Suarahati.org, Sidoarjo – Bijaksana adalah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Ibu Wahjutiningsih. Donatur tetap Yayasan Suara Hati ini merupakan salah seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Sejak tahun 1994 beliau menjadi seorang guru disebuah sekolah menengah pertama. Sayangnya, sebagai seorang muslim beliau harus berada ditengah-tengah mayoritas non-muslim karena SMP tempat beliau mengajar merupakan sekolah swasta umum yang kebetulan pemiliknya adalah seorang nasrani.

Berada ditengah-tengah lingkungan dimana yang muslim menjadi minoritas tidak membuat istri dari bapak Iwan ini menjadi ikut-ikutan justru beliau semakin memegang teguh keimanan yang ia miliki. Dikarenakan tempat ia mengajar tidak ada mata pelajaran agama bagi murid-muridnya, Bu Iwan turun tangan sendiri untuk memberikan pelajaran agama Islam bagi murid-muridnya yang muslim.

Meski telah lama mengabdi di sekolah tersebut dengan prestasi yang baik bahkan menjadi wakil kepala sekolah, tidak jarang bu Iwan -sapaan untuk beliau- menghadapi kritikan atau sentimen dari orang-orang yang kurang sefaham dengannya. Mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama, mungkin merupakan sebuah keputusan yang cukup sulit, namun pada tahun 2017, Bu Iwan memutuskan untuk mengakhiri karirnya.

“Mungkin ini hidayah, sudah sejak beberapa tahun belakangan hati saya mulai merasa tidak nyaman. Saya bertanya-tanya mungkin ada yang salah pada diri saya. Dari situlah saya mencoba mengembalikan semuanya kepada Allah. Saya berusaha semakin mendekatkan diri. Mensolidkan yang fardlu, dan mencoba menjalankan yang sunnah. Semakin saya mendekat pada Allah semakin tenang hati saya dan akhirnya saya memutuskan untuk fokus kepada keluarga dan ibadah, meninggalkan yang membuat saya merasa tidak nyaman. Mungkin Allah sedang membimbing saya untuk keluar dari tempat yang seharusnya bukan untuk saya,” begitu tutur beliau dengan senyum yang merekah saat menjelaskan betapa bahagia ia setelah mengambil keputusan yang bukan hanya baik namun juga In Syaa Allah benar.

Bu Iwan menjadi donatur YSH selain sebagai salah satu langkah untuk mensyukuri berkah yang diberikan Allah SWT, juga sebagai bentuk pengajaran kepada anak semata wayangnya, Anugrah Ammar Fauzie. Bu Iwan menanamkan kepada anaknya untuk tidak terlalu mengagungkan harta dan betapa baiknya jika kita bisa membagikan apa yang kita punya kepada yang lebih membutuhkan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Bu Iwan, dan semoga Bu Iwan sekeluarga akan selalu dibimbing menuju jalan kebenaran oleh Allah SWT. Aamiin Ya Rabb. (Lute)

 


Bu Iwan menanamkan kepada anaknya untuk tidak terlalu mengagungkan harta dan betapa baiknya jika kita bisa membagikan apa yang kita punya kepada yang lebih membutuhkan.

 

Suarahati.org