Oleh : Rofiq Abidin

وَمَن يُهَاجِرْ فِى سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِى ٱلأَرْضِ مُرَاغَماً كَثِيراً وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِراً إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ ٱلْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلىَ ٱللَّهِ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. AN Nisa’ : 100)

 

SUARA HATI – Peristiwa dasyat yang sangat mempengaruhi peradaban islam saat ini adalah peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya dari Mekah ke Madinah. Sebuah migrasi nabi dan ummatnya untuk menemukan tempat yang tepat untuk mulai membangun sebuah peradaban yang berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Walau jarak yang ditempuh antara Kota Mekah ke Madinah adalah 447 km, tidak megendurkan semangat kaum muhajirin untuk mentaati Allah dan nabi yang dicintainya itu. Karena setiap perintah Allah pasti baik dan berdamapak positif untuk ad dinul Haq dan hambaNya.

Sebelum hijrah ke kota Yasrib, sebenarnya nabi juga melakukan migrasi ke kota lainnya. Tercatat dalam sejarah bahwa Ja’far bin Abi Thalib memimpin 12 orang laki-laki dan 4 wanita dan hijrah ke kota Habsyah, kemudian disusul 83 orang laki-laki dan 11 orang wanita pada hijrah yang kedua.

 

Spirit Hijrah untuk Lebih Baik

Sikap hijrah merupakan sikap baroa’ah (pemisahan) antara yang haq dan yang batil, pun juga merupakan komitmen suci kepada Allah untuk tunduk dan patuh kepada syariatNya dan membela NabiNya. Jangan sampai ada kesempatan untuk berhijrah, namun tidak mau berhijrah, maka akan memberikan dampak kepada keimanannya. Sebagaimana pada zaman Nabi, ada beberapa muslimin yang tidak berhijrah, karena keengganannya. Sehingga ia dipaksa oleh kaum kafir qurais berperang menjadi pasukan kafir qurais dan terbunuh diperang badar. Lantas apa saja spirit hijrah itu ?, berikut inilah spiritnya :

 

  1. Pembuktiaan Iman

Sebuah keniscahyaan orang melakukan hijrah, jika belum beriman. Seseorang yang telah meyakini bahwa tempat, status dan Rubbubiyah (aturan) yang ada adalah bernilai jahiliyah dimata Allah, maka pasti ia akan melakukan migrasi. Baik migrasi secara ruhan wa jasadan. Ini sebagai pembuktian imannya, yakin seyakin-yakinnya bahwa apa yang dialami harus diubah kepada tempat, status dan sistem yang lebih baik dari yang sebelumnya. Dan itu semua harus seirama dengan apa yang diturunkan Allah. Karena penilaian mutlak adalah dari Tuhannya melalui implementasi firmanNya yang telah turun kepadanya.

 

  1. Ketaatan kepada Allah dan RasulNya

Seorang mukmin hidupnya terserah Allah. Apapun keputusan Allah maka seharusnya diikuti. Nyaman atau tidak nyaman untuk dirinya, suka atau tidak suka menurut hawa nafsunya dan berat atau ringan. Semua yang menghalangi untuk taat kepada Allah hanyalah hawa nafsunya. Mukmin selalu punya ukuran yang jelas, yakni wahyu Allah dan sunah nabinya. Tidak ada pilihan lain bagi mukmin jika Allah telah memutusan sesuatu, taat kepada Allah tanpa tendensi sama dengan rasa syukur kepada Allah tanpa tapi dan kesabaran tanpa batas. karena sabar dalam ketaatan itu berkeharusan dan tak berkesudahan.

 

  1. Komitmen suci

Sebuah janji suci untuk menjadi pribadi yang beradab, pribadi yang sanggup mengubah dirinya lebih sholih, pribadi yang lebih bijak dan sanggup melawan kemaksiatan serta kejahilihan dengan hati, lisan dan kekuatannya. Dalam komitmen telah jelas mana yang haq  dan mana yang batil, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang membawa ke jurang neraka dan mana yang membawa ke surga. Sehingga komitmen tegas untuk berhijrah. Pada masa Nabi ada beberapa persyaratan yang harus dipenuh, berikut ini contohnya yang diabadikan dalam Firman Allah Mumtahanah ayat 12 sebagai berikut :

Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-peempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

  1. Pembaharuan

Kota Yasrib yang dirubah namanya oleh Rasulullah menjadi Madinah, bukan tanpa sebab. Dari nama ini justru ada spiritnya, memang yang mbabat alas kota ini adalah tokoh yang bernama Yasrib, sehingga dinamakan Yasrib. Namun maknanya Yasrib itu adalah dosa. Maka diubahlah namanya menjadi Madinah (Kota), sebelumnya juga pernah diusulkan nama Toba atau Toyyiban yang artinya adalah baik. Dan kini populer dengan sebutan Madinatul Munawaroh. Semua menyiratkan pembaharuan, sehingga Rasulullah mulai membangun peradaban dari sebuah kota yang tidak sama sekali diprediksi kemajuannya oleh Romawi dan Persia yang saat itu sebagai Negara adidaya.

Karena letakknya yang kurang strategis menurut meraka dan masyarakatnya yang sangat jauh dari peradaban saat itu. Namun dari Madinah inilah ditarik garis lurus peradaban. Bahkan spirit perubahan yang dibangun dari mulai munculnya “Piagam Madinah” hingga pada tahun ke 8 Hijriah Rasulullah menerima janji Allah tentang “Fathan Qorib” (kemenangan yang dekat), yakni penakhlukan kota Mekah, yang kita kenal dengal “Fathul Makkah”. Tentu selama 8 tahun dimadinah melakukan tindakan-tindakan yang produktif dan menyiapkan regenerasi yang jelas.

 

  1. Kesejahteraan

Rasulullah Muhammad SAW merupakan orang yang pandai meggali bakat sahabat-sahabatnya dan jauh menyiapkan genrasi-generasi saat itu. Dengan tangan dinginna majelis Nabi setiap pagi selalu inspiratif dan memberi spirit aqidah bagi sahabatnya. Sehingga 10 sahabat yang merupakan Assabukunal Awwalun yang dijamin masuk surga adalah para pemuda. Mulai dari Abu Bakar, Abdur Rahman bin Auf, Ustman bin Affan, Umar bin Khatab dan bebrapa lainnya berumur dibawah 20 tahun, termasuk Ali bin Abi Thalib. Ia benar-benar tidak menyia-nyiakan potensi pemuda. Ia memberi kesempatan pengembangan diri kepada Abdur Rahman bin Auf yang pandai berdagang, Ilmuwan Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khatab yang adil dan pemuda-pemuda lainnya yang terus mengembangkan dirinya, semua tersusun dengan rapi oleh Rasulullah.

Karena majelisnya selalu bervisi, bukan ngambang tanpa arah. Sehingga pada masanya kesejahteraan itu hadir untuk ummat islam, karena ketaatan mereka dan kepandaiaan Rasulullah merangkul ummatnya, menggali bakat dan passion-nya dan kesejahteraan yang Allah janjikan terwujud atas komitmen hijrah mereka semua, berupa rezeki yang banyak dan tempat yang luas.

 

  1. Ampunan Allah

Mengokohkan diri untuk berhijrah menuju ampunan Allah, menjadi spirit tersendiri. Karena selama diri masih pada sistem yang jahiliyah, selama itu pula ampunan Allah tidak akan didapatkannya, walau ibadahnya tidak pernah putus. Janji Allah dalam firmanNya di atas, bukan sekedar janji. Maka itulah spirit yang dasyat, kaum muhajirin tidak ingin kehilangan kesempatan itu, tidak ingin dilewatkan begitu saja. Untuk keselamatan imannya, maka ia harus melakukan migrasi suci, tidak membiarkan dirinya lusuh dan kotor dalam status penghambaan yang salah kaprah, tempat yang jahiliyah dan tatanan yang jelas-jelas menjerumuskan kepada neraka. Dengan spirit ampunan Allah inilah para ummat bergegas migrasi menuju Madinah Munawaroh.

 

Enam spirit untuk lebih baik, hendaknya menjadi evaluasi logis bagi kita. Bahwa perintah hijrah, bukanlah semata-mata menghindari penyiksaan orang-orang kafir Qurays yang sangat keji. Namun semua dilakukan untuk perubahan yang lebih baik. Spirit kemajuan hanya akan berjalan ditempat, tanpa adanya sikap yang jelas, cara yang arif, pemberdayaan potensi dan kebersamaan dalam membangun perubahan.

 

Suarahati.org

 

 

SHARE ARTIKEL !
0Shares
0Shares