Oleh : Etty Sunanti

Suatu hari seorang ibu mendapati anaknya, yang masih usia 7 tahun, membawa mainan kecil yang tidak berharga secara nominal.

“Lho nak, apa yang kamu bawa itu?”

“Mainan bu..”

“Kau dapat darimana?”

“Aku nemu di rumah temanku.”

“Nemu kok di rumah teman?”

“Tapi memang tidak ada yang punya kok.”

“Tapi itu bukan mainan kamu, bukan hak milikmu. Ayo kembalikan mainan itu!”

“Kan cuman mainan murah bu, ini lho seribuan..”

“Mari sini ibu bantu kembalikan ke rumah temanmu. Dan jangan diulangi mengambil milik orang lain.”

Menemukan barang kok di rumah teman. Itu namanya mencuri. Menemukan barang atau uang di jalan saja, urusannya bisa panjang secara syariat. Kita tidak boleh mengambilnya. Karena itu bukan hak milik kita. Dan kita wajib mengembalikannya dengan segala upaya.

Islam begitu tegas mengatur Halal dan Haram. Sampai kepada sumber ataupun zat nya, wajib diperhatikan. Karena itu akan membentuk karakter insan mulia. Menjadikan anak jujur, tidak bisa dengan berleha-leha. Membutuhkan proses perjuangan panjang.

Banyak kisah, di tengah masyarakat, yang sudah terbiasa menjadi kebohongan antara orangtua dan anaknya. Bahkan sudah tradisi. Misalnya tradisi “Nylemurkan anak”. Adalah sebuah tradisi membohongi agar anaknya tidak menyusahkan orang tua. Sebuah jalan pintas, tanpa edukasi.

Misal, “Nak jangan ikut, mama mau pergi ke dokter, nanti kamu disuntik lho..”

Sengaja menakuti anaknya agar tidak ikut, padahal mamanya akan pergi ke mall. Jelas ini berbohong, berdosa. Mengapa tidak disampaikan saja terus terang dengan argumentasi yang baik.

“Nak maaf, mama mau pergi ke mall, untuk membelikan sepatu kakak. Kasihan kakak, besok sekolah harus pakai sepatu. Adik jangan ikut, karena mama terbatas uangnya. Kalau adik ikut, nanti adik minta ini itu, mama tidak cukup uang. Mama jadi sedih. Insya Allah kalau mama ada rezeki, kita pergi bersama ya..”

Allah berfirman dalam Alquran surat  An-Nahl ayat 105 yang artinya : “Sesungguhnya yang mengadakan kebohongan adalah hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah. Dan mereka itulah orang-orang pendusta.”

Dalam ayat ini jelas nampak, bahwa kejujuran sangat erat kaitannya dengan keimanan kepada Allah. Ketika seseorang jauh dari Allah, pastilah dia tidak takut berbuat dosa. Dan sudah dipastikan terbiasa berbohong.

Sebenarnya, mengapa seseorang termasuk anak-anak melakukan kebohongan?

Karena berbohong adalah sebuah cara untuk menyelamatkan keinginannya agar bisa tercapai.

Diantara dosa besar yang dibebankan pada manusia adalah berbohong, atau tidak jujur. Karena dari ketidakjujuran, akan berdampak negatif yang sangat besar bagi pelaku ataupun orang lain.

Mengapa? Karena sekali kita berdusta, maka pintu-pintu dusta yang lain akan terus berjalan, kemudian akan menjadi kebiasaan. Dan berusaha untuk menutupi kebohogan itu terus menerus.

Lalu bagaimana caranya para orang tua mendidik putra-putrinya agar berkarakter jujur?

1. ORANG TUA JANGAN PERNAH BERBOHONG.

Sekali kita berbohong, maka anak tersebut akan merekam dan selalu mengingat kebohongan kita.  Apalagi sampai menjadi karakter dan tradisi. Maka sudah dipastikan si anak akan tumbuh menjadi pembohong.

2. MENGOPTIMALKAN KEPEKAAN HATI.

Ada kalanya, anak berpotensi bohong. Bisa jadi karena dia sedang menyembunyikan rahasia. Karena si anak merasa khawatir jika orangtuanya tahu akan mengecewakan, sedih atau marah. Maka anak lebih memilih berdusta, biar orangtua merasa aman dan tenteram.  Maka, kepekaan orangtua di sini benar-benar diuji. Bagi orangtua yang sangat peka, pasti bisa merasakan ketidakberesan pada anaknya.

3. MEMANTAU DAN MENGIKUTI SETIAP PROSES KEHIDUPAN ANAK.

Orang tua yang baik, pasti memiliki kepedulian untuk memperhatikan proses tumbuh kembang anak. Setiap proses yang dilakukan anak, orang tua pasti memantaunya. Termasuk dengan siapa mereka berteman, hobinya, passionnya, makanan kesukaannya. Apapun yang dilakukan anak, ketika orangtua mengenal dengan baik, maka semakin sempit mereka untuk berbuat dusta.

4. JANGAN PERNAH MENJADI ORANG TUA PEMARAH DAN OTORITER.

Pencetak kebohongan terbesar adalah orangtua yang pemarah serta otoriter. Ayah ibu yang suka memaksakan kehendak, suka marah-marah, bisa dipastikan akan mencetak generasi pembohong. Karena anak akan lebih memilih aman dengan berbohong. “Sudah bilang begini saja, daripada bapak marah, daripada ibu marah.”

Mereka takut ayah dan ibunya marah. Maka pilihan aman bagi mereka adalah berbohong.

5. ORANG TUA TEMPAT CURHAT TERHEBAT.

Jadilah orang tua yang disayangi putra-putrinya. Ketika anak merasakan, bahwa orang tua adalah tempat yang paling aman untuk menumpahkan segala persoalan dan rahasia. Maka amanlah keluarga tersebut. Karena sudah tidak ada rahasia lagi. Jangan sampai mereka justru memilih curhat dengan orang lain. Misalnya, dengan pembantu, sopir, tetangga, atau teman sekolahnya. Yang mana aib apapun bisa terbuka. Mereka tidak menyelesaikan persoalan, justru menimbulkan persoalan baru.

6. MOTIVASI ANAK UNTUK TAKUT KEPADA ALLAH BUKAN KEPADA MAKHLUK.

Bentuk keimanan tertinggi seorang insan adalah ikhlas. Membentuk anak agar memurnikan ketaatan hanya kepada Allah, memurnikan segala amal dimulai dari niat, adalah perkara yang teramat berat. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja sering melakukan amal karena makhluk. Karena riya’, ingin dipuji. Padahal Allah Maha Melihat setiap hamba, bahkan mengetahui isi hati juga. Hal ini harus ditanamkan semenjak dini, ketika anak dimanapun berada, dia akan tetap merasa diawasi oleh Allah.

7. MENGONDISIKAN SIAPA TEMAN BAIK MEREKA.

Ibarat, berteman dengan penjual parfum akan tertular wangi. Berteman dengan penjual ikan tertular amis. Itulah ibarat pertemanan. Tentu saja bau bagi pertemanan, adalah klaim citra diri seorang anak manusia. Masyarakat akan dengan mudah berkata, “Ah pantas saja, temannya anak nakal, temannya pencuri.” Baik atau jelek, siapa temannya pasti akan terpengaruh. Tugas orangtualah untuk memulihkan. Semenjak dini, kondisikan teman-teman yang jujur, shalih shalihah.

8. UJIKAN AMANAH KEPADA ANAK.

Beberapa kali, orangtua perlu memberikan amanah kepada anak. Biar mereka merasa dipercaya. Misal, ayah ibu menitipkan sejumlah uang kepadanya. Apakah anak benar-benar bisa dipercaya? Atau berikan amanah untuk membeli sesuatu. Apakah anak membelanjakan dengan jujur? Jangan sampai ada kebudayaan mengorupsi uang berapapun nilainya.

9. ORANG TUA PELIT, MENGABAIKAN HAK ANAK.

Pelit bisa mengakibatkan anak tidak jujur. Karena mereka merasa tidak puas. Kekurangan akan menimbulkan keinginan mencuri di rumah sendiri. Berikanlah hak anak dengan baik.

Nah , ayah bunda, mari kita didik putra-putri kita, agar menjadi anak yang jujur, shalih dan shalihah. Karena generasi yang jujur, akan menyelamatkan peradaban masa depan. Keberkahan akan terwujud dari orang-orang yang jujur dan amanah.

Ramadhan, adalah madrasah luar biasa, melatih kejujuran anak. Area menahan lapar, haus, serta amarah. Cukup antara anak dengan Allah saja. Semoga amal ibadah Ramadhan, dari ayah, ibu serta anak-anak diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Aamiin.

SHARE ARTIKEL !
0Shares
0Shares