Oleh : Rofiq Abidin  (Direktur Yayasan Suara Hati)

 

Kelembutan hati seorang mukmin diuji saat ada didepannya yang lebih tinggi darinya, lebih berprestasi dan lebih berkesempatan. Kaum muhajirin dan kaum anshar pernah mengalami hal yang demikian, namun mereka lulus, tidak dengki, tidak iri. Meskipun syahwat dan idealisme perubahan diusung untuk perbaikan. Rasa saling mencintai sesama saudara akan menimbulkan rasa saling menghargai, saling support dan saling memaafkan. Maka saat kaum muhajirin tiba di Yasrib, kaum anshar bahkan menunjukkan kelapangan hati saat dipersaudarakan oleh Rasululloh.

Sebut saja sahabat yang sungguh kaya raya Saad bin Robi’ (anshar) yang menawarkan kepada saudara barunya Abdurrahman bin Auf (muhajirin) hartanya dibagi dua dengan saudara yang baru dikenalnya dan istrinya yang disukai akan diceraikan untuk saudaranya. Sungguh kelapangan hati bagi saudara seaqidah. Namun, Abdurrahman yang mantan orang kaya selama di Mekkah menghormati dan tidak menerimanya, bahkan mendoakan saudara barunya itu.

وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa : “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.(Q.S.59:10).

Betapa kedewasaan ukhuwah itu begitu nyata. Lapang hati untuk saudaranya. Tak ada dengki, tak ada hubbud dunya, sungguh dunia tak ada seberapanya dibanding nilai persaudaraan yang begitu indah. Orang beriman tidak ingin membiarkan kedengkian dalam hatinya kepada saudaranya, karena ia memahami itu harga dan nilai sebuah persaudaraan. Bukan kilauan dunia, bukan ketamakan dan bukan pula pujian, tapi ada nilai besar dari sebuah persaudaraan. Oleh karena itu, kesempatan yang diberikan Alloh kepadanya berupa harta, jabatan dan keluarga bagi mukmin tidak akan menyilaukannya dari mencintai Alloh, Rasul dan Jihad fi sabilillah.

Namun ketika saudaranya dalam kelalaian, sahabat tidak akan membullynya, justru menyupport dan menasehatinya dengan cara yang ma’ruf. Sebagimana Salmam Al Farisi yang dipersaudarakan dengan Abu Darda’, mengingatkannya dengan sangat bijaksana, tanpa menyinggung dan tanpa merendahkannya dengan ghibah, fitnah dan namimah, namun proses dan ujungnya begitu indah dan diakui Rasululloh. Masih banyak kisah sahabat menarik lainnya yang dapat dijadikan ibrah untuk saling mencintai saudaranya.

Seorang mukmin yang diingatkan saudaranya akan legowo bermuhasabbah, bukan membalikkan kelemahan saudaranya kembali, sehingga pesan itu tidak masuk untuk perbaikan. Justru mukmin akan berterima kasih bagi sahabatnya yang telah peduli mengingatkannya. Sebagaimana Zubair bin Awwam diingatkan Ali bin Abi Thalib, sehingga ia kembali pada kebenaran, bukan terus menghujat kembali.

Sebab kebenaran sejati itu tak akan diingkari hati. Hati mukmin yang bersih, akan jauh dari prasangka, jauh dari iri hati, apalagi fitnah. Mukmin sejati tidak mau membiarkan kerusakan hatinya, tidak mau membiarkan kekeruhan hatinya, karena ia siap, berani dan jujur untuk bermuhasabbah. Bening tak ternoda oleh keruhnya dunia, pujian dan hasad.