Suarahati.org, Sidoarjo – Ikhlas, satu kata yang sudah tak asing di telinga. Ketika kita ditinggalkan oleh orang yang kita cintai yang membuat kita bersedih hati dan kehilangan, sahabat kita berkata, “ikhlaskan kepergiannya”. Atau saat kehilangan barang yang berharga lantas kita marah dan bersumpah serapah, teman kita bilang, “ikhlaskan saja”.

Ikhlas secara harfiah berarti murni suci atau bersih sedangkan menurut istilah, ikhlas adalah melakukan ibadah dengan tulus hati semata-mata mengharap ridho Allah. Ikhlas adalah ekspresi hati untuk senantiasa tunduk dan patuh melaksanakan segala perintah Allah serta menjahui segala larangan-Nya. Ia juga bermakna menerima dengan lapang dada segala apa yang sudah digariskan Allah dengan berusaha mengambil hikmah dari setiap peristiwa.

Ikhlas mudah diucapkan tetapi terkadang terasa berat untuk dipraktekkan. Ketika kita beramal atau bershodaqoh, kalau dalam hati kecil kita ada perasaan ingin dipuji, disanjung atau dilihat orang lain, itu pertanda kita kurang ikhlas. Ikhlas merupakan pekerjaaan hati, hanya Allah dan hati kita sajalah yang dapat mendeteksi perasaan ikhlas atau tidaknya kita dalam melaksanakan sesuatu. Bila ikhlas sudah menjadi pakaian dalam diri, maka Insya Allah kita akan merasa safe dalam menjalani kehidupan.

Kita tidak akan besar kepala oleh sanjungan dan pujian orang lain yang kadangkala sanjungan dan pujian itu dapat menjadi pemicu kehancuran. Kita pun tidak akan bersedih hati oleh hinaan dan cacian yang justru melecut diri untuk membuktikan bahwa kita bisa dan mampu untuk berbuat. Kita menyadari bahwa sesungguhnya hidup dan mati hanya milik Allah hanya kepadaNya kita mengabdi dan hanya kepadaNyalah kita akan kembali.

Orang-orang yang ikhlas sangat tinggi derajatnya dalam pandangan Allah sampai- sampai iblispun tak bisa menggodanya. Dalam Q.S. 15: 39-40, iblis berkata,

 

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (٣٩) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (٤٠

Ya Tuhanku oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik perbuatan maksiat di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali hamba- hamba Engkau yang ikhlas diantara mereka ”.

 

Untuk meraih derajat ikhlas diperlukan latihan secara kontinyu dan terus- menerus. Bila kita selama ini  bisa melaksanakan sholat fardu tepat waktu itu berarti kita ikhlas menjalankan perintah-Nya, atau bila kita sudah terbiasa untuk sholat tahajjud dan sholat dhuha itu bermakna kita sudah bisa mengurutkan  ikhlas pada urutan nomor satu. Puasa juga bisa kita jadikan sarana untuk meningkatkan ikhlas, karena dengan puasa kita diajarkan untuk mengendalikan hawa nafsu.

Pada saat perut menahan lapar dan badan menjadi lemah, kita tetap menjalankan puasa sampai datang waktu berbuka,  seandainya kita makan pun tidak ada yang tahu tapi kita menyadari bahwa Allah maha melihat atas apa yang kita kerjakan.

Allah menjanjikan orang orang yang ikhlas beribadah kepada-Nya dengan balasan berupa surga,

 

جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ ﴿٨﴾

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya” (QS. 98 : 8).

 

Demikianlah, Semoga kita senantiasa diberikan keikhlasan dalam beribadah kepadanya. Suarahati.org

 

Oleh : M Nafik

 

 

Silahkan Di Share, jika Artikel Ini Bermanfaat ! “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)
0Shares
0Shares