Oleh : Rofiq Abidin

وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا

Dan katakanlah : “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (QS. Al Isra’ : 80).

 

SUARA HATI – Semua perbuatan kita akan ditentukan oleh niat. Jika dari awal niat kita salah, maka nilainyapun sesuai dengan niat awalnya. Jika niat kita baik dari awal, maka jalan dan ujungnya adalah kebaikan. Saat mau masuk kepada sebuah amal, perhatikanlah pintu amal kita, yakni niat. Agar amal yang kita lakukan bernilai sebagaimana yang kita harapkan. Jangan sampai kita melakukan sesuatu tanpa niat yang jelas, atau bahkan niat yang salah. Karena itu akan mempengaruhi hasil dan nilai amal kita, bahkan bisa saja amal kita menjadi tak bernilai apa-apa karena kesalahan niat sebelum amal. Marilah kita waspada agar niat kita tidak dihinggapi parasit perusak nilai amal kita.

 

PARASIT NIAT PERUSAK NILAI AMAL

Ada beberapa parasit yang perlu kita waspadai yang biasa hinggap pada niat yang tumbuh dari hati kita, diantaranya sebagai berikut :

  1. Riya’

Kalau riya’ merupakan sifat yang tumbuh saat beramal bukan karena Allah, tapi ingin pamer dengan apa yang akan dilakukan. Jelas ini adalah kesalahan fatal. Karena setinggi apapun bangunan amal, jika niatnya adalah hanya memamerkan, hasilnya adalah kosong, secara manfaat dan balasan Allah. Maka waspadalah dengan riya’, karena riya’ ini hinggap dengan halus saat niat baik mulai tumbuh. Jadi luruskan kembali niat saat parasit riya’ mulai menghinggapi niat baik kita. Buanglah parasit ini, karena riya’ itu muncul dengan lembut, ia bagaikan semut yang berada di atas batu yang hitam dan dalam suasana yang gelap pekat. Kehadiran riya’ menipu semangat amal kita, ia hanya akan mengosongkan nilai ibadah kita, ia hanya akan membelokkan niat kita yang tumbuh sebelumnya.

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al Baqarah : 264)

  1. Sum’ah

Kalau sum’ah itu adalah parasit yang hinggap pada niat kita, sehingga ada desakan agar amal kita diperdengarkan kepada manusia, namun ingin disembunyikan dari Allah, walau tidak mungkin. Nilai yang diharapkan bukan dari Allah tapi dari manusia, inilah sum’ah. Waspadailah parasit ini, karena ia hanya akan menghilangkan nilai amalan kita, sedekah kita, ibadah kita dan pengorbanan kita. Ia hanya tampak besar dihadapan manusia, tapi kosong dihadapan Allah.

  1. Ujub

Membangga-banggakan diri, ini definisi ujub secara gampangnya. Ia lupa bahwa apa saja yang dicapainya tak lepas dari campur tangan Allah Yang Maha Kuasa. Rasa ujub yang menempel pada niat baik akan menggerogoti nilai yang sebenarnya. Segera singkirkanlah dari bangunan niat kita, karena bisa merusak semua pencapaian kita. Karena sifat ujub ini adalah sifat yang melupakan peran Allah, padahal setiap saat Allah telah mengucurkan nikmat kepada hambaNya.

Waspadailah tiga parasit ini, ia hanya akan menjadikan nilai amal kita menjadi sia-sia di hadapan Allah. Bukankah bahagianya seorang mukmin adalah saat amal sholihnya diridhoi oleh Allah.

 

PENGHIAS NIAT YANG SESUNGGUHNYA

Jika kita di atas telah mengetahui parasit yang menempel pada niat yang bisa merusak nilai amal ibadah kita. Sekarang kita akan bicara tentang penghias niat yang sesungguhnya, agar niat kita akan benar-benar sampai pada nilai yang maksimal kemanfaatannya.

  1. Rasa Ihsan

Perasaan ihsan akan menghadirkan niat yang kokoh, bersih dan lurus. Bagaimana bisa?. Rasa ihsan, yang merasa selalu diawasi oleh Allah, akan selalu mengingatkan kita pada kemurnian niat kita. Inilah penghias niat yang akan menjaga niat sepanjang amal. Karena seharusnya niat itu tidaklah hanya diawal saja, tapi niat itu harus dijaga hingga ujung amalan telah selesai ditunaikan. Adapun sikap ihsan inilah yang akan menjaga niat kita sepanjang amal ibadah ditunaikan.

  1. Rasa Ikhlas

Tentu rasa ikhlas inilah penghias niat, bahkan rasa inilah yang akan menentukan nilai niat kita. Jika tingkat keikhlasan kita tinggi, maka tinggi pula nilai yang kita dapatkan, bahkan keberhasilan apa yang kita niatkan akan banyak ditentukan oleh rasa ikhlas ini.

  1. Rasa Khidmad dan Khusu’,

Perasaan khusyu’ harus selalu hadir untuk menjaga niat kita. Jika khusyu’ dan khidmad tidak ada dalam amal ibadah kita, maka berat rasanya untuk mencapai hasil yang maksimal. Kembali meluruskan niat, sama dengan kembali kepada kekhidmatan dan kekhusyukuan. Oleh karena itu niat itu akan terjaga jika kita sudah berniat untuk khidmad dan khusyu’.

Penghias-penghias niat itu akan menjadikan niat kita jelas dan bernilai. Karena penghias niat sebenarnya bukanlah nilai dari manusia yang diharapkan, tapi keridhoan Allah, rahmat Allah dan kehendak terbaik dari Allah. Wallahua’lam

 

Suarahati.org

 

SHARE ARTIKEL !
124Shares
124Shares