Oleh : Rofiq Abidin

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ


Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (QS Asy Syura : 13)

Indahnya saat menyaksikan kerukunan, kebersamaan dan kekompakan dalam menegakkan kalimatillah. Hingga tampak subur dan ranum muamalah yang menyenangkan sekitarnya. Keberagaman berfikir adalah keniscayaan yang tak terhindarkan. Hingga keberagaman itu merupakan warna-warni keindahan yang patut kita tata dan kita berikan ruang sebagaimana proporsinya. Misalnya, seseorang ahli taman sangat tahu dimana tanaman itu ditempatkan. Tentu mengandung azas kepantasan dan azas keindahan atau bahkan memang mana yang tidak tepat ditempatkan ditaman itu. Ini hanyalah sebuah perumpamaan bahwa keberagaman umat bukan harus dijadikan alasan untuk saling tuding, saling mencela dan saling menghujat.

Perihal di atas hanyalah sebuah gambaran betapa indah jika keberagaman umat itu dibungkus dengan kata ukhuwah. Bisa jadi dalam beberapa hal tertentu ada perbedaan, namun harus ada tali ukhuwah yang mengikat komitmen untuk saling membela dan saling support. Berbeda jika tahu ilmunya, maka tidak akan mencela dan menyalahkan. Jika perbedaan itu mengharuskan penolakan, dengan cara yang indah itu lebih bijak, jalan itu bernama tasamuh atau toleransi. 

Dalam membangun ukhuwah ada beberapa hal yang menurut saya bukan alasan semua yang berbeda untuk saling support dan bersama-sama menjalankan. Diantaranya sebagai berikut :

  1. Kemanusian

Jika terjadi bencana, maka tak ada lagi sekat-sekat perbedaan. Apakah dia berbeda ataukah ia sepaham. Menyelamatkan korban-korban bencana adalah hal yang terutama, karena berurusan nyawa. Bukan lagi dia tidak sama dengan kita, lantas tidak kita selamatkan atau kita enggan membantunya. Tengoklah bani Hasyim saat diembargo oleh musyrikin Quraisy, sehingga diasingkan di sebuah lembah. Semua keluarga bani Hasyim saling membantu bahkan ikut merasakan penderitaan, meski mereka belum mengimani ajaran Rasulullah Muhamamd. Dengan demikian, kepentingan kemanusiaan tidak ada lagi alasan untuk tidak bersama dalam menyelesaikannya.  Dalam hal kemanusiaan, menyambut tamu dan menghibur yang sedang kesusahan itu adalah praktek muamalah dalam Islam.

  • Iqomatud Dinillah

Dalam urusan menegakkan din Allah, Alquran melarang berpecah belah. Tak ada alasan untuk saling menuding, saling mencela kalau sudah berurusan dengan tegakknya din Allah. Tegak berarti tidak dilemahkan, tidak ada upaya-upaya pelemahan terhadap agama islam. Baik pelemahan yang bersifat langsung, maupun secara masiv dilakukan oleh yang berkepentingan politik. Jangan sampai umat islam berbeda dalam iqomatud dinillah, itu dilarang oleh Allah. Bagi yang berat untuk bersatu dalam iqomatud dinillah, menurut Allah itulah orang-orang yang musyrik. Maka siapa saja yang enggan bersatu dalam menegakkan din Allah sesungguhnya ia telah jatuh ke jurang yang dalam. Hal yang menjadikan berat, biasanya adalah taklit buta dan kurang ilmu serta ashobiyah (Fanatisme golongan). Salah satu contoh ; dilarangnya umat Islam melaksanakan syariat hijab, maka seharusnya semua kompak untuk menolak. Itu hanya satu contoh, yang lain tentu masih banyak. Jangan sampai fanatisme kita kepada satu golongan menghalangi kita untuk bersatu dalam ukhuwah. Karena jelas, bahwa berpecah-pecah dalam urusan penegakkan din Allah adalah haram.

  • Pembelaan negara

Saat negara membutuhkan tenaga, pikiran dan bahkan harta tentu segenap umat harus mengikhlaskannya. Sebagaimana Rasulullah contohkan saat membangun Negara Madinah Al Munawaroh dengan membuat Piagam Madinah. Yang di dalamnya berisi tentang beberapa persamaan yang harus dilakukan tanpa melihat ras, suku, agama dan golongan. Jika terjadi peperangan, maka segenap warga harus ikut berjuang membela negara tanpa melihat perbedaan. Piagam Madinah adalah konsensus masyarakat plural. Maka Islam sangat memberi ruang untuk saling hidup berdampingan dengan beragam perbedaan. Tentu dengan komitmen dan kesepakatan yang menjadi pijakan dalam bermasyarakat.

Tiga hal di atas merupakan hal yang tak terbantahkan, bahwa keberagaman dalam islam itu tidak menghalangi untuk bersama-sama, bahu membahu membangun keharmonisan di rumah Indonesia yang sama-sama kita tahu kemajemukannya. Bahkan dalam menjalankan agama islam, tidak ada paksaan, artinya berdasarkan keilmuan yang matang. Sebagaimana kita lihat, dalam sejarah Islam tidak kita temukan pemaksaan kepada masyarakat untuk memeluk Islam, meski minoritas hidup di tatanan masyarakat islam.

Dengan demikian, mari wahai saudaraku nyalakan semangat ukhuwah. Jangan biarkan silaturrahim antar sesama redup, gara-gara beda pilihan, beda pendapat dan beda pemahaman. Demi kemajuan Islam dan bangsa Indonesia, maka marilah kita bersama-sama membangun harmonisasi dalam rumah Indonesia yang kita cintai.

SHARE ARTIKEL !
0Shares
0Shares