Oleh : Septian T. Arizona

Founder dan CEO Sekolah Bisnis Muslim

Di seminar motivasi bisnis sering muncul pertanyaan ini :

Anda berbisnis untuk hidup atau untuk kaya?

Pernahkah anda kenal seorang penjual bakso dimana sejak anda kecil hingga sekarang anda dewasa orang tersebut tetap berjualan bakso dengan rombong yang sama, porsi yang sama, dan aneka style yang sama dari tahun ke tahun tanpa perkembangan? Jika anda kenal, mereka itulah yang berbisnis hanya untuk hidup!

Lalu pernahkah anda kenal seorang penjual bakso yang dulu awalnya semasa anda kecil membeli baksonya beliau masih mendorong gerobak sendiri namun hari ini beliau punya 10 outlet dengan banyak karyawan dan beliau sekarang kerjaannya jalan-jalan? Jika anda kenal, mereka itulah yang berbisnis untuk kaya!

Begitulah kira-kira gambaran motivasi bisnis di seminar motivasi pada umumnya.

Menurut anda untuk apa berbisnis? Untuk hidup atau untuk kaya?!

Jika anda pengusaha muslim yang memiliki HARGA DIRI tentu anda tidak memilih jawaban diatas. Karena sejatinya kita aktifitas di dunia ini seharusnya adalah untuk beribadah kepada  ALLOH Ta’ala.

ALLOH SWT berfirman:

لِيَعْبُدُونِ إِلَّا وَالْإِنْسَ الْجِنَّ خَلَقْتُ وَمَا

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: Ayat 56)

Karena sesungguhnya KAYA bukan ukuran BAHAGIA, miskin bukan ukuran SENGSARA!

Saya bukan sedang menggembosi semangat anda untuk kaya yaa…

Saya malah mendukung banyak muslim kaya agar kontribusi dana untuk dakwah terus mengalir sehingga syi’ar Islam terus tersebar. Namun yang saya tekankan disini adalah ukuran nilai kebahagiaan sebagai pengusaha muslim adalah bukan dari banyaknya harta dan ukuran kesedihan bukan dari sedikitnya harta. Untuk lebih memahami maksud saya maka teruslah membaca sampai selesai.

Kaya beneran boleh, terlihat kaya jangan!

Karena terjebak dengan iming-iming bisnis untuk kaya banyak pengusaha muslim terjebak uang HARAM seperti RIBA.

Mobil nyicil ke leasing agar terlihat kaya karena masak berbisnis sudah 5 tahun masih aja naik  motor? Kan malu…

Begitulah dalihnya, hanya karena dorongan syahwat ingin terlihat kaya semata maka aturan ALLOH  tak diperhatikan lagi !

Atau hanya karena ingin segera kaya maka modal kerja yang lambat bertambah maka dipaksakan ambil pinjaman RIBAWI ! Naudzubillah min dzalik!!!

Jadi yang benar bagaimana? Yang benar adalah nilai kebahagiaan kita adalah ridho ALLOH.

Maka kaya boleh, asal cara menempuhnya adalah dengan cara-cara yang diridhoi oleh ALLOH  Subhanahu Wa Ta’ala. Jangan sampai memaksakan karena tidak sabar lantas melampaui batas !!!!

Tidak ada kesedihan yang berhak ditangisi oleh pengusaha muslim selain tumpukan dosa-dosa yang telah diperbuat! Dan karena tidak ada kekhawatiran yang pantas dikhawatirkan melebihi kekhawatiran akan diri yang tidak segera bertaubat, padahal setiap hari kontrak nyawa dalam diri kian habis dan jarak ajal kian dekat !

Jangan sampai terlambat bertaubat !! Waspadalah… waspadalah!!!

Maka penting sekali kita luruskan niat dalam berbisnis ! Niatnya bukan untuk kaya ataupun hidup tetapi untuk beribadah kepada  ALLOH subhanahu wa ta’ala.

Jika niat sudah benar karena ALLOH maka Insya ALLOH jalan yang ditempuh akan selalu ditimbang. Apakah cara saya ini diridhoi oleh ALLOH? Jika iya maka lakukan! Jika tidak maka berhentilah dan carilah cara lain yang diridhoi oleh ALLOH Subhanahu Wa Ta’ala.

SHARE ARTIKEL !
0Shares
0Shares