Suarahati.org, Sidoarjo – Saya masih terkesan dengan ceramah Bapak Profesor Anis Baswedan, Gubernur DKI Jakarta. Bahwa beliau menyampaikan, “Bila perlu ujian untuk anak-anak sekolah, diberikan sebuah kertas kosong, lalu biarkan mereka mengerjakan kertas kosong itu sepuasnya dan semau mereka sendiri.”

Karena menurut beliau, anak-anak Indonesia kemampuannya sebatas menghafal teori teori di buku, tetapi lemah dalam hal aplikasi.  Anak-anak Indonesia dari out put pendidikan, sangat lemah dalam hal menciptakan sesuatu yang baru.

Dan ternyata, apa yang di sampaikan oleh bapak Anies Baswedan adalah benar adanya. Karena, banyak klien yang berkonsultasi pada saya. Di usia remaja dan pra dewasa, banyak yang kebingungan menentukan arah hidupnya. Masih bingung, meminta arahan orang tua apa yang harus di lakukan. Padahal orang tuanya tidak tahu seluk beluk dunia yang mereka hadapi. Ini juga bagian dari kegagalan pendidikan serta pola asuh.

Kalaupun ada anak-anak yang kreatif, tetapi terkendala tidak ada dukungan dari sekitar. Sehingga kreatifitasnya, tidak memiliki penghargaan profit. Sehingga kreatifitas itu berhenti hanya di situ saja. Dikarenakan kultur, belum sepenuhnya mengapresiasi sebuah kreatifitas anak manusia.

 

Apakah kreatif itu ?

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kreatif adalah kata sifat yang berarti sebagai berikut :

  1. Memiliki daya cipta
  2. Memiliki kemampuan untuk menciptakan
  3. Bersifat ( mengandung ) daya cipta, pekerjaan yang menghendaki kecerdasan dan imajinasi

Maka jika melihat definisi tersebut, sudah jelas membutuhkan kesecerdasan dan imajinasi. Maka ini berkenaan dengan kemampuan berfikir.

Dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 164, Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, dan kapal yang berlayar di lautan yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lantas Dia Menghidupkan bumi dengannya sesudah kematiannya, berkembang biaknya setiap makhluq yang melata, berkisaran angin, dan awan yang di tundukkan antara langit dan bumi, itu semua tanda tanda bagi kaum yang berfikir.”

 

Sebenarnya, kreatif itu bersumber dari mana ?

Melihat definisi dan surat Al Baqarah ayat 164, jelas bahwa kreatif itu bersumber dari akal manusia. Atau cara berfikir seseorang tersebut.

Dalam Kitab yang berjudul, “Minal Mukmin Antakuna Mubdi’an” atau dalam bahasa Indonesia yang berarti “Kreatif berfikir” , yang di tulis oleh Jamal Madhi, yang diterbitkan Al Jadid ( Inovatif Kreatif Inspiratif ). Bahwa berfikir adalah Manhaj Kehidupan, bagaimana yang dimaksukan dalam manhaj kehidupan :

  1. Berfikir adalah kemampuan
  2. Berfikir adalah pengetahuan
  3. Berfikir adalah beradaptasi
  4. Berfikir adalah masa depan
  5. Berfikir adalah jalan hidup
  6. Berfikir adalah sistem
  7. Berfikir itu pandangan
  8. Berfikir itu kekuatan
  9. Berfikir itu pengajaran
  10. Berfikir itu pembaruan
  11. Berfikir itu optimis

Saya tidak perlu menjabarkan satu persatu, tentang manhaj tersebut. Tetapi minimal kita sudah mengetahui, dan bisa memetakan betapa kemampuan berfikir yang terarah akan membuat anak-anak kita kreatif.

 

Berikut tips saya dalam mendidik anak-anak agar bisa kreatif.

Mari kita mulai mengajarkan pada anak-anak bagaimana agar mereka terbiasa dengan hal di bawah ini :

  1. Pada anak usia golden age, 0 sampai 5 tahun, orang tua di harapkan membiarkan anak-anak tereksplor dalam berkata apapun. Jangan mengajak anak-anak berbicara tidak tidak jelas. Ajaklah mereka berbicara dengan kosa kata yang jelas, dan banyak jenisnya. Berikanlah mereka sebanyak banyaknya perbendaharaan kata. Semakin banyak kosa kata, semakin banyak pertanyaan yang mereka tanyakan. Orang tua wajib bersabar membersamai, dan membiarkan mereka melakukan apa saja, asal tidak membahayakan dirinya. Benas bermain air, tanah, pasir, tanaman, bahan bahan dapur, mengenal benada benda di rumah dan di sekitar beserta fungsinya, dan lain sebagainya. Ajarkan mereka mengenal instruksi, dan berusaha step by step melakukan sendiri tanpa bantuan orang tua.
  2. Pada anak usia 6 sampai baligh ( 13 tahun ). Anak diberikan tanggung jawab secara disiplin. Anak sudh mengenal hak dan kewajiban secara seimbang. Di ajak berdiskusi, dan berusaha memberikan bantuan solusi. Dan kita sebagai orang tua, sudah bisa menerima solusi yang mereka berikan. Jangan menjadi orang tua yang otoriter,yang selalu pendapat orang tua selalu benar. Dan harus di turuti. Usia ini sangat efektif untuk berlatih lifskill dengan baik. Ajarkan pada anak-anak usia ini, untuk mendeteksi kelebihan dirinya. Dan memupuk kelebihannya menjadi sebuah prestasi yang pretisius untuk diriya sendiri. Ajarkan bekerjasama dengan baik antar saudara, keluarga dan teman dekatnya. Asah keterampilan anak-anak, usahakan mereka bisa menciptakan segala sesuatu yang bermanfaat. Dan sebagai orang tua wajib menghargai setiap hasil karya mereka. Dengan membantu menyimpan, merawat, dan mendukungnya sebagai hasil karya yang luar biasa. Ajarkan anak-anak untuk menghargai hasil karyanya sendiri.
  3. Pada anak usia 14 s.d 19 tahun. Adalah fase dimana kita sudah bisa melihat hasil panennya. Kita tidak usah terlalu banyak ikut campur urusan mereka. Kita sebagai orang tua dan pendidik, sebaiknya memposisikan sebagai teman baik. Dan mensupport apa yang mereka minta. Anak seusia ini tidak butuh banyak komentar. Dia hanya membutuhkan kenyamanan, dam banyak waktu untuk dirinya sendiri. Kita wajib memantaunya, tetapi tidak banyak ikut campur. Kita hanya memberikan masukan positif, dan selebihnya dia memilih sendiri keputusan tersebut.kreatitas anak anak usia remaja ini, sudah harus bisa bernilai profit. Maka dari itu, arahan atau prolog sudah harus diberikan saat di bawa usia fase ini.
  4. Pada usia 20 s.d 25 tahun, adalah fase yang benar-benar mereka mampu menjadi dirinya sendiri. Bisa bermanfaat untuk dirinya, keluarga, dan masyarakat. Kreatifitasnya sudah bisa dirasakan dunia keuntungannya. Dan usia ini, anak anak sudah menjadi anak anak yang beruntung lahir dan batin. Orang tua, hanya bisa mendoakan dengan kesyukuran dan rasa hari memiliki anak yang baik dan kreatif.

 

Kemudian, hal hal apa saja yang dilakukan orang tua yang bisa  menghambat kreatifitas anaknya ?

  1. Orang tua yang suka mencela anaknya. Sehingga menjadi anaknya tidak percaya diri, dan hilang kreatifitas.
  2. Orang tua yang suka melarang anak-anaknya bermain bersama teman temannya. Orang tua berfikir, anak yang baik adalah yang diam banyak di rumah saja. Duduk manis belajar di rumah. Padahal dengan berteman, anak-anak belajar beradaptasi dan memecahkan persoalan bersama.
  3. Orang tua, lebih suka memiliki anak yang diam dan menuruti semua apa kata orang tua. Tidak ada diskusi, tida ada adu argumentasi. Suasana begitu tenang dan datar.
  4. Orang tua tidak suka melihat anak anak yang aktif, ceria dan gaduh di rumah. Fase anak-anak yang sewajarnya berubah menjadi mati tiada kehidupan.
  5. Orang tua enggan memfasilitasi bakat dan kemampuan anaknya, menganggap itu menghabiskan uang dan merugikan saja.
  6. Orang tua berbeda pendapat dengan anaknya, dan memaksakan kehendaknya. Sehingga keinginan anaknya kalah dengan keinginan orang tua.

Maka seyogyanya, anak-anak kita sudah saatnya kita biarkan menciptakan segala sesuatu yang belum ada di sekitar kita. Tataran kita bukan pada ATM ( Amati Tiru dan Modifikasi ) karena ini akan menciptakan plagiator plagiator baru yang memprihatinkan. Kreatifitas ini tidak terbatas pada bidang tertentu saja. Tetapi dalam bidang apapun kreatifitas bisa di kembangkan, yang akan membawa kemaslahatan bagi diri pelaku dan bagi masyarakat. Khususnya bagi peradaban zaman.

 

Penulis : Etty Sunanti
Suarahati.org

 

 

Silahkan Di Share, jika Artikel Ini Bermanfaat ! “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)
0Shares
0Shares