Oleh : Rofiq Abidin

 

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Hadid : 4)

Dua sejoli yang saling mencintai menumpahkan setiap inci perasaannya dengan sangat menyenangkan dan menyamankan hatinya. Mereka melewati hari-hari kebersamaan dengan saling sapa manja dan saling empati dalam kesetiaanya. Siaga sebelum keperluan terucap, datang sebelum kata meluncur mesra memanggil dan hadir dalam setiap kesulitan. Seseorang akan memberikan apapun yang diminta kepada orang yang disayanginya. Itulah secuil gambaran kemesraan dua sejoli manusia.

Namun bagaimana dengan insan yang sedang diujung romansa dengan Sang Pencipta, apakah sama? Pernahkah kita merasakan larut dalam ketataan kepada Allah, merasakan nikmatnya sholat, nikmatnya shodaqoh dan nikmatnya berbuat kebaikan? Itulah saat-saat dimana kita bercengkrama dengan Allah, yang seharusnya bukan hanya kita dapati pada saat bulan Ramadhan. Namun apakah kenikmatan kita dalam mengingatnya telahpun direspon Allah dengan dibersamai dalam setiap saat? Sehingga kita merasakan real effect yang kita harapkan.

 

Kapan Allah Membersamai HambaNya?

Jika kita menela’ah ayat di atas, pada dasarnya Allah selalu membersamai hambaNya setiap saat, dimana kita berada. Karena kemahatahuan Allah. Namun, tak semua dibersamai dalam kedekatanNya. Yang tak mendekat tetaplah terlihat olehNya, yang mendekatpun lebih diperhatikan olehNya. Yang maksiat tetaplah dalam ketelitiannya, yang taat tetap dalam hitungan balasanNya. Maka hamba yang dibersamai dalam kedekatanNya, tentu berbeda rasanya, dibawah ini penulis akan coba paparkan dua kategori yang dibersamai oleh Allah :

1. Hamba Allah yang sabar

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah : 153)

Hamba Allah yang sedang dalam ujian, banyak yang terlarut dalam munajatnya untuk meminta solusi, meminta petunjuk pilihan, namun tidak banyak yang memohon bimbingan dalam sabar. Karena dengan bimbingan kesabaran sebenarnya justru solusi itu mengalir deras dan keputusannya akan terbimbing tepat menuju yang terbaik untuk kemaslahatannya. Allah membersamai orangorang yang sabar dalam setiap ujian, baik kehilangan, bencana, himpitan, godaan maksiat dan lain sebagainya. Bagaiama bentuk sabar yang seharusnya saat diuji :

Ia bertahan dalam ketaatan kepada Allah. Saat mendapat ujian yang begitu hebat, ia tetap dalam prinsip-prinsip ketaatan kepada Allah. Walau ada tawaran yang menggiurkan yang keluar dari nilainilai syariat. Misalnya, ada yang menawarkan solusi ribawi, ia tetap tegas dalam ketaatan kepada syariat. Misalnya saat shoum ia tetap menjaga untuk tidak batal hingga matahari terbenam. Inilah berarti Allah membersamai dalam sabarnya, membimbingnya dan memberikan solusi dalam sabarnya.

Ia bergerak pantang menyerah. Saat diuji, bukan kata keluh yang keluar, bukan menghadirkan katakata malas dalam upaya, tapi senantiasa berfikir dan menghadirkan alasan untuk semangat dalam upaya. Karena meyakini Allah tak akan mungkin menguji hambaNya melebihi kemampuannya. Saat seperti inilah ia dibersamai Allah, dengan menanamkan dan menjaga keteguhan upaya. Sehingga tak ada celah malas dan menyerah dengan keadaan.

Ia berkhusnudhon kepada Allah. Seorang yang beriman akan yakin bahwa Allah senantiasa menghadirkan hikmah dibalik sebuah peristiwa dan kejadian. Semua yang Allah hadirkan dalam kehidupannya mengandung makna dan kebaikan untuknya. Maka ia senantiasa menata hatinya untuk berkhusnudhon kepada Allah, bukan menganggap ketidakadilan Tuhan, tapi justru setiap peristiwa yang menguji ada maksud yang baik dari Allah. Inilah seseorang yang selalu bercengkrama dengan Allah dalam ujian yang menghampirinya.

 

2. Hamba yang terjaga dalam ketaqwaan

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. At Taubah : 123)

 

Dalam setiap jengkal aktivitas kita, sering ada dua sisi yang mengharuskan kita untuk memilih. Namun jika kita telah tahu prinsipprinsip syariat, maka akan terbimbing dalam pilihan yang Allah ridhoi. Seseorang yang bersabar dalam ketaqwaan dibuktikan dari seberapa kuat ia konsisten memilih sikap yang tepat sesuai dengan kehendak syariat. Bahkan ia cenderung membaguskan pilihannya dari orang yang lainnya, kalau orang lain memilih standart ia akan memilih lebih dari standart, kalau orang lain memilih sekedar, ia akan lebih mengilmui dan lebih baik dari itu. Karena pilihan orang yang bertaqwa itu beda dengan pilihan orang yang sekedar gugur kewajiban. Berikut ini pilihan sikap orang bertaqwa yang senantiasa dibersamai Allah :

Waktu tepat. Mukmin yang memilih jalan taqwa akan senantiasa mengikuti bisikan wahyu, ketepatan dalam waktu, tidak suka menundanunda kebaikan. Ada panggilan Allah, langsung bergegas merespon, bukan nunggu ditanya, bukan nunggu ditawari. Inilah mukmin yang senantiasa dibersamai Allah dalam bimbingannya, ia bercengkrama dalam ketaqwaannya.

Kualitas amal terbaik. Mukmin yang menjaga ketaqwaan itu selalu menunaikan amal dengan kualitas terbaik, kehusukan terbaik, keikhlasan terbaik dan kepedulian terbaik. Buka sekedar berbuat, tapi lebih dari itu. Bukan sekedar beramal, tapi mengusir riya’ dan meninggalkan sombong. Itulah orang yang senantiasa bercengkrama dengan Allah, sehingga dalam amalnya ia senantiasa mendapatkan nilai lebih dari Allah.

Pilihan sikap yang dicintai Allah. Apa saja perintah Allah ia lakukan semampunya, apa saja larangan Allah ia tinggalkan. Itulah gambaran orang-orang yang bertaqwa. Namun pilihannya mengamalkan perintah Allah, memilih sikap yang paling dicintai Allah, misalkan saat beramal, ia lebih memilih beramal rahasia dari pada yang terangterangan. Sholat, ia lebih memilih diawal waktu daripada menunda dengan alasan kata “sibuk” dan amalan-amalan lainnya yang dicintai Allah. Inilah muttaqin yang senantiasa dibersamai Allah, dibimbing hatinya dalam kebaikan yang sempurna. Inilah menurut penulis orang-orang yang mendekat kepada Allah dan dibersamai dalam setiap langkah hidupnya. Sehingga ia senantiasa bercengkrama dalam setiap langkah hidupnya. Semoga Allah menjaga kesabaran dan ketaqwaan kita, sehingga dapat terus dibersamai oleh Allah Subahanau Wata’ala. Aamiin.