Suarahati.org, Sidoarjo – Masih banyak di masyarakat kita, orang tua memotivasi anaknya dengan cara yang salah. Bahkan, tanpa disadari motivasi tersebut justru menyakitkan hati dan menimbulkan persoalan baru. Seperti apakah itu? Yaitu memotivasi anak dengan membandingkannya dengan anak yang lain, dengan saudara yang lain, dengan anak tetangga, bahkan dengan teman sekolahnya.

“Aduh, mengapa sih kamu tidak bisa seperti kakak ? Lihat, kakak rajin belajar, rajin ke masjid, sedangkan kamu ?”

Masih banyak lagi, berjuta kalimat muncul dari lisan para orang tua, yang karena jengkel akhirnya terlontar kalimat yang esensinya menjatuhkan, menghina, melemahkan dengan memberikan perbadingan kepada yang lain.

Saya mempunyai pengalaman tersendiri, dalam hal ini. Suatu ketika ada seorang gadis dari perguruan tinggi di Surabaya. Dia datang bersama 4 teman akhwatnya untuk berkonsultasi. Si gadis, sebut saja A, sering bisa melihat hantu dan selalu ketakutan dalam hidupnya. Setelah saya bedah, ternyata dia depresi karena sering konflik dengan ibunya. Ibunya sering membandingkan dan menuntut si A agar bisa bernasib seperti anak tetangganya yang kaya. Sementara dia hanyak anak buruh petani biasa di sebuah kabupaten di Jawa Timur.

Ketika harus kembali ke kampus dan kos di Surabaya, dia hanya dibekali beras dan uang IDR 200.000 dari kakaknya. Sementara, dia tidak mempunyai life skill yang cukup untuk hidup di kota. Jadi bagaimanapun kondisinya, dia harus mencukupkan beras dan uang tersebut. Ternyata, si A jika di Surabaya hanya makan nasi saja setiap hari. Wallahi, apakah si A tidak depresi dengan kondisi seperti ini?

 

Jangan pernah membandingkan

Sumber foto Dream.co.id

Setelah saya bedah, ke 4 teman akhwatnya terperanjat dan merasa sedih. Akhirnya, saya memberikan saran. Saya berikan instruksi kepada teman-temannya, untuk memberikan jatah makan 4 sehat 5 sempurna untuk si A. Bisa dicarikan donatur, atau setiap teman bergiliran, terserah. Yang penting si A cukup makanan setiap harinya. Saya meminta, si A mengaktifkan dirinya mengajar TPQ di dekat kampus juga mengajar Al Quran di masjid-masjid dekat kampus. Ciptakan kegiatan untuk menambah income. Bisa jualan jilbab, buku-buku, atau dikaryakan. Yang pasti, bisa survive di Surabaya. Saya ajarkan juga agar tidak konflik dengan ibunya lagi. Subhaanallah, setelah saran saya dilakukan, Alhamdulillah si A tidak bisa melihat hantu lagi. Artinya, betapa hebatnya perkataan manusia yang mampu membuat seseorang tertekan dan menimbulkan persoalan baru dalam kehidupan.

Bagaimanapun itu, membandingkan seorang insan dengan insan yang lain, adalah perbuatan yang tidak menyenangkan, menyakitkan, dan mampu membuat manusia menjadi down. Secara fitrah, manusia mempunyai karakteristik tersendiri. Tiap mereka memiliki keunikan, kelebihan dan kekurangan. Tidak sepantasnya, kita membuat perbandingan dengan yang lain. Bagaimana mungkin kita bisa membandingkan tiap anak dengan anak yang lain? Ahsan, kita menjadikan anakanak itu menjadi diri mereka sendiri dengan penuh suka cita. Kita harus membuat mereka berprestasi dengan kelebihan masing-masing. Bukan malah mematikan prestasi mereka.

Manusia memiliki perasaan, tidak anak-anak saja. Orang tua juga memiliki perasaan. Bagaimana, jika seorang isteri dibandingkan dengan mantan kekasih suaminya. “Ma, kamu kok nggak seperti mantan papa ya, dia lho ramah banget..” Apa yang akan terjadi pada si isteri, jika diperlakukan begitu ? Sakit hati bukan? Adalah sama, jika anak-anak diperlakukan seperti itu. Sekali lagi , jangan pernah membandingkan anak-anak dengan anak yang lain. Lebih baik kita memotivasinya dengan kalimat-kalimat yang membangun. Bagaimana jika kita bersikap seperti ini? “Dik kamu hebat, kamu mempunyai kelebihan dalam olahraga. Berlatihlah apa yang adik sukai, ibu mendukungmu..” Ayah ibu rakhimakummullah, marilah kita membiasakan membangun anak-anak kita menjadi dirinya sendiri.Tanpa ada perbandingan dengan yang lain.

 

jangan membandingkan anak

Ilustrasi membandingkan anak

Sebenarnya, apa bahayanya jika kita membandingkan anak satu dengan anak yang lain? Berikut dampaknya :

1. BERKECIL HATI, Saat anak dibandingkan dengan yang lain, seketika itu juga mereka akan berkecil hati, dia merasa tidak sehebat temannya. Akhirnya dia tidak bisa melihat kelebihan pada dirinya sendiri.

2. TIDAK PERCAYA DIRI, Saat anak tidak percaya diri, maka dia semakin tidak bisa berkembang. Dia selalu terobesesi ingin menjadi diri orang lain. Semuanya dia lakukan karena terpaksa demi menyenangkan orang tua. Bukan karena kemauan dirinya sendiri.

3. PENUH KEBENCIAN, Anak yang sering dibandingkan dengan yang lain, dia memiliki perasaan benci kepada orang tua. Dia merasa tidak mendapatkan penghargaan yang cukup, sehingga dia memiliki kebencian, yang membuat mereka tertekan dan amarah.

4. ENERGI POSITIF AKAN SIRNA, Jika anak merasa dirinya tidak berarti maka energi positifnya akan hilang. Karena dia akan kehilangan kebahagiaan, maka waktu akan dia gunakan secara minimal. Hormon cinta dalam dirinya akan melemah. Hormon Oksitosin, Dopamin, Fenimatilamin, dll akan tidak berfungsi optimal. Anak akan melemah, sering merasa bersalah dan terpuruk.

5. KREATIFITAS AKAN MATI, Dia akan menjadi plagiator ulung. Karena selalu dibiasakan melihat orang lain. Tidak mampu melihat dirinya sendiri.

 

Lalu bagaimana cara orang tua yang baik untuk memotivasi anak-anak?

1.BERSYUKUR, kepada Allah atas setiap karunia yang diberikan. Sebagai pendidik dan orang tua harus mampu mengajarkan syukur kepada anakanak. Karena barangsiapa bersyukur maka nikmat Allah akan bertambah.

2. MENJAGA LISAN, Kita wajib berhati-hati memilih kalimat untuk berkomunikasi pada ana. Kalimat yang kita ucapkan adalah doa bagi mereka. Menjaga lisan, kita juga menjaga hati mereka.

3. MENJADIKAN ANAK-ANAK PERCAYA DIRI, Dengan cara mengeksplorasi kelebihan anak dan menutup kekurangan mereka.

4. MENGHARGAI ATAS KELEBIHAN ORANG LAIN, Mengajarkan kepada anak-anak agar menghargai kelebihan orang lain. Dengan merasa bahagia atas kelebihan orang lain. Bahkan memberikan selamat.
Ayah ibu, mari kita mulai menyayangi anak-anak dengan menjaga perasaan mereka. Jadikan mereka luar biasa, karena kemampuan dirinya. Jadikan mereka manusia yang berlapang dada, dan suka mengembangkan dirinya.

 

Semoga Bermanfaat khususnya untuk para bunda. Suarahati.org

 

Silahkan Di Share, jika Artikel Ini Bermanfaat ! “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)
0Shares
0Shares