Pujian merupakan ujian, dan ujian dapat berupa suatu yang kebaikan dan keburukan, firman Allah ta’alaa :

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiya’: 35).

Pujian biasanya terlontar dari seseorang kepada kita karena kelebihan atau atas sesuatu hal dang telah kita kerjakan , hal tersebut dapat memunculkan rasa sombong dan takjub pada diri sendiri, kita lupa bahwa semua nikmat yang ada hanyalah dari Allah, lalu kita merasa hebat akhirnya lupa bersyukur . kekaguman terhadap diri sendiri akan membawa kebinasahan .

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan) dan (3) ujub (takjub pada diri sendiri).”

Sebenarnya yang terbaik adalah bukan pujian yang namun doa kebaikan dan keselamatan itu yang kita perlukan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar kita tidak memuji seseorang dengan berlebihan dihadapannya , diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ada seseorang yang memuji temannya di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau bersabda :

“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu -berulang-ulang-. Kalaupun salah seorang di antara kalian harus memuji temannya maka hendaknya dia mengatakan: ‘Aku mengira dia seperti itu dan Allah lah yang menghisabnya, aku tidak memuji siapapun di hadapan Allah”.

Bahkan dalam riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sangat tegas memerintahkan agar memberi hukuman kepada orang yang terlalu sering dan berlebihan memuji orang lain.

Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke wajah-wajah orang yang berlebihan dalam memuji.”

Lantas apakah kita tidak boleh memuji seseorang sama sekali ?

Jawabnya boleh saja asal tidak berlebihan dan dalam rangka ada maslahat yang dapat membangkitkan motivasi dan kebaikan pada orang tersebut. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin memberi rincian hukum memuji dan membolehkan hal tersebut jika ada maslahat, beliau berkata :

“Jika pada pujian terdapat kebaikan dan motivasi baginya atas sifatnya yang terpuji dan akhlak yang mulia, hal ini tidak mengapa karena bisa memberikan motivasi kepada orang tersebut.”

Dianjurkan kita ucapkan maa syaa Allah apabila mendapat pujian agar dapat menghindarkan dari sifat sombong dan mata hasad. Dalam riwayat lain kita dapat membaca doa agar terhindar dari penyakit hati akibat dari pujian “Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan.” (Gohijrah.com)

Silahkan Di Share, jika Artikel Ini Bermanfaat !
0Shares
0Shares