وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الأرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا آلاءَ اللَّهِ وَلا تَعْثَوْا فِي الأرْضِ مُفْسِدِينَ

“Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah Kaum ´Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS. Al A’raaf, 7: 74)

 

Suarahati.org, Sidoarjo – The Islamic Civilization atau Peradaban Islam, pembahasannya tidak bisa lepas dari Tanah Arab, yang notabene awal mula Peradaban Islam, dibangun oleh tokoh paling berpengaruh di dunia yakni, Rasulullah Solallahu Alaihi Wassalam.

Mimpi besar Rasulullah Muhammad untuk membumikan Al Qur’an tidak dimulai dari mana-mana dan dari siapa-siapa. Beliau memulai semua dari diri sendiri dan keluarganya. Selanjutnya, Rasulullah Muhammad memulai peradaban dari satu kota yang sangat welcome terhadap Islam, yaitu Yatsrib. Dari sinilah starting point Peradaban Islam itu mulai. Landasan peradaban itu telahpun dibuat, mulai dari insfrastruktur dengan dibangunnya Masjid Nabawi yang menjadi sentral kegiatan dakwah dan penyelenggaraan suatu sistem kemasyarakatan yang sekarang kita kenal dengan Negara, lengkap hingga sistem ekonomi, politik dan sistem pertahanan. Selanjutnya lahirlah sebuah undang-undang kesepahaman yang disebut dengan Piagam Madinah.

Secara garis besar, fase Sejarah Islam dibagi menjadi tiga; a) Periode Klasik yang dimulai sejak Tahun 650 – 1250 M dan merupakan periode Kemajuan Islam dalam berbagai bidang kehidupan dan ilmu pengetahuan, b) Periode pertengahan dimulai sejak 1250 – 1800 M, dengan semakin meningkatnya disintegrasi tidak hanya dalam bidang politik, tetapi juga dalam paham keagamaan dan sektarian, Fase Tiga Kerajaan Besar (Kerajaan Usmani di Turki, Kerajaan Safawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di India) dimulai sejak Tahun 1500 – 1700 M, c) Periode Modern yang dimulai sejak 1800 M – sekarang.

 

Sentuhan Peradaban Rasulullah SAW

Landasan yang dibangun oleh Rasulullah SAW banyak memberikan inspirasi peradaban bagi dunia. Mari kita tengok bagaimana Rasulullah SAW menyatukan dua kaum, yakni kaum pendatang (Muhajirin) dan kaum penduduk asli yang kita sebut Anshar. Ikatan persaudaraan Anshar dan Muhajirin melebihi ikatan persaudaraan karena pertalian darah, sebab ikatannya berdasar iman, terbukti apa yang dimiliki Anshar disediakan penuh untuk saudaranya Muhajirin. Sebagaimana firman Allah; dalam Surat Al Hasyr [59] ayat 9.

Perihal ini sangat menginspirasi bahwa persaudaraan seiman itu merupakan modal yang dahsyat dalam memulai sebuh peradaban. Menanggalkan kesukuan, demi tujuan yang sama. Bukan memperuncing dan memancing pertikaian demi kepentingan golongannya masing-masing. Pembangunan masjid sebagai simbol Al Quwah (kekuatan) dan Peradaban Madinah yag berfungsi sebagai pusat informasi, sosialisasi dan tempat pelaksanaan direction system yang telah dicanangkan oleh Kabinet Rasulullah Solallahu Alaihi Wassalam. Semua berawal dari sini, dari dua sentuhan Rasululullah yang menginspirasi dunia peradaban.

Sentuhan tangan dingin Rasulullah Solallahu Alaihi Wassalam dalam roda pemeritahan baru Madinah Munawaroh sangat fundamental. Ini membuktikan bahwa Ajaran Ilahi membahas dan memberikan pandangan kepada dunia, bahwa idealisme Islam itu sangat komprehensif dan relevan. Jika boleh kita simpulkan apa yang telah diawali oleh Rasulullah dalam membangun Peradaban Islam dunia meliputi beberapa hal berikut ini :

 

-Mengokohkan Idealisme Aqidah Islamiah

Islam dipahami sebagai idealisme baru pada masa itu. Walau Budaya-Budaya Islam telah dikenal, namun Islam sebagai ajaran yang komprehensif belum dijalankan sempurna. Nah penanaman pemahaman idealisme aqidah ini menjadi penting, mengingat Masyarakat Madinah saat itu hanya memahami Islam secara ritual-spiritual. Padahal Rasulullah Solallahu Alaihi Wassalam hendak membumikan Al Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat hingga bernegara, sebagai pengejawentahannya secara sempurna. Konsepsi Islam yang rahmatan lil alamin pun menjadi penting untuk memahamkan Ummat Islam, lebih-lebih non muslim yang hidup pada masa itu.

Bisa dibayangkan bagaimana antusiasme dan gigihnya Rasulullah Solallahu Alaihi Wassalam dan para sahabatnya dalam rangka mensyiarkan Syariat Islam pada saat itu, hingga menemuan kalimatun sawa’ (kata yang sama/ kesepakatan tertulis bersama) dalam menentukan Yatsrib masa depan.

 

-Pembangunan Sistem Kemasyarakatan yang Harmonis

Sistem kemasyarakatan pada masa sebelum Islam banyak menimbulkan pertikaian, karena menganut sukuisme. Maka dengan mempersaudarakan kaum pendatang dan penduduk asli, menjadikan Masyarakat Yasrib bahu membahu membangun tempat baru mereka yang terwadahi dalam konep Madinah Munawaroh sebagai negara persatuan mereka. Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar ini banyak memberikan dampak positif bagi berlangsungnya kemajuan Islam ke depan.

 

-Terbentuknya Piagam Madinah sebagai Undang-Undang Universal

Di samping membangun persaudaraan antar warga di Madinah, Rasulullah Solallahu Alaihi Wasallam mengajak seluruh wargaanya untuk membangun kesepahaman yang disepakati bersama, yakni Piagam Madinah, sebagai undang-undang yang disepakati bersama berdasarkan Ajaran Ilahi sehingga segenap komponen Madinah Munawaroh saat itu bersama membangun dan membangun bersama-sama demi kelangsungan kota baru yang mereka bangun, termasuk ummat selain Islam, Yahudi dan Nasrani. Mereka pun memiliki kewajiban yang sama untuk melindungi Madinah Munawaroh dari ancaman bahaya luar maupun dalam. Piagam Madinah inilah yang merupakan dasar kesepahaman yang sangat strategis untuk menyatukan bangsa.

 

-Membangun Infrastruktur

Masjid Nabawi sebagai simbol berdirinya Peradaban Islam yang dipimpin oleh seorang nabi dan rasul, yakni Muhammad Solallahu Alaihi Wassalam merupakan sentral penguatan dan pemantapan Aqidah Islamiah dan menjadi sarana komunikasi yang efektif bagi ummat, sehingga segala permasalahan yang timbul di negara baru mereka dapat diatasi dengan baik dan adil.

Empat hal ini hanyalah mewakili dari berbagai hal yang telah diawali oleh Rasulullah Solallahu Alaihi Wassalam bersama sahabatnya. Madinah menjadi starting point Peradaban Islam yang kemudian ditarik garis lurus oleh Khulafaur Rasidin dan para khalifah-khalifah selanjutnya. Sebagaimana ayat di atas, bahwa Allah pasti menjadikan ummat ini sebagai khalifah di bumi. Wallahua’lam.

 

ustadz Rofiq Abidin

 

 

 

Oleh : Rofiq Abidin
Suarahati.org

 

SHARE ARTIKEL !
9Shares
9Shares