Kata yatim/yatimah dalam bahasa Arab berarti anak kecil yang kehilangan (ditinggal mati) ayahnya. Begitu juga dalam istilah agama maknanya sama, tidak mengalami perubahan. Batasannya adalah sampai dia dewasa (baligh) dan tampak rusyd (kemandirian). Adapun anak kecil yang ditinggal mati ibunya tidak disebut yatim, tapi punya istilah khusus yaitu “ajiyy/’ajiyyah”, dan dalam bahasa Indonesia disebut piatu. Piatu tidak disebut bersama yatim karena kematian ayahlah yang ghalibnya (bisanya) membuat seorang anak lemah dan kehilangan nafkah, karena memberi nafkah adalah tugas ayah, bukan ibu. Tapi hukumnya hukum yatim. Artinya jika dia membutuhkan asuhan, disunnahkan untuk mengasuhnya dan itu berpahala besar seperti pengasuhan anak yatim. Karena anak yatim dianjurkan untuk diberi kafalah (asuhan) karena kelemahan yang ada padanya.

Hal ini diisyaratkan oleh Nabi Shalallohu ‘alaihi wa sallam dalam sabda Beliau : Wahai Allah! Sungguh saya menganggap berat (dosa penindasan) hak dua kaum yang lemah: yatim dan wanita. [Sunan Ibnu Majah no. 3687 dan hadits ini dihukumi shahih oleh an-Nawawi dan al-Albani].

Tidak ada satu pun anak yang menginginkan dilahirkan dalam keadaan seperti itu, dengan kondisi orang tua yang tidak lengkap, atau bahkan tanpa keduanya sama sekali. Maka, keberadaan mereka (anak yatim), seharusnya menjadi perhatian kita semua.

Anak yatim adalah sosok-sosok yang harus dikasihi, dipelihara dan diperhatikan. Alloh berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 220 : “Tentang dunia dan akhirat. Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik,…”

Di ayat yang lain Alloh juga menegaskan, “Dan (ingatlah) ketika kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Alloh, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak dan kaum kerabat serta anak-anak yatim dan orang-orang miskin,...” (QS Al Baqoroh: 83). Maka disyariatkan mengasuh anak-anak yang lemah, baik itu yatim, piatu, dan sebagainya, insya Alloh semua berpahala besar.

Dalam buku yang berjudul “Dahsyatnya Doa Anak Yatim : mengungkap rahasia keberkahan menyantuni anak yatim” karya dari M. Khallurrahman Al Mahfani, beberapa keutamaan menyantuni anak yatim, antara lain :

  1. Meraih Kedudukan Dekat dengan Rasululloh di Surga

“Aku dan orang yang mengasuh atau memelihara anak yatim akan berada di surga begini, kemudian beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkannya sedikit.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad dari Sahl bin Sa’d). (Lihat Shahih Bukhari, Kitab Ath-Thalaq: 4892. Sunan Tirmidzi, Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah’an Rasulillah: 1841. Sunan Abi Daud, Kitab Al-Adab: 4483).

  1. Dijamin Masuk Surga bagi Pemelihara Anak Yatim

“Orang yang memelihara anak yatim di kalangan umat muslimin, memberikannya makan dan minum, pasti Alloh akan masukkan ke dalam surga, kecuali ia melakukan dosa yang tidak bisa diampuni.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas). (Lihat Sunan Tirmidzi, Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah’an Rasulillah: 1840).

  1. Mendapat Gelar Abror (Sholih atau Taat Kepada Alloh)

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan (abror) minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur, yaitu mata air (dalam surga) yang diminum oleh hamba-hamba Alloh dan mereka dapat memancarkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Alloh, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu. Sungguh, kami takut akan (azab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.” (QS. Al-Insan: 5-10).

  1. Alloh Menghilangkan Kesusahannya di Dunia dan Akhirat

“Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan orang mukmin di dunia, maka Alloh akan menghilangkan kesusahannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang meringankan kesulitan orang mukmin di dunia, maka Alloh akan meringankan kesulitannya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib orang muslim, maka Alloh akan menutupi aibnya di akhirat. Alloh akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya. (HR. Muslim dan Ashhabus Sunan dari Abu Hurairah). (Lihat Shahih Bukhari, Kitab Al-Adab: 5557).

  1. Menghindarkan dari azab yang pedih di Akhirat kelak

“Demi Yang mMengutusku dengan hak, Alloh tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang menyayangi anak yatim, lemah lembut pembicaraan dengannya, menyayangi keyatiman dan kelemahannya. (HR. Thabrani dari Abu Hurairah). (Imam Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Ausath, VIII/346. Hadist no. 8828).

  1. Menjadi amal shalih yang tak pernah putus

“Jika manusia mati maka terputus lah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

  1. Meraih Keberuntungan dan Menjadi yang Terbaik

Memelihara dan memuliakan anak yatim merupakan salah satu bentuk ibadah sosial dalam rangka amar ma’ruf (mengajak kebaikan) dan nahi mungkar (melarang berbuat maksiat). “Siapa saja yang menyeru kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya itu.” (HR. Muslim, Tirmidzi dan Abu Daud dari Abu Mas’ud).

Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah didatangi oleh seseorang yang mengeluhkan kerasnya hatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menyarankan, “Apakah engkau suka hatimu menjadi lembut dan kamu mendapatkan hajatmu (keperluanmu)? Rahmatilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berikanlah makan kepadanya dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lembut dan niscaya kamu akan mendapatkan hajatmu.” (HR. ‘Abdurrazaq dalam mushannafnya, 11:97. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, 2544).

Dari beberapa dalil diatas, menjadi landasan agar kita semakin mantab bersinergi dalam mewujudkan kasih sayang dan memuliakan anak yatim. Insya Alloh keutamaan-keutamaan yang telah Alloh dan RosulNya janjikan kelak akan kita dapatkan. Aamiin. Wallohu a’lam. (RAN)