وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”. (QS. Al Kahfi : 60)

Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Karena keputusan seorang pemimpin dari bangsa itu, akan tetap berpijak kepada sejarah yang telah berlalu. Baik dengan hikmah di balik sejarahnya, maupun melompat jauh meninggalkan sejarah buram untuk menulis sejarah cemerlang di masa yang akan datang.

Begitupun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tak lepas dari sejarah. Para santri memberi kontribusi yang cukup signifikan bagi bangsa ini. Mulai dari tenaga, dana hingga ide besar tentang negara Indonesia. Kita bisa tengok dari salah satu bukti sejarah dari seorang tokoh besar, Sang guru Bangsa Haji Omar Said (HOS) Cokrominoto yang memberikan pemahaman kebangsaan kepada para pendiri bangsa, yang sangat berpengaruh dalam kelangsungan negara Indonesia ini. Sebut saja 3 santrinya Soekarno, SM Kartosuwiryo dan Muso. Tiga santri ini memberikan dampak besar, meski dalam perjalanan mereka memilih jalan ijtihad masing-masing. Namun kiprah mereka turut mewarnai perjalanan bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Seorang Kyai Hadratus Syeikh Hasyim Ashari yang mengeluarkan maklumat “Resolusi Jihad” memberikan pengaruh besar dalam perjalanan bangsa Indonesia ini. Sehingga para santri seluruh Indonesia memilili sikap yang sama, yakni berjihad mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Peran santri di negeri Indonesia tak bisa ditampik, mengingat santri memiliki kekuatan ketaatan yang luar biasa kepada kyainya. Di Sulawesi ada tokoh yang disamarkan seorang kyai yang bernama Ahmad Lusi, yang sering kita sebut sebagai kapiten Pattimura, lantas dalam pecahan uang 1000-an tertulis namanya Thomas Matulesi. Kyai ini yang membakar semangat dan nyali para santri untuk mengusir Penjajah dari Sulawesi. Pangeran Diponegoro yang secara dandanan saja memberi kesan santri, pun berhasil merepotkan penjajah Belanda, meski pada ujungnya beliau dijebak dan ditangkap. karena kelembutan hati mukmin yang mengutamakan perdamaian. Namun dimanfaatkan oleh penjajah dengan menjebak dan menangkapnya.

HOS Cokroaminoto Sang guru Bangsa memang usianya tidak sampai pada kemerdekaan. Namun pemahaman kebangsaan yang ditanamkan kepada murid-muridnya menjadikan mereka selalu memelopori perubahan. Sebut saja sumpah pemuda hingga kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yakni melalu Ir. Soekarno yang telah dibacakan di rumah seorang kyai juga, di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.

Jika kita tengok bagaimana kisah Nabi Musa Alaihissalam, pun telah menanamkan kepada para santrinya agar merebut kembali amanah tanah nenek moyangnya yakni Baitul Maqdis, yang di dalamnya ada pasukan-pasukan perkasa.  Meski Nabi Musa dan Nabi Harun tidak sampai pada cita-cita mulia itu, namun santri yang telah mengikutinya dalam masa perjuangan dakwahnya mampu memberikan peran, yakni mengambalikan baitul maqdis menjadi tempat ibadah muslimin melalui santri Nabi Musa yang luar biasa ialah Yusya’ bin Nun.

Bagaimana dengan Nabi Muhammad?

Para santri yang mengikutinya tertulis namanya sebagai 10 sahabat Assabiqunal Awwalun, meski usia mereka masih lebih muda dari Nabi Muhammad. Kisaran 30-40 tahun ada 3 orang (Abu Bakar As Shidiq, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf). Usia antara 20-30 tahun ada 2 orang (Umar bin Khatab dan Abu Ubaidah bin Al Jarrah) dan usia antara 10-15 tahun ada 5 santri (Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqash dan Said bin Zaid). Maknanya perjalanan Islam ini dibersamai para santri yang memiliki dedikasi tinggi kepada negeri yang dibelanya. Sehingga Madinah Al Munawarah yang awalnya hanya negeri kecil, dengan tatanan Ilahiyah mampu memberikan pengaruh kepada dunia.

Selanjutnya jika kita mau belajar dari Wali Songo, betapa pemaknaan yang kuat melekat para santrinya untuk membangun negerinya, hingga terbentuklah sebuah kerajaan yakni Kerajaan Demak, yang dipimpin oleh santri bernama Raden Patah. Semua kiprah para santri di Indonesia tidak terelakkan. Mulai dari sebelum masa kemerdekaan, hingga masa-masa penataan Negara. Hingga hari ini pesantren menjadi jujukan para jurkam untuk meraih suara. Sebenarnya apa yang ditanamkan para pemuka Islam kepada para umatnya? Baiklah, mari coba kita kupas!

  1. Cinta tanah air

Rasa ini pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad kepada umatnya, yakni dengan berdoa agar ditanamkan rasa cinta kepada Madinah, sebagaimana rasa cinta yang kuat kepada tanah kelahirannya yakni Mekkah. Namun karena Madinah Al Munawarah merupakan tanah yang telah menerima dakwahnya, maka beliau berkomitmen untuk hidup dan mati di Madinah.

  1. Semangat juang melalui pemahaman jihad

Jihad menjadi puncak dalam ibadah, maka bila muslim terlah termotivasi oleh semangat jihad, sebagaimana resolusi jihad yang diserukan oleh Hadratus Syeikh Hasyim Asyari, maka semangat kemerdekaan itu menyala di seantero Indonesia Raya.

  1. Pengamalan syariat

Pengamalan ajaran Ilahi menjadi pemompa membangun negeri ini. Sehingga tertulislah dalam piagam Jakarta tentang sila pertama yang memberikan ruang bagi umat Islam untuk melaksanakan syariat bagi pemeluknya. Yang kemudian diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha ESa”, demi menampung aspirasi non muslim. Umat Islam yang berjuang mati-matian pun legowo dan menegakkan toleransi kepada umat agama lain.

Motivasi yang telah terbangun dari para santri melalui pemuka agamanya, atau di Indonesia disebut Kyai, memberikan pengaruh besar dalam perjalanan bangsa yang digagas oleh anak-anak muda yang di dalamnya para santri dengan nama “Indonesia”. Mari kita pertahankan dan kita isi kemerdekaan ini sebagaimana para pendiri bangsa telah mencita-citakan sebuah negeri yang baldatun toyyibatun wa robbun ghafur. Sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi yang tetap dalam pusaran ridho Ilahi.