Suarahati.org, Sidoarjo – Dewasa ini banyak yang memperdebatkan tentang konsepsi pemahaman islam. Ada yang beranggapan bahwa islam mencetak seseorang menjadi fanatisme yang berlebihan dan kekerasan. Namun sebagian yang lain juga menegaskan bahwa islam adalah agama yang mencintai perdamaian. Pun juga ada yang beranggapan bahwa islam adalah agama penyebar teror. Namun juga banyak yang merasakan bahwa islam adalah agama yang membawa ketenangan bathin dan peduli tarhadap sesama.

Di lain pihak juga tidak sedikit para ilmuwan yang mendapatkan hidayah Allah karena penemuannya yang ternyata telah ada didalam Al Qur’an dan ujungnya meyakini akan kebenaran Al Qur’an itu sendiri. Kontroversi persepsi ini terus menajam ketika sekelompok yang mengatasnamakan ummat islam meng’i’lankan (menguumkan) jihad fisabilillah dengan menebar teror dan bom bunuh diri. Ini merupakan dua sudut berbeda yang menjadi meinstream pemahaman dewasa ini.

Melihat kontroversi persepsi yang kian meruncing ini. Hendaknya kita sebagai ummat islam tak boleh tidur dalam pemahaman islam sosialita yang terjebak ke dalam hidup yang konsumtif dan mempraktekkan islam secara parsial. Sehingga lupa memikirkan kewajiban kita terhadap islam itu sendiri. Ada dua kemungkinan pemahaman tentang orang-orang yang memakai baju islam namun dengan cara kekerasan. Yang pertama, boleh jadi aksinya adalah dikarenakan kegeraman terhadap prilaku-prilaku sekulerisme yang terpenetrasikan kedalam segala aktivitas hidup ummat islam, muali dari budaya, ekonomi bahkan kepada politik.

Tetapi para ummat islam yang memiliki kesempatan dan wewenang mencegahnya tidak bisa berbuat apa-apa, sehingga mengambil jalan pintas. Yang kedua mungkin saja ada yang mengskenariokan aski-aksi ini untuk menciptakan opini islam yang negatif. Ini semua barulah persepsi. Tinggal bagaimana ummat islam bisa bersikap arif agar tidak tidur melihat dan mendengar fenomena ini, namun memperdalam ajaran teologis keislamannya agar tidak terjebak kepada pemahaman yang menjadikannya makin jauh dari tujuan adanya islam di dunia itu, yakni rahmatan lil alamin.

 

Berjihad dengan Al Qur’an

Secara bahasa jihad merupakan isim masdar dari fiil jahada yang artinya “mencurahkan kemampuan”. Jika kita mendasarkan pemikiran bahwa islam yang secara bahasa adalah damai/semalat. Maka jihad hendaknya selalu mendasarkan kepada perdamian. Bahkan dalam kamus bahasa Inggris (Oxford Reference Dictionary ) malah Jihad diartikan sebagai ‘perang untuk melindungi Islam dari ancaman eksternal atau untuk siar agama di antara kaum kafir. Yusuf Al Qordhowi memaknakan bahwa jihad merupakan upaya pemberantasan kebodohan, kemiskinan dan memperantas penyakit yang meligkupi ummat islam.

Dengan demikian bahwa perintah Allah agar kita berjihad dengan Al Qur’an sebagaimana firman Allah surat Al Furqon ayat 52 itu sangat tepat. Dari pesan Ilahi di atas bahwa kita dilarang mengikuti orang-orang yang mengingkari Al qur’an dengan berbagai macam bentuk dan subtansinya. Jihad besar yang di gadang-gadang oleh Rasulullah SAW adalah jihad melawan hawa nafsu bisa dikalahkan dengan tetap pada jalur Al Qur’an. Hawa nafsu bisa menjadikan seseorang lupa diri, sehingga Rasulullah SAW mewanti-wanti agar kita waspada dengan satu hal ini. Al Qur’an senantiasa menjadi pelurus sifat, sikap dan keputusan kita. Bentuknya sangat banyak, muai dari melawan marah, dendam, besikap boros, malas, menghasud, menghardik, sombong, rakus dan penyakit-penyakit hati lainnya.

Berjihad dengan Al Qur’an berarti mencurahkan kemampuan untuk meninggalakan sifat, sikap dan prilaku kufur dan menjadikan Al Qur’an sebagai alat/senjata pengendali diri, yakni dengan menjadikan Al Qur’an sebagai landasan berfikir dan berbuat. Adapun sikap yang bisa menjadi senjata untuk berjihad dengan Al Qur’an adalah sebagai berikut :

As Sobru. Sabar merupakan anjuran Allah kepada hambaNya untuk menjadi benteng pertahanan atas hebusan kencang hawa nafsu. Nafs ammaroh yang bisa berbentu kikir, hasud, marah ini perlu kita lawan dengan jiwa sabar. Karena orang yang sedang marah dalam keadaan tertekan, orang yang sedang kikir justru menekan diri untuk tidak mengeluarkan hartanya untuk orang lain dan orang yang sedang menghasud itu karena kurang puas terhadap orang sikap orang lain. Maka dengan jiwa dan sikap sabarlah kita akan bisa membendungnya. Jangan mengutamakan hawa nafsu, karena ia tidak pernah ada ujung kepuasannya. Sabarlah yang bisa membatasi hawa nafsu dan sabarlah yang menjadikan kita makin menemukan kebahagiaan yang merupakan esensi kepuasan hidup itu sendiri

 

As Suja’. Menolak yang salah itu tidak mudah manakalah seseorang tidak memiliki jiwa As Suja’. Karena sikap kehati-hatianya yang terlalu menajadikan dia mati langkah dan takut melakukan apapun, walau dirasa benar. Berani bukan saja melawan apa yang ditakutkan, tapi berani adalah menakuti apa yang salah menurut Al Qur’an. Sehingga menolak yang salah tidak ada keraguan lagi. Penyakit hati yang bernama Al-Hirsh/tamak/rakus merupakan sikap ketakutan akan kehabisan harta. Sehingga ketamakannya mebutakannya dalam meraup rezeki Allah. Dengan sikap As Suja’ (berani) seseorang akan mengusirnya, sehingga bersikap lebih bersahaja dan lebih bersyukur. Termasuk mendamaikan saudara yang bertikai, itupun butuh keberanian melakukannya, itupun juga bagian dari jihad.

 

Al Istiqomah. Keteguhan seseorang itu ditentukan dari seberapa dalam keilmuan seserang dan seberapa tahan menahan godaan. Maka memerangi kebodohan merupakan jihad besar bagi segenap ummat islam. Jangan ragu bahwa para pendidik itu sedang berjihad, karena ia memerangi kebodohan, sehingga menjadi manusia yang istiqomah dalam kehidupan.

Pada dasarnya tiga hal ini barulah sekelumit bentuk jihad dengan Al Quran. Namun setidaknya pemahaman ini cukup menjadi dasar untuk tidak memaknakan jihad secara serampangan. Karena jihad itu mengerahkan kemampuan atau bersungguh-sungguh menuju keridhoan Allah SWT. Karena menuruti hawa nafsu tak akan pernah menemukan kebahagiaan. Mari kita pahami firman Allah berikut ini :

 

وَكَذَٰلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا ۚ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَمَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا وَاقٍ

Dan Demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, Maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (QS Ar Ra’ad : 37)

 

Sangat jelas bahwa berjihad dengan Al Qur’an merupakan jihadun Akbar (jihad yang besar) sebagaimana disebutkan dalam ayat pembuka di atas. Maka mulai sekarang berjihadlah, dengan mengerahkan segala kemampuan dan bersungguh-sungguh melawan penyakit-penyakit hati yang kain hari kian menghinggapi kita dan bisa jadi menutupi hidayah, rahmat dan keberkahan dari Allah jika tidak kita lawan. Terorlah ketakutan anda dengan menguatkan keberanian untuk mengikuti kebenaran. Terorlah hawa nafsu anda dengan sering mendengarkan nasehat-nasehat baik dan dengan mengkaji Al Qur’an. Ini teror yang dibenarkan.

Pasanglah rakitan-rakitan “bom sabar” disudut hati anda, agar kemarahan itu hancur lebur dan berganti menjadi pribadi yang ramah, bukan pemarah. Hardiklah kemalasan anda dengan ungkapan-ungkapan verbal yang menakutinya, sehingga malas itupun lari dan tidak datang lagi. Sehingga anda sanggup bekerja keras/bermal sholeh menuju apa yang anda impikan. Semoga Allah mengokohkan hati kita untuk tetap sanggup berjihad di jalan Allah dengan cara yang benar dan diridhoi Allah SWT. Wallahu’alam. Suarahati.org

 

 

Silahkan Di Share, jika Artikel Ini Bermanfaat ! “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)
0Shares
0Shares