Oleh : Rofiq Abidin (Ketua YSH)

 

 

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS.An Nisa’ : 32).

 

 

Tentang persamaan gender, sebenarnya Al Qur’an telah membahas sejak 14 abad yang lalu. Tengoklah ayat di atas, sudah sangat jelas. Tidak sama antara laki-laki dan wanita, secara fitrah sudah jelas tidak sama, secara fisik, bahkan merespon sesuatu pun berbeda. Namun seseorang itu akan begitu mulia di posisi yang sesuai fitrahnya. Allahlah yang menciptakan laki-laki dan perempuan, maka Allah pula yang paling tahu bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan diperankan. Kita seharusnya tidak perlu ngeyel dengan fitrah yang Allah tetapkan, karena demikian memang adanya kehendak Allah, justru itu kemaha adilan Allah memberikan ruang-ruang dan peranperan yang sesuai gender-nya. Bukan memaksakan gender pada peran-peran yang menyalahi kodrat. Ada peran tertentu yang memang itu adalah wilayah laki-laki, Ada wilayah tertentu yang memang itu wilayah perempuan. Dan masing masing mendapatkan porsi peran sebagaimana karunia, kodrat dan fitrah yang ada.

 

Muslimah Seharusnya Berkarya diposisinya

Hidup adalah pemberian Allah, kita tak bisa memilih mau lahir dari rahim ibu yang mana, berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, keturunan bangsawan ataukah pejuang. Karena memang hidup itu anugerah. Saat kita melawan kodrat, berarti sama saja kita protes kepada Allah kenapa dihidupkan sebagai jenis ini, lahir dari keluarga yang kurang ini dan lain-lain. Tengoklah dulu bagaimana dunia memperlakukan wanita. Bahkan sekedar untuk hidup saja tidak diharapkan, bahkan dikubur hidup-hidup saat lahir. Kemudian islam hadir memuliaannya, bahkan saat wanita telah menjadi seorang ibu dimuliakan 3 kali banding satu daripada bapak. Secara garis besar wanita berperan dalam 3 masa, dalam Alqur’an telahpun membahasnya dengan prosentase yang mengejutkan. Berperan sebagai apa saja :

 

Sebagai pribadi muslimah

Ada beberapa saran ilahiyah kepada seorang muslimah, yakni menahan pandangan, menjaga kehormatannya, tidak pamer perhiasan (kecuali yang biasa nampak) dan berhijab (menutup aurat). Pertama, menahan pandangan ternyata tidak hanya disarankan kepada laki-laki saja, namun muslimah juga diperintahkan Allah untuk mengendalikan pandangannya. Oleh karena itu janganlah para muslimah mengumbar pandangannya, santun dan proporsional. Karena sesungguhnya fungsi mata bagi mukmin adalah melihat yang baik-baik. Ini makanya jika yang tampak dalam pandangan kita ada gelegat kurang baik, segeralah kita mengalihkan padangan, mengendalikan padangan. Apalagi kalau perempuan ke mall, pandangannya harus dikendalian, kalau tidak apa aja dibeli. Hayo, bener gak?. Karena mulianya muslimah itu saat mampu mengendalian syahwat pandangannya kepada dunia. Adapun dalam Alqur’an ayat-ayat tentang fungsi wanita sebagai pribadi muslimah sebanyak 19%. Berikut ini salah satu anjuran Allah dalam QS. An Nur : 31 sebagai berikut :

 

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…
(An Nur : 31).

Adapun kedua, memelihara kehormatan (menjaga syahwat). Benar-benar menjaga satu yang sangat mahal dari seorang wanita, ialah virginitas (keperawanan). Karena kata yang digunakan adalah menggunakan kata farji (kemaluan). Oleh karena itu seorang muslimah yang belum menikah, sebaiknya benar-benar menjaga syahwatnya, jangan sampai tergoda oleh bujuk rayuan gombal para penggombal. Ada syaitan a’war yang selalu mengarahkan kepada syahwat terlarang. Waspadalah, karena syaitan ini masuk dengan mengatasnamakan cinta, mengatasnamakan sayang, mengatasnamakan tahun baru, mengatasnamakan hari kasih sayang dan atas nama lainnya untuk melegalkan perilakunya, walaupun tak pernah legal kecuali dengan aqad nikah. Dengan demikian mulianya muslimah adalah saat ia menjaga kesucian dirinya dari perbuatan zina.

Selanjutnya yang ketiga, seorang pribadi muslimah itu tidak diperkenankan pamer perhiasan, kecuali yang biasa nampak. Hal ini bertujuan agar menjaga orang yang iri hati dan agar tidak membuka peluang kejahatan. Sewajarnya saja, tidak usah berlebihan. Dan jika kita mengikuti syariat ini, itu demi keselamatan muslimah sendiri. Maka mulianya seorang muslimah bukan karena banyaknya gelang emas yang dipakai, tapu justru dari ketawadhukannya terhadap harta yang dimiliki.

Adapun yang keempat, bahwa seorang muslimah harus menutup auratnya. Karena dengan hijab itupun juga untuk keselamatan dan kebaikan muslimah itu sendiri. Pun juga sebagai identitas sebagai muslimah. Dengan berhijab karena Allah, akan membawa kedamaian dan keanggunan tersendiri. Bukan karena trendi atau ikut-ikutan, tapi karena iman. Muslimah yang berhijab itulah kemuliaan mereka tampak, maka hiasilah dengan akhlaqul karimah.

 

Sebagai istri

Adapun sebagai istri Allah sebutkan dalam Alquran peran wanita sebanyak 54%. Berikut ini penggalan ayat yang menjadi kunci kemuliaan seorang istri :

 

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ 

Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).
(QS. An Nisa’ : 34)

Wanita sholihah menjadi dambaan semua muslim dan muslimah, namun tahukah kita, apa kunci kesholihaannya? Terletak pada “Qonitati dan Khafidhoti”. Maknanya adalah ketaatannya kepada suaminya dan kecakapannya dalam menjaga diri anak dan harta suaminya. Jika seorang muslimah merasa lebih tinggi dari imam rumah tangganya, maka hilanglah kemuliaan itu sebenarnya. 

 

Sebagai ibu

Karya seorang ibu terbesar sebenarnya bukanlah prestasi akademiknya yang tinggi, bukan pula jabatan yang mentereng. Tapi karya terbesar ibu sesungguhnya adalah menjadikan anak-anaknya sholih-sholihah. Buat apa memiliki karir bagus, tapi justru anak-anaknya dirumah tak terurus, lalu terjerumus narkoba, terjerumus pergaulan bebas. Bahkan ada fitrah yang tak mungkin digantikan oleh laki-laki, ialah mengandung, melahirkan dan menyusui. Hal ini tak bisa diingkari bahwa laki-laki dan perempuan itu memiliki tugas dan posisi masing-masing.

Maka seorang wanita akan mulia di posisinya, sebagai pribadi muslimah yang menjaga 4 hal diatas akan sangat mulia dimata lingkungannya. Sebagai istri akan sangat mulia bagi suami jika menjaga ketatan dan menjaga kehormatan dirinya. Dan sebagai seorang ibu maka mulianya ada pada karya besarnya yakni menjadikan anak-anaknya berprestasi dalam kesholihan.


Wallahu a’lam.

 

 

Silahkan Di Share, jika Artikel Ini Bermanfaat !
0Shares
0Shares