اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَذَكَرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّانْتَصَرُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا ۗوَسَيَعْلَمُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اَيَّ مُنْقَلَبٍ يَّنْقَلِبُوْنَ ࣖ
Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang-orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali. (QS. As Syuara : 227).
Nyanyian-nyanyian yang terdengar di setiap sudut kehidupan memberikan warna tersendiri, berikut opini yang pro dan kontra. Terlepas dari perbedaan opini, musik menjadi pewarna kehidupan yang tak terbantahkan, hingga merasuk menjadi budaya dan masuk dalam seremonial setiap kegiatan berbangsa yang ada di dunia, misalnya lagu kebangsaan yang mewakili nilai-nilai dan cita-cita suatu bangsa dan negara. Mengumandangkan lagu dan sya’ir kebangsaan menjadi begitu bernilai untuk membangkitkan semangat juang dan memompa kecintaan serta patriotisme.
Namun musik yang melalaikan juga menjadi hal yang bisa menyusutkan produktivitas diri, bahkan juga bisa menjauhkan dari Alloh, jika lagu yang didengarkan dan didendangkan berisi hal-hal yang mengundang kemaksiatan, goyang yang erotis dan menyusutkan produktivitas diri. Sebagaimana Alloh ingatkan dalam QS Lukman ayat 6 sebagai berikut :
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
Perkataan dan syair yang kosong tanpa makna, tanpa guna dan bahkan mengundang kemaksiatan, apalagi tanpa dasar yang jelas, maka menurut saya, mukmin harus menghindarinya. Kenapa? Karena hal itu justru menjadikan seorang mukmin menjadi lalai dan melupakan dirinya dari mengingat Alloh.
Musik yang Mengingatkan Diri Kepada Alloh bolehkah?
Menurut Al-Qur’an surat As Syu’ara bahwa syair dibolehkan kepada :
- Orang-orang yang beriman
Orientasi mendengar atau bermusik adalah iman. Hal ini tentu akan ada nilai dakwah. Bukan mengedepankan kesia-siaan, membangkitkan keimanan dirinya dan orang yang mendengarkannya. Dengan berorientasi pada keimanan, maka menyikapi musik akan terkontrol oleh iman, sehingga akan jauh dari kemaksiatan, kesia-siaan dan kemudhorotan. Tentu orang beriman akan menakar semua dengan dasar imannya, bukan ngawur dan bukan serampangan. Seorang mukmin akan bertanya apakah Alloh ridho dengan perbuatannya, atau Alloh tidak meridhoi.
- Beramal sholih
Syair yang diungkapkan, adalah syair yang telah diamalkan. Bukan syair yang tidak diamalkan. Penyair yang tetap dalam amal sholih, tetap menjadi teladan sholih, bukan penyair yang menjadi teladan maksiat, bahkan syairnya menyuruh kepada kemaksiatan. Contohnya perselingkuhan, perzinahan dan permusuhan.
Syair yang jauh dari kesholihan seharusnya mukmin menghindari, bukan membiarkan diri dalam kelalaian. Orang beriman tidak hanya ngomong kebaikan tapi meninggalkan apa yang dia disampaikan tentang kebaikan. Maka jika mau bersyair, ia akan terasa apakah pesan itu telah dilakukan atau justru jadi boomerang.
- Banyak mengingat Alloh
Syair yang mendekatkan diri kepada Alloh, menurut saya bisa juga menjadikan orang iseq (cinta kuat kepada Alloh), misalnya syair-syair religi, motivasi dan tarian sufi yang orientasinya benar-benar mendekatkan diri kepada Alloh.
Musik dan ungkapan syair yang mendekatkan diri kepada Alloh justru akan sangat membantu kesadaran diri, bukan melalaikan dan menyesatkan. Jika musik dan syair telah mendekatkan kepada kemaksiatan dan menjauhkan dari mengingat Alloh, maka itulah kriteria yang harus dihindari. Namun semua tentu tidak berlebihan dan tidak melupakan waktu.
- Memotivasi kemenangan
Syair yang diungkapkan untuk mengimbangi omongan-omongan orang kafir yang menyerang muslimin, tentu dibolehkan. Sebagaimana Hasan bin Tsabit yang diminta Rasululloh untuk meningkatkan kemampuan syairnya menandingi syair pelemah keimanan yang dilempar kepada muslim. Syair yang membangkitkan keimanan, patriotisme dan kecintaan kepada negara. Seperti lagu nasional yang bernilai membangkitkan juang untuk memenangkan peperangan, itu sangat dibutuhkan untuk membantu menyemangati pasukan, warga negara untuk membela negaranya.
Bijaksana Menyikapi Musik
Semua hal yang berlebihan tentu akan berdampak kepada keburukan. Maka janganlah musik didengarkan dan diperdengarkan secara berlebihan. Semua hal yang menjauhkan kepada Alloh tentu dilarang, maka pilah dan pilihlah syair-syair musik yang mendekatkan diri kepada Alloh. Segala hal yang mendekatkan pada kelalaian, kesia-siaan dan ketidakbergunaan, buat apa dipertahankan, maka jauhilah. Sebagaimana Alloh berpesan melalui Al-Qur’an Surat Al Mukminun ayat 3 :
“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna”
Mukmin yang menang dan sukses diantaranya adalah orang yang mampu menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna. Syair-syair yang tidak berguna, sebaiknya dihindari dan ditinggalkan. Bukan dibiarkan, hingga menjadi candu hidupnya, tanpa pertimbangan-pertimbangan kegunaan dan kemanfaatan.
Oleh karena itu, bijaklah menyikapi musik, bagi yang tak sependapat, salinglah menghormati, bagi yang sependapat silahkan dilakukan dengan tidak berlebihan dan mendasarkan diri dengan keimanan, agar tidak tersesat.
Oleh : Rofiq Abidin


Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me? https://www.binance.com/lv/register?ref=SMUBFN5I
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks!