Suarahati.og, Sidoarjo – Rasulullah Saw adalah bagian tidak terpisahkan dari agama Allah. Beliau adalah panutan dan pembawa mukjizat terakhir yaitu Al-qur’an dan Islam. Setiap muslim punya kewajiban cinta terhadap beliau, terhadap kekasih Allah tersebut.

Masa kanak-kanak merupakan golden age yang semestinya dimanfaatkan untuk menumbuhkan rasa cinta kepada sang suri teladan, karena cinta yang bersemi di hati anak akan menjelma menjadi sebuah kekaguman seiring dengan tumbuh kembangnya, selanjutnya ia akan mengidolakan dan menjadikannya menjadi sosok yang ia teladani dalam hidup.

Awalnya mungkin terasa agak sulit ketika kita menginginkan anak-anak kita mengidolakan Rasulullah Saw. Justru anak-anak lebih mengenal Superman, Spiderman, atau mungkin Spongebob, dll. Alasannya gampang, karena tokoh-tokoh tersebut bisa mereka saksikan lewat animasi, merekalah yang sering dilihat oleh anak-anak di televisi.

Mengenalkan pribadi yang hidup 14 abad lalu pada anak memang bukan hal yang mudah, namun bukan berarti mustahil. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para orang tua mengenai hal ini:

 

Pertama: Mengenalkannya

Tidak kenal maka tidak cinta, itu benar adanya. Bagaimana kita mencintai Rasulullah Saw jika kita tidak mengenal sosok beliau. Menyusuri sirah nabi adalah satu solusi.

Sebagai orang tua, kita adalah contoh bagi anak. Mulailah dari diri kita sendiri. Ketika kerinduan kita sendiri pada Rasulullah Saw sudah membuncah, maka akan mudah bagi kita memulainya pada anak. Katakan pada buah hati kita tentang kecintaan kita pada sosok Rasulullah. Ucapkan dengan bahasa mereka bagaimana kita sangat merindukan beliau.

Anak tentunya penasaran, siapa dia yang dirindukan ayah dan bundanya. Hebatkah orang tersebut. Anak akan mulai bertanya, siapa dia? Dan di mana? Jika rasa penasaran dalam diri anak mulai muncul, disitulah jalan bagi kita mengenalkan diri Rasulullah Saw pada anak.

Dalam mengenalkan kepribadian Nabi Muhammad Saw orang tua perlu mempertimbangkan perihal tahapan penyampaian, juga bahasa yang digunakan disesuaikan dengan usia anak. Berceritalah dengan diawali perjalanan Rasulullah Saw yang paling heroik dimata anak. Bagaimana Rasulullah adalah seorang panglima perang yang hebat, bagaimana Rasulullah adalah pedagang dan penggembala kambing yang jujur dan rendah hati. Tentang bagaimana sahabat-sahabatnya yang setia. Kasih sayang Rasulullah kepada semua orang didekatnya. Masih banyak sekali kisah-kisah heroik yang terjadi sepanjang perjalanan kehidupan Rasulullah Saw. Kisah yang kaya akan hikmah.

Metode pengenalan bisa melalui dongeng menjelang tidur, buku cerita, vcd pembelajaran, dan lain sebagainya. Bisa juga pada saat-saat rileks seperti saat bepergian, duduk-duduk santai bersama keluarga, dan semisalnya. Intinya anak bisa mengenal siapa sosok Muhammad yang diutus untuk mengajarkan Islam kepadanya.

 

Kedua: Meneladankan Akhlak dan Budi Pekertinya

Akhlak dan perilaku mulia adalah tujuan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di setiap gerak dan diam selalu ada adab yang diajarkannya. Maha Benar Allah dalam firman-Nya :

{وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ}

“Sungguh engkau di atas akhlak yang agung”. (QS. Al Qalam: 4).

 

Budi pekerti beliau tidak cukup hanya menjadi bahan perbincangan atau kebanggaan belaka, tetapi harus menjadi karakter yang mendarah daging pada pribadi setiap muslim, tak terkecuali kita dan anak-anak kita. Anak akan semakin cinta kepada Nabinya ketika mereka mengetahui bahwa beliau selalu mengajarkan kebaikan bagi umatnya. Dan pengetahuan ini akan benar-benar tertancap dalam dirinya manakala orang terdekatnya, orang tua, mencontohkan hal itu untuk mereka. Riilnya merekapun melihat jelas bahwa orang tuanya meniru perilaku Rasulullah. Lagi-lagi, karena keteladanan adalah metode pengajaran terbaik. Dengan kita menyampaikan kepada anak bahwa Rasulullah ketika tidur demikian, saat makan demikian, ketika ke kamar mandi demikian, dan seterusnya, maka akan terbentuk dalam memori anak bahwa Nabi Muhammad adalah sosok mulia yang patut mendapatkan cintanya.

Jika demikian, maka menjadi suatu kelaziman bahwa orang tua menguasai adab, akhlak, dan doa-doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sangat banyak memang, tetapi jika sedikit-demi sedikit dipelajari dan dipraktekkan apalagi diajarkan, maka akan melekat dan menjadi reflek keseharian kita. Artinya, setelah contoh dan pengajaran ada tahapan yang tak kalah penting, yaitu pembiasaan.

 

Ketiga: Motivasi dan Doa

Dalam meneladani Nabi sangat mungkin ada saat-saat dimana anak enggan melaksanakannya karena satu dan lain hal. Pada kondisi seperti ini dibutuhkan motivasi guna membangkitkan semangatnya kembali. Bisa dengan kata pujian, ‘rayuan’ pahala yang telah Allah siapkan, atau dengan hadiah sederhana. Jika motivasi ini tidak dilakukan dikhawatirkan adab-adab yang sudah terbangun sebelumnya akan pudar lagi, yang pada akhirnya kita harus mulai dari awal lagi.

Di samping itu ada kekuatan yang tidak boleh diremehkan, doa. Ya, doa adalah kekuatan yang sangat berenergi, apalagi diungkapkan secara tulus di waktu-waktu mustajab. Sisipkan doa agar anak-anak kita dapat mencintai dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sepenuh hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ، لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِه

“Ada tiga doa yang mustajab tidak ada keraguan didalamnya; doa orang yang terzolimi, doa orang yang bepergian, dan doa orang tua untuk anaknya” (HR. Ibnu Majah, Hasan).

Mudah-mudahan anak-anak kita tumbuh menjadi anak-anak saleh dan salehah serta senantiasa mencintai Rasulullah Saw melebihi kecintaan kepada dirinya sendiri. Aamiin.

Demikian, semoga bermanfaat.

 

(erin, dari berbagai sumber)

 

 

SHARE ARTIKEL !
22Shares
22Shares