Suarahati.org, Sidoarjo – Takwa tak memandang tua atau muda, pria atau wanita, pimpinan atau karyawan biasa. Taqwa bisa menyelinap dimana saja yang konsisten dengan syariat yang ditetapkan Allah. Apa saja ujian yang menyapanya, tak akan menjauhkannya dari memilih cara-cara taqwa, bukan cara-cara yang tidak dibearkan syariat. Lantas apa esensi dari takwa itu sendiri ?

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu bahagia/sukses. (QS. Al Baqoroh : 189).

Apa saja bentuk ketakwaan yang kita lakukan, itu untuk kemanfaatan kita sendiri. Alloh tidak butuh sholat kita, Alloh tidak butuh ibadah kita, Alloh tidak butuh pegorbanan dan zakat kita, namun kitalah yang butuh kepada Alloh. Karena bentuk-bentuk ketakwaan itu pada dasarnya adalah untuk kesusesan dan kebahagiaan kita. Dengan demikian, saat ada dua pilihan jalan, jalan taqwa dan jalan yang melanggar garis ketaqwaan, itu semua akan berdampak pada diri kita sendiri. Kita memilih jalan taqwa akan berdampak kepada kita sendiri, gak ada dampak takwa kita kepada Alloh. Meski semua manusia tidak ada yang bertaqwa kepada Alloh, Alloh tetaplah Tuhan yang punya kuasa atas segala sesuatu.

Jadi, bertaqwa itu sangat berdampak pada kehidupan kita berikutnya. Pilihan jalan taqwa itu mendaki lagi penuh tantangan. Diperlukan hati yang sabar dalam ketaqwaan. Komitmen yang tinggi kepada syariat Alloh dan konsistensi yang kokoh. Tidak mudah lemah dalam menolak maksiat dan sigap menyambut seruan syariat.

Jadi esensi taqwa itu sendiri sebenarnya adalah untuk kebaikan bagi yang bertaqwa. Bukan untuk siapa-siapa, apalagi untuk Alloh. Semua telah diatur oleh Alloh sedemikian rupa, untuk menjadikan manusia semakin bahagia, maka semakin bertaqwalah.  

 


Esensi taqwa itu sendiri adalah untuk kebaikan bagi yang bertaqwa. Bukan untuk siapa-siapa, apalagi untuk Alloh. Semua telah diatur oleh Alloh sedemikian rupa, untuk menjadikan manusia semakin bahagia, maka semakin bertaqwalah.

 

Penulis: Rofiq Abidin (Ketua Yayasan Suara Hati)

Suarahati.org

 

 

Silahkan Di Share, jika Artikel Ini Bermanfaat ! “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)
0Shares
0Shares