Oleh : Etty Sunanti

 

Adversity quotient (AQ) adalah skor yang mengukur kemampuan seseorang untuk menghadapi kesulitan dalam hidupnya. Oleh karena itu, umumnya dikenal sebagai ilmu ketahanan. Istilah ini diciptakan oleh Paul Stoltz.

 

AQ adalah salah satu indikator kemungkinan keberhasilan seseorang dalam kehidupan dan juga bermanfaat untuk memprediksi sikap, tekanan mental, ketekunan, umur panjang, pembelajaran, dan respons terhadap perubahan dalam lingkungan.

 

Ada 4 dimensi Adversity Quotient yang perlu kita pahami :

  1. Daya Tahan (Endurance)

Dimensi ini menggambarkan berapa lama indovidu menangkap kegagalan atau hambatan.

  1. Jangkauan (Reach)

Dimensi ini menggambarkan seberapa jauh kegagalan atau hambatan mempengaruhi area lain dalam hidup individu.

  1. Asal Usul dan Kepemilikan (Origin and Ownership)

Sumber berkaitan dengan rasa penyalahkan diri (blame).

  1. Kendali (control)

Seberapa jauh seseorang dapat secara positif mempengaruhi situasi. Seberapa jauh seseorang dapat mengendalikan responnya terhadap situasi.

 

Jauh sebelum teori AQ, intisari ajaran Islam adalah ketahanan diri dalam hidup. Mari kita tengok sejarah para Nabi. Mulai Nabi Adam Alaihissalam hingga Rasulullah Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam, mengajarkan hidup dengan ketahanan yang sangat kuat, menghadapi segala persoalan kehidupan hingga menghadapi musuh agama Allah. Yang satu memperjuangkan kebenaran, yang satu memperjuangkan kesesatan. Manakah yang lebih kuat dalam pertempuran tersebut. Bagitupun dalam mendidik anak. Maka Allah memberikan perhatian yang sangat besar, agar muslimin yang beriman memiliki generasi yang tangguh.

 

Allah berfirman dalam Surat Annisa’ ayat 9 yang artinya :

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kehidupannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan perkataan yang benar.”

 

Dari ayat tersebut, sampai Allah mengatakan, hendaklah takut kepada Allah apabila mempunyai generasi yang lemah. Artinya, kita semua diperintahkan memiliki generasi yang kuat. Kuat di sini tentu saja, memiliki kekuatan berbagai aspek. Baik fisik ataupun non fisik.

 

Dalam kaitannya dengan AQ, adalah tiap anak hendaknya memiliki kekuatan kecerdasan menghadapi tantangan, tidak mudah putus asa, tidak mudah menyerah, selalu optimis, berjuang tanpa Lelah dan tanpa menyerah.

Tentu saja, menciptakan generasi yang memiliki AQ yang bagus perlu latihan semenjak dini. Apa yang harus dipersiapkan orang tua atau para pendidik agar anak memiliki AQ yang bagus???

 

  1. KALIMAT MOTIVASI.

Semenjak bayi, balita, anak, remaja, hingga dewasa, orang tua wajib memberikan atau mengucapkan kalimat motivasi yang positif kepada mereka. “Kamu pasti bisa nak, tidak ada yang tidak bisa, jangan menyerah, ayo berjuang nak.”

Setiap apa yang diucapkan orang tua, sungguh itulah senjata ampuh untuk menjadikan mereka orang yang luar biasa. Maka berhati-hatilah bagi tiap orang tua. Jangan ucapkan kalimat yang buruk kepada putra-putri kalian.

 

  1. GAGAL ITU WAJAR.

Jangan menghakimi buruk ketika anak mengalami kegagalan. Bisa jadi saat mengalami kegagalan, itulah guru yang terbaik. Karena dari kegagalan, setiap orang bisa belajar lebih besar. Dan memiliki semangat untuk tidak mengalami kegagalan. Seringkali, di saat orang gagal, malah dijadikan bahan olok-olok. Tetapi, wallahi jangan lakukan bagi orang tua dan pendidik. Karena gagal itu sudah sangat sakit. Jangan ditambah dengan kalimat menyakitkan.

 

  1. TERUS BERLATIH

Bagi orang tua dan pendidik, jangan pernah berhenti melatih. Dan bagi sang murid jangan pernah berhenti berlatih. Karena keahlian bisa diperoleh dari terus berlatih. Penyakit masyarakat kita adalah tidak menguasai bidang dengan baik. Rata-rata hanya sekedar bisa. Bisa dihitung dengan jari, orang yang memiliki keahlian tertentu. Ke depan, semestinya anak-anak kaum muslimin harus menjadi ahli di bidangnya. Dan menjadi ahli ini memang sangat berat, tidak boleh putus asa. Dan tidak boleh menyerah.

 

  1. MEMBERIKAN TANTANGAN DAN UJIAN

Untuk mengukur kemampuan pastilah ada ujian atau evaluasi belajar. Oleh karena itu, semakin banyak tantangan yang diberikan kepada anak, di situlah kemampuan teruji.

Tantangan yang berkala, sesuai level yang bersangkutan. Akan terlihat seberapa besar kemampuannya.

 

  1. MEMBERIKAN REWARD ATAS PRESTASI

Memberikan reward atau penghargaan atas setiap preatasi anak. Akan membuat mereka merasa dihargai. Dan semakin termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.

 

  1. ISTIQOMAH

Perbuatan yang berat adalah istiqomah. Yaitu konsisten dalam kebaikan yang telah dilakukan. Kebanyakan orang sudah merasa cukup atau puas dengan apa yang diimpikan. Tetapi mempertahankan kebaikan terus menerus itu yang sering dilupakan. Oleh karena itu bagi tiap mukmin wajib istiqomah, konsisten dalam kebaikan dan kebenaran. Khususnya atas prestasi yang diperoleh seyogyanya menjadi kebiasaan diri.

 

Orang-orang yang sukses, terbukti mereka memiliki AQ yang bagus. Ibarat kata, jatuh bangun lagi. Jatuh bangun lagi. Tidak mengenal lelah untuk berjuang dan bangkit. Tidak ada kata gagal dalam kamus mereka.

 

Allah berfirman dalam Surat Al Anfal ayat 60 yang artinya :

“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).”

 

Begitu hebatnya, kekuatan yang harus kita persiapkan. Tantangan yang berat, apakah sanggup kita mengajarkan kepada generasi yang akan datang?

Sebagaimana Islam yang bisa kita nikmati saat ini. Adalah buah kegigihan para pengikut Rasulullah yang tanpa putus asa menyebarkan Islam.