Oleh : Rofiq Abidin

 

“….. اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ”

“Bekerjalah Hai Keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS. Saba’: 13)”

Sejak lahir manusia memiliki naluri untuk belajar. Mulai dari belajar hal-hal kecil, hingga hal-hal yang besar. Seorang ibu merupakan orang pertama yang menyentuh perasaan sang bayi, yang memiliki peran besar dalam pembentukan karakter ke depannya. Begitupun juga seorang ayah yang secara langsung atau tidak langsung turut mewarnai kepribadian sang anak. Tak kalah pentingnya juga, bahwa cara berkomunikasi ibu dan bapak juga dapat membentuk anak dalam menyikapi sesuatu. Ada kalanya seorang ibu mengafirmasi sang anak untuk menjadi seorang yang baik, namun juga bisa saja, baik secara sadar atau tidak, membentuk karakter jahat Si Anak.

Misalnya saja seorang ibu atau ayah dalam menenangkan anaknya yang sedang menangis setelah jatuh karena menabrak barang-barang di rumah, misalnya kursi, ibu/ ayah berkata “Cup, cup, cup nak, kursinya nakal ya…! Ibu pukul ya!”, mungkin biasanya begitu. Secara sadar atau tidak, sebenarnya kita bertujuan menenangkan anak, yang terjadi justru kita sedang membentuk karakter buruk si anak, yakni, kita mengajarkan kekerasan dengan cara memukul sesuatu yang membuat kita sedih/menangis. Sehingga jangan heran saat bergaul dengan temannya ia mudah memukul temannya, jika sedikit saja ia tersinggung. Lebih-lebih lagi jika terjadi KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Dari sedikit cerita ini bisa kita ambil hikmah, bahwa keluarga itu sangat berperan penting bagi pembentukan karakternya.

Islam sendiri sangat memperhatikan pendidikan, bahkan diingatkan menuntut ilmu itu mulai dari ayunan, hingga liang lahat dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan. Ada beberapa profil keluarga ideal yang disampaikan oleh Allah dalam firmannya berikut ini :

 

 إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, Keluarga Ibrahim dan Keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)”, (QS. Ali ‘Imran : 33)

Profil keluarga ideal yang disampaikan oleh Allah dalam firman-Nya tentu telah memiliki prestasi dalam membangun keluarga sakinah, mawaddah warohmah. Misalnya saja keberhasilan Nabi Ibrahim dalam mendidik generasinya, sehingga banyak melahirkan generasi para nabi. Begitu juga Keluarga Imran yang telah melahirkan seorang wanita shaleh bernama Maryam, bahkan Keluarga Imran dan anaknya diabadikan dalam surat yang ada di dalam Al Qur’an. Untuk meneladaninya tentu bisa lebih dalam kita kaji Al Qur’an melalui kajian-kajian keluarga sakinah dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya.

 

Anak-Anak dalam Pandangan Islam

Keceriaan anak-anak dapat menghibur orang tua dan prestasi anak-anak juga dapat membuat kita bangga. Namun kita perlu memahami bahwa dalam Pandangan Islam anak-anak itu dapat menjadi 3 hal :

  • Zinatul Hayat (Perhiasan Hidup)

Seorang anak dapat menjadi perhiasan hidup bagi ayah dan ibunya. Kelucuannya, keceriannya, ketampanan/kecantikannya dapat menjadi perhiasan yang tentu kita tahu apa manfaat dan bahaya perhiasan itu sendiri. Jika kita dapat mensyukurinya dengan baik, maka perhiasan ini akan menjadi asset yang berharga untuk kehidupan kita di dunia dan di akhirat.

  • Al Fitnatun (Ujian)

Kita tak pernah meminta kepada Allah agar anak kita durhaka, mengecewakan dan perangai buruk lainnya. Namun kita mesti sabar dalam mendidiknya, karena bagaimanapun juga anak adalah amanah sekaligus ujian bagi kita, sejauh mana kita mensyukurinya.

  • Qurrotun A’yun (Penyejuk Pandangan)

Dengan mensyukuri segala nikmat Allah, termasuk anak, tentu akan memberikan dampak lebih dari nikmat-nikmat lainnya. Anak yang berbakti, anak yang membanggakan dan bisa mendoakan orang tuanya, tentu menjadi harapan kita semua, sehingga kita benar-benar merasa sejuk saat mengamatinya, dan makin mendekatkan kita kepada Allah, sebagaimana  firman Allah dalam Surat Al Furqon ayat  74.

Setelah kita mengetahui sedikit tentang Pandangan Islam terhadap anak-anak, mari kita membangun keluarga kita dengan pondasi aqidah yang kokoh, bangunan akhlak yang mulia dan prestasi-prestasi hidup yang dapat diteladani anak cucu kita.

 

Keluarga sebagai Madrasah Pertama hingga Akhir

Peran keluarga untuk masa depan anak sangatlah penting. Orang tua tidak bisa hanya mengandalkan sekolah akademik saja. Banyak sekali peran keluarga yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung bagi anak, mulai dari pembentukan karakter, aqidah, akhlak, bakat dan lain sebagainya. Ungkapan verbal orang tua sangat diperhatikan anaknya, ia bahkan menuntut sikap kita sesuai dengan apa yang kita ucapkan, sehingga kelak ia akan sangat meneladani konsistensi kita sebagai orang tua. Segala aspek sikap yang kita lakukan selalu mengandung pembelajaran bagi anak kita. Namun mari kita coba simpulkan beberapa hal yang berfungsi secara nyata dalam pembelajaran :

  • Komunikasi

Keharmonisan apapun berawal dari lancarnya komunikasi. Maka dari itu kita wajib memperhatikan satu hal ini jika kita mau membangun keluarga sebagai madrasah. Sedikit saja kita salah dalam berkomunikasi, tentu akan membentuk karakter anak, bahkan bagi seorang suami akan mempengaruhi sifat sang istri. Maka berkomunikasilah dengan baik dalam keluarga. Untuk membangun komunikasi dalam keluarga, perhatikanlah  tiga hal (waktu, cara dan porsi plus kejujuran). Kenapa tiga hal plus kejujuran ini penting, karena dengan ketepatan waktu mengkomunikasikan, maka akan mudah diterima. Jangan mengingatan seseorang pada saat yang tidak tepat, boleh jadi nasehat justru menjadi racun yang menyakiti.

Carapun juga merupakan sesuatu yang sangat penting, karena cara yang pas akan membuat orang nyaman menerima informasi dan mudah mengingat pesan. Demikian juga dengan porsi, ini merupakan suatu kebijakan untuk menentukan infotmasi yang sesuai dengan kapasitasnya, tidak tumpang tindih. Ukurlah dengan nilai benar dan baik. Kenapa plus kejujuran, karena ini menjadi dasar tiga hal (waktu, cara dan porsi). Semuanya harus disampaikan dengan jujur, bukan pembodohan kepada anak lantaran kita tidak bisa menjelaskannya. Jelaskan yang sesungguhnya namun mudah diterima oleh akal pikirannya. Jika kita tidak tahu, lebih baik kita tunda informasinya sampai benar-benar tahu yang sebenarnya. Ini mengajarkan kepada anak untuk lebih bisa menerima keadaan dalam hidup. Sentuhan komunikasi ibu sangat ditiru oleh anaknya, karena ibulah madrasah hidup yang pertama baginya.

  • Perlakuan

Terkadang kita tidak menyangka akan sikap anak yang mengakibatkan kita melakukan tindakan kurang teladan kepada anak. Maka perlakukanlah anak dengan baik, jangan mudah mengumbar emosi kita kepada anak. Jangan sampai anak-anak menjadi korban pelampiasan kemarahan kita karena masalah yang sebenarnya tidak melibatkan mereka. Hindarilah menghardik, karena itu akan melukai dan itu sekaligus mendidiknya untuk menghardik temannya saat ia tidak nyaman dan tertekan. Perlakuan yang baik adalah dengan sentuhan kasih sayang. Kasih sayang jangan dikonotasikan hanya berhubungan dengan kelembutan saja, ketegasan juga merupakan kasih sayang yang akan membentuk karakternya.

  • Keteladanan sikap

Sebagai orang tua tentu tidak hanya bisa menyuruh anak untuk berbuat kebaikan. Namun orang tua juga dituntut untuk bisa melakukannya. Keteladanan sikap menjadi hal yang sangat penting dalam pengajaran anak untuk bersikap komitmen, konsisten dan jujur dengan apa yang ia katakan. Orang tua wajib memberikan teladan sikap kepada anaknya, jika tidak ingin anaknya nglunjak (berbalik mendurhakai). Apapun yang kita lakukan telah direkam oleh anak kita, lalu dijadikan rujukan sikapnya. Jika masih kanak-kanak ia tak mempertimbangkan nilai benar-salahnya, selama orang tua tidak memberikan penjelasan baik dan buruknya. Maka mari menjadi orang tua teladan bagi anak-anak kita, karena tindak-tanduk kita menjadi cerminan sikap anak-anak kita selanjutnya.

  • Penghargaan

Jangan mudah memvonis anak buruk, karena bisa berakibat fatal. Justifikasi dan gelar buruk menjadikan anak terafirmasi dengan kata-kata orang tua. Jika ia berprestasi dan mengikuti saran/nasehat kita, maka hargailah, sekecil apapun itu. Di samping memberikan pengajaran untuk bisa menghargai orang lain dan menjauhkannya dari kesombongan, sikap menghargai anak menjadikan ia makin percaya diri.

Ini hanyalah sekelumit implementasi syukur terhadap keluarga yang kita miliki. Sebagaimana himbauan Allah kepada kita untuk mensyukuri keluarga yang kita miliki. Tentu untuk mempraktekkannya membutuhkan pembiasaan, dimana pembiasaan itu sendiri juga pembelajaran. Bermakna bahwa seorang ayah, ibu dan anak sama-sama belajar dalam keluarga, baik dalam canda dan tawa, dalam duka dan sukanya. Semoga dapat kita aplikasikan dalam keluarga, menuju keluarga sakinah mawaddah warohmah. Wallahua’lam.

 

SUARAHATI.ORG