Oleh : Etty Sunanti

 

Hari nan Fitri di Syawal 1441 Hijriyah, sebagai momentum kembali kepada fitrah, penuh kesucian diri. Maraknya wabah covid-19, menjadikan kebijakan global untuk stay home. Banyak hikmah, dalam keluarga umat manusia di dunia ini.  Di antaranya orang tua dan putra-putrinya bisa lebih intensif dalam kebersamaan. Dengan kembalinya kehangatan keluarga. Wabil khusus bagi keluarga muslim. Yang biasanya sering lepas kontrol terhadap keluarga. Hingga berubah memiliki lebih waktu dan kualitas dalam berkeluarga.

Maraknya LGBT saat ini, adalah dampak kegagalan orang tua dalam mendidik putra putrinya. Terlepas, di sinyalir karena banyaknya penyebab yang lain. Pergaulan, makanan, tuntutan profesi, traumatik masa kecil, sosial media, pengaruh budaya, gadget, atau apapun itu. Kelak orang tua, yang akan di mintai pertanggungan jawab oleh Allah Subhaanahu wata’alla.

LGBT adalah jargon yang dipakai untuk gerakan emansipasi di kalangan non-heteroseksual. Istilah itu berasal dari singkatan bagi lesbian, gay, biseksual dan transgender/transeksual, untuk menunjukkan gabungan dari kalangan minoritas dalam hal seksualitas. Yang sebenarnya gerakan ini sudah mendunia. Sudah bukan minoritas lagi, tetapi sudah terbuka menantang, menunjukkan eksistensinya.

Dan  Luth tatkala dia berkata kepada kaumnya : “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun  sebelummu?” Sesungguhnya kalian menggauli lelaki untuk melepaskan nafsumu, bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS. Al-A’roof [7]: 80-81)

Luth ‘alayhissalam yang diutus Allah Subhaanahu  wa Ta’ala untuk mendakwahi kaum Sodom selain mengajak kaumnya untuk beriman kepada dan menyembah Allah SubhanAllahu wa Ta’ala juga menyuruh mereka berbuat ma’ruf serta melarang mereka berbuat dosa besar. Hingga Allah Memberikan Azab yang pedih kepada kaum Sodom.

 

Kemudian, apa kaitannya dengan pendidikan fitrah ?

Fitrah berasal dari akar kata f-t-r dalam bahasa Arab yang berarti membuka atau menguak. Fitrah sendiri mempunyai makna asal kejadian, keadaan yang suci dan kembali ke asal. Dari segi bahasa, kata fitrah terambil dari akar kata al-fathr yang berarti belahan, dan dari makna ini lahir makna-makna lain, seperti “penciptaan” dan “kejadian”. ( Miswanto, MA, Agus (2012). Agama, Keyakinan, dan Etika. Magelang: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Studi Islam Universitas Muhammadiyah Magelang )

Dalam Islam terdapat konsep bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Fitrah dalam hal ini berarti bayi dilahirkan dalam keadaan suci, tidak memiliki dosa apapun. Seseorang yang kembali kepada fitrahnya, mempunyai makna ia mencari kesucian dan keyakinannya yang asli, sebagaimana pada saat ia dilahirkan.

 

Agama Islam sesuai dengan fitrah manusia. Ini dibuktikan dalam Moral Islam

Fitrah adalah: sesuatu yg netral pada jiwa dan tidak terikat serta terpasung oleh keinginan dan keperluan duniawi dan berlapang dada serta jiwa yang tenteram dan tenang, fitrah hanya punya satu tujuan yaitu selalu ingin kembali kepada Tuhan Penciptanya. Jiwa yang tidak terikat dengan harta benda duniawi. Dan yang meninggalkan penyakit jiwa. ( iri , hasud, dendam, sombong, ingin berbuat dosa seperti berdusta, mencuri, berzina,  serta penyimpangan perilaku yang tidak semesetinya. Yang fitrah terlahir laki laki, kemudian dia berubah menjadi seperti perempuan , dan lain sebagainya )

Maka sebagai orang tua dan guru, wajib memperhatikan pendidikan fitrah ini semenjak dini.

Apa yang harus di lakukan ?

  1. MEMBEDAKAN NAMA

Dalam Islam , pemberian nama dalam bahasa Arab jelas ada perbedaannya. Jika perempuan di tambahkan huruf ta’ marbutoh. Seperti Hadijah, Fathimah, Aisyah, Shalihah dan lain sebagainya. Dan memiliki kekhasan tersendiri. Jangan sampai orang tua memberikan nama yang tidak sesuai dengan jenis kelamin mereka. Misal anaknya lelaki diberikan nama Nurul Hidayah. Dan ini memang ada lelaki dengan nama Nurul Hidayah. Jika orang belum kenal, pasti dikira perempuan. Dan pasti si anak akan malu dan timbul rendah diri. Berikan nama sebagaimana dia anak perempuan. Dan berikan nama sebagaimana dia adalah anak lelaki. Dengan dimulakan nama yang baik, adalah sebuah harapan dan doa untuk mereka.

  1. MEMBEDAKAN FISIK

Membedakan fisik ini, juga sangat penting dalam pendidikan. Semenjak bayi, balita, anak, remaja hingga dewasa. Orang tua dan guru wajib memantau cara mereka berbusana, pertumbuhan fisiknya, suara, gaya bahasa, dan lain sebagainya.

Harus tegas dan bijaksana dalam urusan tersebut.

“Nak, kamu perempuan jangan pakai celana terus begitu. Ayoo pakai dressnya yang cantik.”

“Mas, kamu laki-laki, ayo berdiri yang tegak, bicaranya yang tegas dan lantang. Jangan gemulai seperti perempuan begitu ah..”

“Sstttt.. dik, kamu perempuan lho, kalau duduk yang manis, yang santun, jangan di buka kakinya seperti anak laki laki gitu, itu tidak baik, tidak pantas.”

Hal hal semacam ini sangat penting. Dan membutuhkan proses panjang dalam mendidik. Andaikan tidak ada yang mengingatkan. Mereka dibiarkan semaunya sendiri. Pasti, setelah mereka dewasa, terlanjur mejadi kebiasaan. Orang terdekat akan sangat sulit merubahnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” [HR. Al-Bukhâri, no. 5885; Abu Dawud, no. 4097; Tirmidzi, no. 2991]

 

  1. MEMBEDAKAN FUNGSI DAN TUGAS

Allah berfirman yang artinya : “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [An Nisa’ : 32].

Laki-laki dan perempuan memiliki perannya masing masing. Dan itu sudah jarus di tanamkan kepada anak-anak semenjak dini.

“Nak, kamu perempuan, kelak kamu akan menjadi isteri, juga menjadi seorang ibu. Jadilah isteri dan ibu yang sholihah.”

“Nak, kamu anak lelaki, kalau sudah besar, kelak engkau akan menjadi seorag suami dan ayah. Jadilah suami dan ayah yang sholih.”

Dialog dialog orang tua kepada anaknya, akan memotivasi dirinya. Agar bisa merealisasikan tugasnya dengan baik.

 

  1. MEMBEDAKAN KEJIWAAN

Perbedaan mencolok laki laki dan wanita adalah dalam hal kejiwaan. Karena Allah menciptakan porsi otak laki laki lebih besar dari wanita. Oleh karenanya laki laki lebih banyak befikir secara rasional. Sedangkan wanita lebih banyak menggunakan perasaan mereka. Oleh karena itu, sifat dasar malu dalam menjaga kehormatan diri, bagi wanita haruslah sangat nampak. Dan hal ini harus terlatih semenjak dini.

Sampai-sampai Allah menggunakan kata malu, pada 2 wanita shalihah di zaman Nabi Musa ‘Alaihissalam. Bagaimana dia menahan diri dari kerumunan lelaki, bagaimana dia berjalan, berbicara, semuanya menunjukkan sikap kejiwaan wanita yang sebenarnya. Dan di zaman Rasulullah semuanya sudah di atur, bagaimana adab adab Al Mar’atusholihah.

 

  1. KEDUDUKAN IBADAH LAKI-LAKI DAN WANITA

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” [ QS Al Ahzab : 35 ]

Laki-laki dan wanita memiliki kedudukan ibadah yang sama. Punya hak yang sama di hadapan Allah dalam hal Taqwa dan keimanan. Tetapi Allah memberikan ketetapan sesuai fitrahnya. Dan itu bentuk kasih sayang Allah dan keadilanNya. Dan semuanya sudah di jelaskan dalam Al Quran, Al Hadits, dan di perdetail di Kitab Fiqih.

“Nak, kakak laki laki menjadi imam sholat, adik adik perempuan jadi makmum. Kalian semua wajib sholat, tetapi ada bedanya.”

 

Ayah ibu dan para pendidik, ini hal fitrah utama yang harus kita ajarkan kepada putra putri kita. Agar kelak mereka bisa menjalankan kehidupannya sesuai fitrahnya, hingga berjumpa Robb-nya dengan kesucian dan kemuliaan diri.