SuaraHati.org | Kondisi lingkungan serta kehidupan yang penuh persaingan, menjadi tantangan bagi orang tua dalam mendidik anaknya untuk belajar keras agar menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan tidak mudah putus asa. 

Anak yang tangguh bukan harus anak yang memiliki kecerdasan atau intelegensi dalam golongan superior atau very superior (walaupun hal ini dapat menjadi anugerah tak terhingga dari-Nya), melainkan anak yang memiliki kepribadian pantang menyerah dalam menghadapi tekanan dan tantangan, selain itu ia juga  mampu melihat tekanan dengan ringan hati sehingga selain terus mencoba, ia juga tidak berkecil hati saat apa yang ingin diraihnya belum tercapai di saat itu.

Adapun ciri-ciri anak tangguh, antara lain:

  1. Mampu mengarahkan dirinya sendiri untuk mencapai tujuannya.
    ㅤㅤ
  2. Mampu menangkal kesulitan, berani dalam arti yakin akan kemampuan dirinya sendiri. Anak seperti ini selalu mencari tantangan karena tantangan memberi mereka peluang untuk berhasil.
    ㅤㅤ
  3. Mempunyai motivasi untuk maju. Satu persamaan sifat dari anak yang mendapat nilai baik di sekolah adalah senang belajar dan orang tua dapat membantu membangkitkan semangat ini.
    ㅤㅤ
  4. Mampu fokus pada masalah yang sedang dihadapinya dan mengenal kelebihan serta kekurangan dirinya sendiri. Misalnya, anak tidak harus menjadi juara tetapi usaha yang ia lakukan merupakan usaha terbaiknya untuk maju.
    ㅤㅤ
  5. Anak yang sukses memahami bagaimana perasaan-perasaan orang lain, sifat ini membuat mereka dapat bekerja baik dalam kelompok
    ㅤㅤ
  6. Fungsi intelektualnya baik dan easy going namun tetap berpikir kritis karena ini akan membantunya secara aktif membangun pertahanan diri terhadap serangan informasi dari sekelilingnya.
    ㅤㅤ

Yup, memiliki anak dengan ciri-ciri di atas tentu menjadi keinginan semua orang tua. Namun, bagaimana bisa membesarkan anak yang tangguh? Berikut beberapa pesan penting untuk membesarkan anak agar menjadi tangguh :
ㅤㅤ

Mengakui tak semua hal berjalan sempurna.

Sebagai orang tua, wajar jika kita berpikir yang terbaik bagi anak-anak adalah selalu mendukung kehidupan mereka dengan segala upaya. Padahal, ini justru meningkatkan risiko rapuhnya pribadi anak itu sendiri.

Faktanya, orang tua tak bisa selalu sejalan dengan kehidupan dan menciptakan pengalaman hidup yang positif secara terus-menerus. Kadang-kadang, orang tua tak berada di saat anak membutuhkan. Orang tua tak bisa meringankan pengalaman anak-anak tentang dunia. Sementara, hidup akan selalu menginterupsi upaya terbaik orang tua. Sebuah contoh, saat mengunjungi taman bermain, anak Kita ditolak sekelompok anak yang diajaknya bermain bersama. Kita kesal dan berupaya menarik sang anak menepi. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Tarik nafas dan kembalikan fokus kita pada pikiran jernih. Setelah tenang, cobalah tempatkan diri dalam situasi dan perspektif anak. Coba bangun keriangan dan tanyakan bagaimana perasaannya. Selanjutnya, bangun percakapan yang penuh perspektif dan kreativitas. Jangan kaget jika dari kedewasaan yang diteladankan orang tuanya, anak balita kita mampu menjadi anak yang kuat, yang mampu memikirkan ide-ide positif untuk mengatasi masalahnya sendiri.
ㅤㅤ

Tunjukkan, bukan katakan.

Modeling adalah salah satu cara yang paling baik untuk menyampaikan nilai-nilai kepada anak. Tak peduli seberapa keras kita berusaha memberitahu yang terbaik, ini tidak akan pernah berhasil mengajar nilai anak-anak seperti pentingnya keingintahuan, disiplin, dan ketangguhan.

Orang tua harus memulai dengan pengalamannya sendiri. Untuk membesarkan anak tangguh , berikut beberapa saran praktis yang dapat dilakukan orang tua:

Fokus diri sendiri. Ketika kita berkomitmen mengatasi masalah keuangan keluarga sendiri misalnya, anak akan belajar secara langsung nilai-nilai yang kita terapkan. Ingat, perilaku lebih berpengaruh daripada menasihati.

Transparansi. Ketika kita gagal meraih harapan atau melakukan hal yang buruk, akuilah di hadapan anak. Jujurlah ​​pada anak-anak kita. Jika kita terlanjur berkata sinis pada pasangan di depan anak-anak, anggaplah ini sebagai kesempatan untuk mengatakan betapa sedihnya kita telah melakukan sesuatu yang disesali. Katakan jika kita sedang berpikir keras bagaimana caranya meminta maaf, atau ingin berubah di kesempatan lain. Dengan cara ini, anak akan melihat bahwa kita melakukan hal yang sama dengan nasihat kita kepadanya ketika dia bertikai dengan saudaranya.

Pengendalian diri. Perhatikan kebiasaan kita yang kerap berkaitan dengan anak-anak. Misalnya, ketika anak membuat urat saraf kita menegang dengan perkelahian, jangan bereaksi penuh amarah dan berkesan frustrasi dengan ulah mereka. Cobalah kendalikan diri dengan menarik diri sebentar untuk menghela nafas. Lalu, kembali pada situasi dengan penuh kesadaran. Upaya ini membuat anak-anak belajar lebih trampil menata emosi diri.

Beri tantangan. Carilah kesempatan mengkontekstualisasikan kesulitan sebagai salah satu pengalaman belajar. Kesalahan bukanlah masalah pokok, namun dapat diperbaiki. Misalnya, ketika anak mengeluh soal pekerjaan rumah, les, dan seterusnya, gunakan kesempatan untuk menjadi model ketekunan dan komitmen. Cobalah ajak anak memperhatikan perkembangan secara bertahap yang telah dilakukannya, bagaimana ketrampilan meningkat seiring dengan latihan yang dilakukan. Jangan lupa, beri pujian atas hasil kerja yang telah dilakukannya!
ㅤㅤ

Ketangguhan dimulai dari orang tua.

Sebagai orang tua, kita kerap mendapati situasi yang membuat kecewa, sedih, juga marah. Cobalah fokus pada diri sendiri dan lakukan upaya untuk me-re-orientasi diri demi mendukung diri sendiri sehingga mampu menjadi orang tua yang lebih baik. Perhatian dan belas kasih diri sendiri adalah hal yang sangat penting di sini untuk membina ketangguhan orang tua maupun anak-anak | SuaraHati.org

Demikian, semoga bermanfaat.

 

(erin, dari berbagai sumber)