اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيۡنَ اتَّقَوْا وَّالَّذِيۡنَ هُمۡ مُّحۡسِنُوۡنَ

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS An Nahl : 128)

 

Berawal dari suatu impian untuk membantu masyarakat kurang mampu, sekumpulan anak-anak muda mencoba membersamai masyarakat kurang mampu, mulai dari bidang pendidikan, kesehatan dan memperjuangkan kesejahteraan yatim dan dhuafa. Bimbel gratis, pengobatan gratis hingga peduli bencana alam, merupakan aksi sosial yang dilakukan secara spontan dan guyub.

Berangkat dari suara masyarakat yang menginginkan berdirinya lembaga sosial yang memperhatikan masyarakat dhuafa dan anak yatim, maka lahirlah Yayasan Suara Hati pada awal tahun 2010. Dengan semangat mengabdi sepenuh hati, anak-anak muda yang rata-rata masih usia mahasiswa itu, berupaya melakukan sesuatu yang manfaat bagi masyarakat.

Lantas apa visi yang akan dituju? “Menjadi yayasan yang mandiri dan profesional, demi mewujudkan Indonesia kuat yang diridhoi Alloh Subhanahu Wata’ala”. Inilah visi yang kita canangkan bersama, tanpa basa-basi Indonesia yang saat itu mengalami berbagai tantangan, mulai dari bencana, resesi ekonomi, kepemimpinan hingga ketimpangan sosial yang tak terelakkan.

Kegiatan rutin sosial harian, bulanan, hingga tahunan terus diadakan dan diupayakan oleh segenap pengurus Yayasan Suara Hati sebagai amal bakti kepada bangsa dan negara. Sesuatu yang bermula dari impian ukhrowi untuk membersamai yatim dan dhuafa dalam kehidupannya. Dari visi yang dibangun, maka Yayasan Suara Hati yang bercirikan nilai kemandirian dan profesionalisme terus menjadi ruh dan spirit setiap civitas sosial. Kemandirian dan profesionalisme itu dimaksudkan untuk mewujudkan keIndonesiaan yang kuat dan dalam bingkai ridho Alloh subhanahu wa ta’ala. Indonesia yang dicita-citakan sebagai negeri yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur. Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai dasar negara, yakni ; ketuhanan, humanisme, persatuan, musyawarah dan keadilan.

Adapun untuk mencapai visi itu semua, maka Yayasan Suara Hati membangun tiga misi, yakni ;

  1. Melaksanakan program-program sosial kemanusiaan sebagai bentuk pengamalan ajaran Ilahi.
  2. Memberdayakan potensi umat secara optimal sehingga dapat meningkatkan produktivitas diri dan kesejahteraan lahiriah dan batinilah.
  3. Menciptakan kemandirian yayasan dengan mengembangkan usaha-usaha riil dalam wadah yang berlandaskan prinsip-prinsip syariah.

Tiga misi yang dicanangkan ini, dalam satu dekade terimplikasi dalam kegiatan-kegiatan Yayasan Suara Hati. Mulai dari kegiatan sosial, ke-SDM-an hingga sarana-sarana yang terwujudkan. Kegiatan sosial tahunan Khitan Massal Gratis telah terlaksana sebanyak 10 kali dalam satu dekade, pengobatan gratis, rihlah medis suara hati atau kita singkat dengan RAHMATI pun telaksana setiap bulan sesuai proporsinya. Kegiatan asrama LKSA Suara Hati terus meningkat dari pelayanan kesejahteraan fisik, hingga kegiatan spiritual dakwah. Semua kegiatan-kegiatan sosial ataupun dakwah merupakan garis yang dimulai dari titik impian, yakni ikut berperan dalam membangun bangsa melalui empati terhadap yatim dan dhuafa.

Selanjutnya, ke depan YSH akan segera membangun lembaga pendidikan keagamaan yang tersimpul dalam “Rumah Tadabbur”, sebagai upaya dakwah dan mempersiapkan generasi sholih yang berperan secara riil dalam kehidupan berbangsa. Tak hanya itu “Rumah Cerdas Yatim” pun akan kita wujudkan sebagai sarana mencerdaskan yatim, dengan berbagai pelatihan-pelatihan keterampilan yang menunjang skill dan bakatnya. RSIA yang terus menjadi impian dalam bidang kesehatan, akan diupayakan perwujudannya.

Kami yakin dengan disiplin dan terus menebar kebaikan bagi bangsa Indonesia, maka Alloh akan terus membersamai, sebagaimana ayat di atas. Hal tersebut menyupport kami untuk tidak mudah puas dalam satu dekade ini. Mengingat ayat Alloh di atas, maka komitmen disiplin dan menebar kebaikan akan terus dilakukan lebih maksimal lagi dengan warhan jamila (cara indah) dan sobrun jamila (kesabaran yang prima). Perwujudan dalam memanusiakan manusia dilakukan dengan menjalankan Asrama Santri (LKSA) yang layak dan memadai. Upaya mencerdaskan generasi dilakukan dengan mendirikan Rumah Cerdas Yatim, Rumah Tadabbur. Sedangkan upaya untuk berkontribusi terhadap kesehatan dengan menjalankan operasional RSIA.

Dengan demikian, YSH 5 tahun ke depan yang mengusung “Solid, Produktif, Sejahtera” menemukan tangga-tangga yang jelas. Dengan tekad yang ada yakni “taqwa dan menebar kebaikan”. Jika menengok sapta program, maka Yayasan Suara Hati ke depan memiliki pokok yakni  :

  1. At Tarbiyah (Pendidikan)
  2. As Shihah (Kesehatan)
  3. As Sa’adah (Kesejahteraan)
  4. Al Basariyah/Al Insaniyah (Kemanusiaan)
  5. Ad Dakwah (Dakwah/Syiar)
  6. Al Maliyah (Keuangan)
  7. At Tijaroh (Perdagangan)

Tujuh program yang melandasi semua kegiatan itu, merupakan penjabaran dari misi yang kita ejawentahkan. Semua gerakan YSH tidak akan keluar dan di luar jalur dari kepentingan Ad Din Alloh yang sebagian tertuang dalam sapta program di atas.

Dalam menempuh semua itu, tentu dibutuhkan kesamaan tahkir (sawasiyah fi at tafkir). Mengapa? Mengingat dengan kesamaan dalam pandangan, akan menentukan gerak solidnya, semua seirama menuju arah goal yang sama dan langkah yang sama, sehingga terciptalah keindahan dalam bergerak menuju mardhotillah. Dalam menempuh semua itu juga dibutuhkan sawasiyah fi al aqidah (kesamaan dalam aqidah). Kesamaan tekad, utuh semua bertekad mewujudkan amanah yang telah diembankan kepada masing-masing personal YSH. Tidak hanya itu dalam mewujudkan itu semua dibutuhkan sawasiyah fi al maharah (keselarasan kualifiksi kemampuan/skill). Hal inilah yang akan terus menjadikan Yayasan Suara Hati tidak akan kehabisan generasi, mengingat kemampuan terus diselaraskan dan kualifikasi terus ditingkatkan. Sehingga SDM Yayasan Suara Hati akan terus berupaya menyamakan langkah, pemikiran dan kemampuan/skill seperti barisan yang kokoh dan indah.

Sebuah visi yang besar, membutuhkan orang-orang yang berjiwa besar, orang-orang yang mau berfikir besar dan orang-orang yang memiliki wawasan kebijaksanaan yang luas. Bukan kepentingan pribadinya, tapi justru kepentingan Ad Din-Nya sebagai bukti kesungguhan mengimplementasikan syariat Alloh dalam kehidupan bermasyarakat secara keseluruhan (kaffah). 

Oleh : Rofiq Abidin