Artikel ini adalah tulisan Prof. Yohanes Surya PhD, sang maestro pencetak para juara yang mengharumkan nama Indonesia melalui olimpiade fisika serta mengembangkan fisika di Indonesia. Beliau menulis buku “Mestakung : Rahasia Sukses Juara Dunia” yang mendapatkan penghargaan sebagai penulis best seller tercepat di Indonesia.

Istilah “Mestakung” sendiri adalah singkatan dari “seMESTA menduKUNG”, merupakan hukum alam dimana ketika suatu individu atau kelompok  berada pada kondisi kritis maka semesta (dalam hal ini sel-sel tubuh, lingkungan dan segala sesuatu disekitar dia) akan mendukung untuk dia keluar dari kondisi kritis.

 

Ada 3 hukum mestakung yaitu:

  1. Dalam setiap kondisi KRItis ada jalan keluar
  2. Ketika seorang meLANGkah, ia akan melihat jalan keluar
  3. Ketika seorang teKUN melangkah, ia akan mengalami mestakung

Ketiga hukum ini disingkat dengan KRILANGKUN (KRItis, LANGkah, teKUN).

Konsep mestakung ini bisa diaplikasikan dalam banyak segi kehidupan, termasuk juga dalam pengasuhan anak. Penasaran? Mari kita simak uraian beliau berikut ini.

“Bagaimana sih mendidik anak yang baik? Anak saya sangat nakal, tidak mau belajar, bagaimana caranya agar ia mau belajar? Anak saya sebenarnya pintar tapi  malasnya minta ampun sehingga nilainya jelek, bagaimana membuat ia suka belajar? Bagaimana agar anak suka matematika? Anak saya paling benci fisika, gimana caranya agar ia suka fisika? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan sejenis diajukan ketika saya memberikan seminar-seminar di berbagai tempat di Indonesia.

 

Mari kita belajar dari fisika

Konsep mestakung dapat kita pakai untuk memotivasi anak. Caranya adalah dengan menempatkan anak pada kondisi kritis. Ketika anak berada pada kondisi kritis maka akan terjadi mestakung, dimana seluruh sel-sel tubuh akan bekerja bersama-sama menghasilkan suatu motivasi dari dalam. Bukan itu saja, nanti secara ajaib semesta (lingkungan sekitar) akan membantu / mendukung-mestakung !

Kondisi kritis dapat diciptakan dengan memberikan akses seluas-luasnya bagi anak untuk untuk mengerjakan sesuatu yang positif tanpa paksaan. Seorang Ibu senang membaca. Di rumahnya banyak sekali buku. Ia tidak pernah memaksa anaknya membaca buku-buku dia. Tapi buku-bukunya mudah dijangkau anak-anaknya. Suatu hari anaknya yang berumur 9 tahun secara diam-diam membaca buku kisah hidup Napoleon Bonarparte. Anak itu terobsesi untuk menjadi jenderal seperti Napoleon – anak ini kita katakan berada pada kondisi kritis. Mestakung terjadi, anak ini melahap banyak sekali buku pelajaran. Walau masih umur 9-10 tahun tapi sudah belajar matematika tingkat perguruan tinggi. Luar biasa kalau mestakung bekerja.

Seorang Ibu lain sering menyetel televisi untuk acara-acara sains. Anaknya yang berusia 10 tahun yang tadinya acuh tak acuh, suatu saat ikut menonton acara pelajaran kimia yang disajikan secara menarik. Selesai acara anak itu ingin menjadi ilmuwan yang hebat – ia berada pada kondisi kritis. Motivasinya begitu kuat. Buku pelajaran kimia kelas 1-3 SMA dilalapnya hanya dalam waktu kurang dari setahun. Dan ia menjadi anak yang pintar bukan hanya kimia tetapi juga matematika.

Seorang ayah banyak mengoleksi buku-buku tentang Einstein. Anaknya penasaran dengan koleksi ini, diam-diam dia membaca dan membaca. Ia juga belajar sendiri fisika SMA terutama tentang teori gravitasi. Tidak puas dengan pelajaran SMA ia belajar pelajaran universitas tentang Teori Gravitasi Einstein. Akhirnya di usia 12 tahun ia berhasil menulis beberapa paper tentang Teori Gravitasi Einstein. Kini ia sedang kuliah dan membuat thesis di Swedia dengan beasiswa.

Cara lain untuk menempatkan anak pada kondisi kritis adalah dengan mempertemukan anak dengan ilmuwan hebat atau peraih Nobel, membawa anak ke acara-acara science fair, mempertemukan anak-anak dengan para juara  lomba internasional, mengajak ke museum sains, mengajak bermain dengan matematika, atau membawa ia ke konser musik.

Ketika anak itu sudah pada kondisi kritis dan termotivasi, langkah berikutnya adalah menyediakan fasilitas bagi  anak itu untuk  mencapai ambisinya. Di sini kita hanya boleh  menyediakan fasilitas pendukung, tidak boleh memaksa anak. Paksaan tidak akan menimbulkan mestakung dalam diri anak. Sebaliknya akan membuat anak akan melakukan hal sebaliknya.

Selanjutnya adalah terus mendampingi anak, memenuhi segala kebutuhannya agar apa yang diimpi-impikan itu bisa tercapai. Di sini pengorbanan orang tua sangat besar. Ibu Tuti bercerita bahwa ketika anaknya berusia 2,5 tahun, keingintahuan anak ini  sangat besar, ia ingin belajar membaca dan ingin dibacakan buku. Ibu Tuti dengan sabar membacakan berbagai buku dan ensiklopedi anak-anak 3 kali sehari, ini berlangsung terus hingga 1 tahun. Ibu Tuti pernah mengalami jenuh, kesal  dan bosan membacakan buku-buku itu. Tapi ia terus sabar. Tahu apa yang terjadi setelah anak itu berusia 4 tahun? Anak itu menjadi sangat cinta baca dan tumbuh jadi anak yang pintar. Usia 9 tahun pengetahuan anak itu sangat luas dan ia bisa membuat cerita dan komik yang menarik. Sang Ibu menuai apa yang sudah ditabur dengan susah payah.”

Bagaimana para orang tua? Siap menciptakan Generasi Emas Indonesia? Go get gold! Semoga tulisan ini bisa menginspirasi.

(erin)