuh kelapangan, kelebaran dan keterbukaan hati. (Kamus alMunawwir).

Lantas apa yang harus kita siapkan untuk tamu kita yang istimewa ini, agar kita mendapatkan kebaikan-kebaikan yang kita harapkan. Kiranya beberapa hal berikut ini yang harus disiapkan untuk menyambut tamu istimewa itu :

Berdoa agar kita bisa sampai pada Bulan Romadhon.
Bulan yang banyak menawarkan kebaikan-kebaikan yang nilainya berlipat ganda menjadi suatu kelaziman jika kita menginginkan untuk mendulang amal ibadah di bulan ini. Mengingat usia ummat Muhammad tidak sepanjang usia ummat-ummat terdahulu. Maka Allah memberikan solusi agar amalan-amalan itu bisa bernilai banyak. Ada do’a yang contohkan Nabi Muhammad saat menjelang Bulan Romadhon, do’a ini di riwayatkan oleh Imam At Tirmidzi :

اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ رَبِّى وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Ya Allah, tampakkanlah bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah]”

Setelah do’a ini kita baca, selanjutnya Romadhon ketuk pintu, hati kitapun sudah lapang dan mempersilahkan untuk datang, membawa apa saja kebaikan untu kita. Do’a yang terkadung di atas cukup memberikan makna yang dalam, permohonan ketenangan, keimanan, keselamatan dan keislaman. Setidaknya inilah sebernarnya syarat dan persiapan untuk melakukan apapun ibadah pada bulan Ramadhan, baik ibadah mahdo maupun ibadah lainnya.

 

Keilmuan
Segala amal sudah seharusnya diawali dengan ilmu. Ulama’ hadits terkemuka yakni, Al Bukhori berkata, “Al Ilmi Qobla Qouli Wal Amali”, (Ilmu sebelum berkata dan beramal), pernyataan ini beliau simpulka dari ayat Allah QS. Muhammad : 19,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.

Jangan sampai kita melakukan pekerjaan tanpa mengilmui (mengetahui dasarnya). Dalam ayat ini di awali dengan ilmuilah dan kemudian dilanjutkan dengan perintah untuk istigfar yang merupakan amalan dan penyataan lisan. Dengan demikian, mari kita mengetahui ilmu sebelum beramal, agar tidak salah jalan. Karena ilmu itu juga pemandu amal, sebagaimana Muadz bin Jabal RA menyatayakn dalam kitab, “Al Amru bil Ma’ruf Wan Nahyu ‘anil Munkar” bahwa, “Ilmu itu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.

 

 

 

 

 

Silahkan Di Share, jika Artikel Ini Bermanfaat ! “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)
0Shares
0Shares