“ Jika para pejabat korupsi dan berfoya-foya, maka kejahatan meraja lela dari kota sampai ke desa-desa “. Begitulah ratapan Jose Rizal, ilmuwan sekaligus penyair Philipina, ketika melihat carut-marut negerinya di bawah kepemimpinan rezim korup diktator Marcos (Alm). Dan karena kekritisannya, Jose Rizalpun mati terbunuh.

Korupsi adalah penabrak pertama dari tabrakan beruntun kesemrawutan suatu negeri. Dampak dari tabrakan beruntun yang paling ujunglah yang paling bonyok, yakni rakyat. Kita hanya pintar membuat komisi dan peraturan, tanpa mampu membina akhlaq. Padahal tanpa akhlaq yang baik, komisi maupun peraturan pencegahan dan pemberantasan korupsi yang canggih, hanya akan melahirkan modus korupsi yang semakin canggih pula, karena konon dari kecil kita sudah pintar uthak- athik, gathuk, diajari oleh dongeng Kancil Mencuri Ketimun atau Monyet Ngakalin Petani.

Untuk meluruskan akal manusia sehingga sesuai dengan hukum  alam atau  Sunnatullah adalah tugas para pendidik (melalui pendidikan). Menurut Plato, tujuan pendidikan bukan hanya untuk mencerdaskan bangsa, tetapi lebih dari itu. Tujuan pendidikan menurut Plato, adalah untuk mempersiapkan atau mengkader Guardian (pejabat), bukan saja mampu mengkader pejabat yang “bersih dan berwibawa”.

Banyak orang berpendapat Plato berkhayal, tak mungkin konsepnya dipraktikkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Michael Hart (Penulis Buku; “100 orang paling berpengaruh di muka Bumi”); “ tidak ada satu negarapun, kecuali gereja yang menerapkan konsep Plato ini. Tapi mungkin orang lupa, 14 abad yang lalu, di Negeri Madinah, ketika orang-orang Mekkah, berbondong-bondong hijrah ke Madinah dan menyatakan taslim di hadapan Nabi Muhamad. Lalu oleh Nabi orang-orang tersebut dijamu dengan penghormatan yang mewah dan hadiah yang berlimpah. Melihat perilaku Nabi Muhammad tersebut, para sahabat (merupakan calon pejabat yang sedang dikader oleh Nabi) protes; “Ya Rasulullah, mengapa mereka yang baru hijrah, yang belum jelas ketaatan dan pembelaannya terhadap islam, Engkau berikan hadiah yang berlimpah, sedang kami yang telah berjuang bertahun-tahun, tidak Engkau berikan ?”. Protes para sahabat tersebut dijawab oleh Nabi dengan pertanyaan; “Kalian memilih harta atau Allah dan RasulNya?

Jawaban Nabi  Muhamad tersebut mungkin terlalu abstrak dan supranatural bagi kita yang hidup di dunia profan. Tetapi sesungguhnya jawaban beliau sejalan dengan pemikiran Erich Fromm, seorang filsuf dari Inggris, yang menohok kita dengan hanya dua pilihan “To have or to be’. Dan hari ini, bahasa abstrak dan supra natural dari Rosululloh tersebut, dikemas dengan smart, oleh pengamat politik sekaligus filsuf; Rocky Gerung, dengan pertanyaan simpel; “Kalian mau menjadi leader atau dealer?”