Oleh : Rofiq Abidin (Founder YSH)

 

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Sesungguhnya kami telah memberi kamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat
karena Tuhanmu dan berkorbanlah
.

(QS. Al Kautsar : 1-2).

 

Kucuran nikmat yang masih terasa, mulai dari nikmat utama, yakni ; nikmat hidup, nikmat akal hingga nikmat hidayah iman. Menjadi keniscayaan untuk mensyukuri nikmat-nikmat tersebut, disamping nikmat-nikmat lainnya.

Motif untuk mensyukuri nikmat Alloh perlu dibangun dan dibangunkan bagi yang belum melek, bahwa nikmat itu dari Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak layak seorang hamba yang menikmati sarana prasarana Alloh tidak ada wujud terima kasih. Oleh karena itu setiap hamba yang menikmati beragam nikmat Alloh, haruslah mensyukurinya, diantaranya melalui qurban.

Syariat qurban, sebagaimana kita tahu bersama, bahwa Nabiyulloh Ibrahim mengorbankan anaknya (Ismail) demi membuktikan ketaatan dan kecintaannya kepada Alloh. Itulah kholilulloh yang telah membuktikan kecintaan kepada Alloh lebih besar daripada kecintaannya kepada anaknya sendiri, dengan menyembelih anak yang ditunggu-tunggu kehadirannya setelah sekian lama.

 

Bukti Cinta

Dari kisah Nabiyulloh Ibrahim Alaihissalam menjadi hikmah bahwa cinta itu membutuhkan bukti pengorbanan. Bukan semata-mata ungkapan verbal, namun dalam bentuk perbuatan harus diwujudkan. Nah, orang beriman yang sangat mencintai Rabbnya yakni Alloh Subhanahu Wata’ala secara implisit dijelaskan dalam Al Qur’an berikut ini :

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal.” (QS. Al Baqarah : 165).

Lantaran cintanya orang yang beriman kepada Alloh begitu kuat, maka perintah apasaja yang diperintahkan oleh Alloh akan dilakukan oleh orang-orang yang beriman, tidak peduli itu berdampak apa. Modal yakin, iman itulah yang mengokohkannya. Nah, untuk menstimulan itu semua, dibutuhkan formula berikut :

1. Amaliyah tasbih verbal dan aktual

Bertasbih itu suci hati atas apapun ketetapan Alloh, Al Qur’an hingga taqdir Alloh. Saat mengucapkan subhanalloh (Maha Suci Alloh), itu artinya meyakini semua ketetapan Alloh tidak ada yang buruk, tidak ada yang salah dan tidak ada yang negatif. Artinya selalu terbaik untuk kita, bahkan perintah Alloh. Sebagaimana praktik malaikat sujud kepada Adam. Meski awalnya ada malaikat yang komplen dengan perintah Alloh. Maka, jika ada perintah Alloh lakukanlah, jangan enggan.

2. Mengikuti ajakan Rasululloh

Pembuktian cinta kepada Alloh bisa juga dimulai dari mencintai nabiNya. Yakni melakukan ajaran nabinya, melalui hadits dan sunnah nabinya. Kegiatan-kegiatan sunnah nabi yang menuntun kepada peradaban akhlakul karimah sudah menjadi bukti nyata implikasinya dalam kehidupan nyata.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

3. Berqurban

Berqurban menjadi tolak ukur kecintaan hambaNya kepada Penciptanya. Jangan ragu-ragu hal itu, meski secara simbolis bukan darah dan dagingnya, namun harus dilandasi ketaqwaannya. Secara kasat mata tidak akan tampak ketaqwaanya itu, namun darah dan daging yang dari hewan yang disembelih itu yang tampak. Tapi, ingatlah qurban itu bukti cinta kepada Alloh bukan bukti mampu berqurban yang dipublikasikan kepada khalayak.

 

Tiga hal di atas bisa dilakukan sebagai bukti cinta, pun bisa menjadi jalan cinta Alloh kepada kita. Ingat kecintaan kepada Alloh yang begitu kuat, itu butuh bukti, pengorbanan. Begitulah kiranya jika sepasang kekasih yang saling cinta, maka akan ada pengorbanan sebagai bukti cintanya.

Syariat qurban yang telah dicontohkan dari Nabi Ibrahim, menjadi jalan kecintaan seorang hamba atas nikmat yang diberikan Penciptanya. Adapun besaran cinta itu tidak diukur dari seberapa darah yang mengucur ataupun daging yang didistribusikan, namun dari ketaqwaanya. Dalam makna sebesar-besar taqwa. Rasa takutnya kepada Alloh, rasa disiplinnya mentaati Alloh hingga kewaspadaanya dalam menjalankannya. Sehingga jalan keridhoan Alloh menjadi tujuan utamanya.

 


 

Yabaqsosa 2023, anak asuh, anak yatim, yayasan di sidoarjo, yayasan suara hati di sidoarjo, panti asuhan di sidoarjo, panti asuhan suara hati sidoarjo, ysh peduli, sidoarjo, majalah suara hati, panti asuhan sidoarjo, idul qurban, kapan idul adha 2023, lebaran haji, hari tasrik, binatang qurban, jual kambing, qurban di panti asuhan.

Ajakan: Mari berqurban, menebar manfaat melalui Program YABAQSOSA.