Oleh : Etty Sunanti
Ketika mengisi pelajaran Siroh di depan santri Madrasah Islamiyah At-taubah. Anak-anak begitu antusias. Saya bercerita bagaimana Perang Khondaq, yang dipimpin oleh Sahabat Salman Al Farisi. Jumlah kaum muslimin hanya 3.000 pasukan. Sementara musuh sejumlah 10.000 pasukan.
Saya bertanya kepada mereka, “Kira-kira menang yang mana, antara pasukan muslimin yang cuma 3.000, melawan musuh 10.000 sudah begitu lawan begitu kuat, tangguh, dan memiliki persenjataan lengkap.”
Anak-anak terdiam, dan menjawab, “Pasti menang yang banyak dan kuat.”
Ada juga yang menjawab, “Menang kaum muslimin, karena orang Islam selalu berdzikir.”
Ternyata penyakit kebanyakan kaum muslimin adalah sering berfikir yang penting berani, nekat, berdoa pasti bisa menang. Demikian pula kebanyakan anak-anak di sekitar kita. Mereka belum faham, betapa hebatnya Rasulullah dan para Sahabat dalam berjuang. Mereka punya kemampuan dan strategi yang luar biasa.
Seperti halnya, Salman Al Farisi Rodhiyallahu ‘anhu saat memimpin kaum muslimin, yang akan bertempur menghadapi 10.000 musuh. Sontak kecerdasan Salman Al Farisi muncul dalam mengatur strategi. Diperintahkannya kaum muslimin membuat parit sepanjang 2 kilo meter, dengan kedalaman dan lebar yang cukup lumayan. Kaum muslimin bekerja keras membangun parit tersebut selama 6 hari tanpa mengenal lelah.
Saat pasukan musuh datang menyerbu, tentu mereka kaget. Karena sebulan yang lalu tidak ada parit itu. Mengapa sekarang ada parit begini. Dengan adanya parit itu, akhirnya musuh kocar-kacir. Dari strategi tersebut, nasib bisa berubah, dan kemenangan bisa diperoleh dengan gemilang.
Begitupun dalam perang Mu’tah, Panglima Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘anhu menggantikan 3 panglima yang syahid. Dengan waktu yang sangat singkat, strategi dan kecerdasan teruji. Maka dengan sigap panglima Khalid membuat formasi pasukan yang berpindah-pindah posisi, yang bisa mengecoh musuh. Pasukan kaum muslimin yang hanya berjumlah 3.000 bisa mengalahkan pasukan Romawi sebanyak 200.000. Lagi-lagi, di sini kekuatan strategi bisa membuat kemenangan.
Maka anak-anak kaum muslimin, semenjak dini haruslah diajarkan apa dan bagaimana strategi itu. Strategi bisa digunakan dalam segala hal. Definisi strategi adalah proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang, disertai penyusunan suatu cara atau upaya yang akan ditempuh agar tujuan tersebut dapat dicapai.
Strategi atau siasat ini sejak dini harus dikenalkan pada putra-putri kita. Sebagai orang tua dan pendidik, strategi adalah hal penting dalam mencapai keinginan anak dan kita semua.
Ketika anak ditanya, “Apa cita-citamu nak ?”
Si anak menjawab, “Aku ingin menjadi Menteri Pendidikan.”
Orang tua wajib bertanya lagi, “Bagaimana caramu mewujudkan cita-citamu itu ?”
Biarkan mereka berfikir dan mempersiapkan mimpinya dengan baik. Mulai merencanakan dan mengatur strategi. Orang tua dan pendidik hanya mengarahkan, biarkan mereka menyusunnya dengan keikhlasan diri. Maka, kita semua akan terkejut. Betapa hebatnya putra-putri kita, karena diberikan kesempatan berfikir untuk membuat strategi dalam hidup mereka. Karena strategi adalah kunci kesuksesan bagi yang memiliki rencana dan tujuan.
Setiap orang boleh mempunyai tujuan yang sama. Tetapi bisa jadi karena beda strategi, hasil akan berbeda jauh. Bagaimana tahapan mengajarkan Strategi kepada anak ?
- Biarkan dan biasakan anak menjadi dirinya sendiri. Jangan terlalu banyak diintervensi. Orang tua hanya memberikan ketegasan dalam masalah syariat agama saja. Selebihnya biarkan mereka kreatif dalam memilih dan menentukan pilihan. Asal tidak melanggar syariat, tidak masalah.
- Bebaskan mereka berpendapat dan berargumentasi. Hargai setiap alasan yang mereka miliki. Karena hal ini akan mengembangkan kecerdasan otak dalam menentukan dan memutuskan sebuah perkara.
- Berikan kisah-kisah para sahabat Nabi yang sarat akan strategi berjuang. Karena di sana banyak inpirasi suci dari langit, yang akan memberkahi anak-anak kita.
- Berikan tantangan berkala agar mereka tidak mudah putus asa. Kemampuan survival di alam, keberanian dalam out bound, pekerjaan membetulkan barang atau properti rumah yang rusak, dan lain sebagainya.
- Biasakan mengajak mereka berdiskusi atau musyawarah keluarga. Biarkan mereka membantu memberikan solusi masalah keluarga. Dan cobalah gunakan solusi yang mereka berikan, sebagai bentuk kepercayaan serta apresiasi.
- Jangan mudah membantu mereka dalam kesulitan. Sebagai orang tua atau pendidik, wajib memberikan kesempatan kepada anak untuk berusaha menyelesaikan tugas dengan baik.
- Selalu memotivasi anak, dengan mengatakan, “Kalian pasti bisa, tidak ada yang tidak bisa. Ayo terus bersemangat, pasti mudah, In syaa Allah.” Kalimat motivasi ini luar biasa untuk menstimulasi mereka.”
- Membekali anak dengan kemampuan olah raga sunnah. Berenang, memanah, berkuda, bela diri, atau bermain pedang, akan membuat otak anak cerdas dan tangkas. Mereka terbiasa gesit, dan akan pula mendapatkan badan yang sehat. Akan mampu membuat keputusan yang jernih. Karena mereka memiliki kepercayaan diri yang tangguh.
- Doa guru dan orang tua, akan membuat putra-putri kita diberkahi Allah Azza wa Jalla. Setiap langkahnya akan membawa keridhoan Allah Subhaanahu wata’alla.
- Biasakan anak menulis. Mintalah mereka menulis target yang diinginkan apa, caranya bagaimana, dan tulisan itu sebagai pengingat juga pedoman mereka dalam menggapainya. Sementara orang tua, mengingatkan dan mengawasi pelaksanaan perencanaan mereka.
Ayah ibu, semoga tips ini mampu mengubah putra-putri kita menjadi lebih baik. Sukses dunia dan akhiratnya. Aamiin.


Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good.
Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me. https://accounts.binance.info/ro/register?ref=HX1JLA6Z