Oleh : Rofiq Abidin (Ketua Yayasan Suara Hati)
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS Al Baqarah : 22).
Manusia berasal dari tanah liat bumi, tinggal di bumi dan akan meninggal di bumi. Sudah sewajarnya manusia menjaga bumi dengan tidak melakukan kerusakan-kerusakan. Baik yang bersifat langsung, maupun jangka panjang.
Efek tindakan perusakan jangka pendek dengan membuang sampah sembarangan, sangat berakibat buruk tidak hanya terhadap bumi itu sendiri, namun juga berdampak buruk bagi manusia itu sendiri. Yakni, penyakit-penyakit yang diakibatkan dari kotoran-kotoran sampah. Sedangkan tindakan-tindakan yang berdampak panjang contohnya ialah penebangan pohon secara sembarangan, pembuangan gas motor, mobil dan pabrik yang menjadikan karbon monoksida meningkat sehingga lapisan ozon menipis, hal ini akan berdampak buruk secara imiah kepada bumi dan yang ada di dalamnya.
Maka dibutuhkan keseimbangan dalam mengambil sikap dan tindakan. Manusia telah disediakan keperluan-keperluan hidup di bumi oleh Alloh sebagaimana penegasan dalam al qur’an :
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya. (QS. Al Hijr : 20).
Penegasan bahwa Alloh yang menyediakan keperluan di bumi menjadi sangat prinsip bahwa manusia dan bumi sangat erat dan kemudian Alloh menegaskan yang memberi rezeki, pun juga kepada makhluk lain. Tidak pantaslah manusia sombong atas pencapaiannya, karena Allohlah yang menyediakan rezekinya.
Maka, manusia dilarang merusak apa-apa yang disediakan Alloh atas keperluannya di bumi. Ironis jika manusia merusak bumi, padahal yang ada di dalamnya adalah rezeki. Alloh melarang manusia berbuat kerusakan di bumi, sebagaimana Al Qur’an memandu dalam QS. Ar Ra’d ayat 25 :
وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ
Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).
Dengan beberapa dasar perintag Alloh dan larangan Alloh di atas, hendaknya orang yang beriman menjaga lingkungan bumi kita dengan keimanan. Karena menjaga apa-apa yang di dalamnya ada keperluan manusia adalah keniscahyaan yang harus kita lakukan. Bagaimana kita merusak tempat yang di dalamnya ada semua keperluan kita. Sungguh itu sangt ironis.
Maka, orang-orang yang membuat kerusakan di bumi ialah orang-orang yang merusak janji, memutus hubungan dan akan mendapatkan tempat yang buruk. Jika kita tela’ah, manusia yang berbuat kerusakan di bumi itu akan mendapatkan dampak-dampak yang dahsyat, apa itu? Ialah mendapat kutukan dan tempat yang buruk.
Tindakan yang berdampak pada kerusakan terhadap bumi akan menjadikan manusia dikutuk oleh Alloh dengan wujud bencana atau musibah, yang sebenarnya untuk mengingatkan manusia itu sendiri, yakni bumi kita yang tak nyaman lagi, seperti global warming (pemanasan global). Oleh larena itu, mari kita jaga bumi kita dengan keimanan.
Menjaga bumi dengan iman itu berarti mengelola bumi atas dasar perintah Alloh, sehingga nilai dari tindakan kita ialah lillahita’ala, bukan terpaksa, bukan dipaksa. Menjaga keseimbangan lingkungan merupakan bagian dari wujud terima kasih kepada Alloh atas alam dan lingkungan yang dihadirkan.
Untuk menumbuhkan kesadaran dalam menjaga lingkungan, bisa dibangun dari hal-hal yang tampak sepele, namun sangat mendasar. Apakah itu? Rasa syukur. Ya… rasa syukur atas alam yang masih diberikan oleh Alloh kepada kita sebagai hamba Tuhan yang dimuliakan, karena akal kita, karena ketaqwaan kita.
Selanjutnya, untuk menumbuhkan rasa empati kepada lingkungan bisa merasakan hal-hal positif yang secara langsung berdampak dalam kehidupan kita, contoh dengan udara yang bersih akan berdampak pada kesehatan. Bahkan, bisa jadi kesadaran muncul karena hal-hal buruk menimpa akibat dari apatisnya manusia terhadap kebersihan lingkungan.
Dengan demikian, rasa empati menjaga lingkungan yang terbangun dari iman, akan sangat langgeng. Karena sudah sewajarnya manusia yang diberikan wewenang sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi) menjaga bumi dan apa yang ada di dalamnya.
Iman yang berbisik itu akan menjadi lebih tulus dan kuat, karena terkait dengan Sang Khaliq. Pengelolaan bumi tak sekedar, tapi harus berdasar. Al Qur’an telah memberikan panduan lengkap kepada manusia untuk menata bumi menurut kehendak Penciptanya, yakni Alloh Subhanahu Wata’ala. Bukan menurut kebutuhan hawa nafsu yang tak mempertimbangkan efek jangka panjang. Hanya kepuasan atau bahkan kemanfaatan yang mengorbankan masa depan bumi itu sendiri.
Jadi, jagalah lingkungan dengan penuh rasa iman. Hasilnya, akan kembali kepada diri sendiri, orang lain serta bumi sebagai tempat terhampar yang dipilihkan oleh Alloh kepada kita semua. Semoga Alloh menjaga rasa empati kita terhadap lingkungan, demi, masa depan manusia itu sendiri.
“Menjaga bumi dengan iman itu berarti mengelola bumi atas dasar perintah Alloh, sehingga nilai dari tindakan kita ialah lillahita’ala, bukan terpaksa, bukan dipaksa.” (Rofiq Abidin)


Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you. https://www.binance.com/register?ref=IHJUI7TF
Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.