USTADZ SUJALI

Ustadz Sujali S.S

Suarahati.org, Sidoarjo – “Alhamdulillah… waktunya buka puasa senin, nih ..”. Demikian salah satu update status di facebook yang mungkin pernah kita baca dari seseorang atau teman kita, bahkan kemungkinan kita juga pernah menulis hal serupa di laman media sosial. Memang hal itu sah – sah saja, bahkan jika itu diniatkan memang benar untuk memberi motivasi atau contoh pada khalayak (pembaca message) insyaAllah bernilai da’wah. Namun siapakah yang tahu niat di dalam hati (hanya diri kita dan Allah saja yang tahu), apalagi jika jauh dari maksud tersebut, dikhawatirkan berbagai update status semacam di atas akan masuk kategori riya’.

Pengertian riya’ menurut bahasa adalah riya’ ( الرِيَاءُ ) yang berasal dari kata ru’yah ( الرُؤْيَةُ ) yang artinya menampakkan suatu amal kebaikan kepada sesama manusia. Sedangkan Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa riya’ adalah mencari kedudukan pada hati manusia (pujian) dengan memperlihatkan pada mereka hal – hal kebaikan. Riya’ itu sendiri dibagi menjadi 2, yaitu pertama: riya’ kholis artinya menampakkan kebaikan semata – mata hanya ingin mendapat pujian dari manusia, kedua: riya’ syirik artinya niat berbuat baik karena Allah dan juga ingin mendapatkan pujian dari manusia.

Dengan derasnya kemajuan teknologi, khususnya aplikasi media sosial di antaranya facebook, BBM, WhatsApp, Instagram, dan masih banyak lagi aplikasi serupa yang lainnya, memang dapat membuka peluang besar pada kita untuk bisa berbuat riya’, jika kita tidak bisa menggunakannya secara proporsional dan efektif di dalam pergaulan sosial di dunia maya. Hal ini disebabkan karena fitur – fitur yang disediakan cenderung kita gunakan untuk hal – hal yang (maaf) berbau pamer. Mari kita mengupdate status kita di media sosial untuk memberi motivasi, da’wah karena Allah semata, dan tidak ingin dipuji orang lain, supaya pahala ibadah kita tidak hilang percuma hanya karena ada riya’ dalam hati kita. Wallaahu a’lam.


Suarahati.org