Suatu hari saya bertanya kepada para santri kami di Madrasah Islamiyah Ataubah. “Apa cita-cita kalian anak-anak ?”
Spontan anak-anak menjawab dengan apa yang dia yakini selama ini. Ada yang menjawab : tidak tahu, polisi, menteri pendidikan, youtuber, seperti ayah, dan lain sebagainya.
Kemudian, dalam beberapa kali kesempatan, saya berkisah kepada santri, tentang tarih Islam, berkenaan sejarah perang dan kehebatan sahabat Rasulullah di Medan Jihad. Dalam 1 bulan, saya berkisah 3x di hadapan mereka.
Kemudian di bulan akhir, tanpa sengaja saya bertanya kembali, “Apa cita-cita kalian anak-anak ?”
Saya terkejut, ternyata beberapa santri cita-citanya bisa berubah.
Yang awalnya ingin menjadi polisi, tetiba berubah menjawab, “Aku ingin menjadi pejuang Islam Mi, seperti Khalid bin Walid.”
Yang awalnya ingin menjadi Youtuber, bisa berubah menjawab, “Aku ingin menegakkan syariat agama Allah Mi, seperti sahabat-sahabat Nabi.”
Saya benar benar tercengang, ternyata cerita bisa seperti ini dahsyatnya. “Stoytelling” saya kepada mereka sangat berimbas luar biasa.
Oleh karena itu, mari kita pelajari apa dan bagaimana Storytelling itu.
Cerita adalah tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal peristiwa, kejadian, dan sebagainya. Dalam bahasa Inggris ada cerita yang disampaikan dengan cara yang menarik yaitu, Storytelling.
Storytelling adalah sebuah teknik atau kemampuan untuk menceritakan sebuah kisah, pengaturan adegan, event, dan juga dialog. Kalau di film, para film maker bersenjatakan kamera. Di komik, para komikus bersenjatakan gambar dan angle cerita. Dalam cerpen atau novel, para penulis bersenjatakan pena, diksi, dan permainan kata serta deskripsi, dengan menyampaikan sebuah cerita dengan cara mendongeng.
Storytelling menggunakan kemampuan penyaji untuk menyampaikan sebuah cerita dengan gaya, intonasi, dan alat bantu yang menarik minat pendengar. Storytelling sering digunakan dalam proses belajar mengajar utamanya pada tingkat pemula atau anak-anak. Teknik ini bermanfaat melatih kemampuan mendengar secara menyenangkan.
Orang yang ingin menyampaikan storytelling harus mempunyai kemampuan public speaking yang baik, memahami karakter pendengar, meniru suara-suara, pintar mengatur nada dan intonasi serta keterampilan memakai alat bantu. Dikatakan berhasil menggunakan teknik storytelling, jika pendengar mampu menangkap jalan cerita serta merasa terhibur. Selain itu, pesan moral dalam cerita juga diperoleh.
Banyak manfaat yang diperoleh dari Storytelling ini :
Menciptakan suasana senang, memberi kegembiraan, kenikmatan dan mengembangkan imajinasi pendengar.
Memberi pengalaman baru dan mengembangkan wawasan pendengar.
Dapat memberikan pemahaman yang baik tentang diri mereka sendiri dan orang lain di sekitarnya.
Dapat memberi pengalaman baru termasuk di dalamnya masalah kehidupan yang ada di lingkungan.
Pendengar belajar berbicara dalam gaya yang menyenangkan serta menambah perbendaharaan kata dan bahasanya
Melatih daya tangkap dan daya konsentrasi pendengar
Melatih daya pikir (intelektual) dan fantasi pendengar
Menanamkan nilai-nilai budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah)
Menanamkan ketauhidan dan keimanan kepada audiens.
Pencerita bisa memasukkan visi dan misi tanpa di sengaja

Ada 3 Generic Structure Storytelling :
Orientation
Orientation biasanya terletak di paragrap pertama Yng secara teori, berisi tentang informasi What, Who, Where, dan When. Pada paragrap orientation, text narrative akan memberitahukan pembaca tentang apa peristiwanya, siapa pelaku-pelakunya, dimana dan kapan peristiwa tersebut terjadi.
Complication
Paragrap complication menjadi inti sebuah text narrative. Complication ini menceritakan apa yang tejadi dengan pelaku dalam peristiwa tersebut. Umumnya Complcation ini berisi gesekan antar pelaku peristiwa. Gesekan ini menimbulkan sebuah Conflict atau pertentangan. Dalam teori literay, Conflict umumnya dibedakan menjadi 3 macam, yakni natural conflict, social conflict, dan psychological conflict.
Resolution
Sebuah pertentangan harus ditutup dengan penyelesaian. Dalam sebuah text narrative, resolution bisa dengan penyelesaian yuang menyenangkan, juga kadang berakhir dengan penyelesaian yang menyedihkan.
Ada 4 hal penting dalam Storytelling
Kontak mata
Saat storytelling berlangsung, pendongeng harus melakukan kontak mata dengan audience. Pandanglah audience dan diam sejenak. Dengan melakukan kontak mata, audience akan merasa dirinya diperhatikan dan diajak untuk berinteraksi. Selain itu dengan melakukan kontak mata, kita dapat melihat apakah audience menyimak jalan cerita yang didongengkan. Dengan begitu, pendongeng dapat mengetahui reaksi dari audience.

Mimik wajah
Pada waktu storytelling sedang berlangsung, mimik wajah pencerita dapat menunjang hidup atau tidaknya sebuah cerita yang disampaikan. Pencerita harus dapat mengekspresikan wajahnya sesuai dengan yang didongengkan.
Gerak tubuh
Gerakan tubuh pencerita waktu proses storytelling berjalan dapat turut pula mendukung menggambarkan jalan cerita yang lebih menarik. Cerita yang didongengkan akan terasa berbeda jika pendongeng tidak melakukan gerakan-gerakan yang merefleksikan apa yang dilakukan tokoh-tokoh yang didongengkannya. Dongeng akan menjadi membosankan, dan akhirnya audience tidak antusias lagi mendengarkan dongeng.
Suara
Tinggi dan rendahnya suara yang diperdengarkan dapat digunakan pencerita untuk membawa audience merasakan situasi dari cerita yang didongengkan. Pencerita akan meninggikan intonasi suaranya untuk mereflekskan cerita yang mulai memasuki tahap yang menegangkan. Pencerita profesional biasanya mampu menirukan suara-suara dari karakter tokoh yang diceritakan. Misalnya suara ayam, suara pintu yang terbuka.
Kecepatan
Pencerita harus dapat menjaga kecepatan atau tempo pada saat storytelling. Tempo bercerita yang terlalu cepat dapat membuat anak-anak menjadi bingung, ataupun jika terlalu lambat akan menyebabkan anak-anak menjadi bosan.
Alat Peraga
Untuk menarik minat anak-anak dalam proses storytelling, perlu adanya alat peraga seperti misalnya boneka kecil yang dipakai ditangan untuk mewakili tokoh yang menjadi materi dongeng. Selain boneka, dapat juga dengan cara memakai kostum-kostum hewan yang lucu, intinya membuat anak merasa ingin tahu dengan materi cerita yang akan disajikan.
Oleh karenanya, orang tua ataupun para pendidik harus mencoba bahkan membiasakan untuk bercerita kepada anak-anak. Karena efeknya yang sangat luar biasa.
Tentu saja, apa yang diceritakan adalah kisah nyata penuh hikmah. Yang mampu mengubah mereka secara inteletual, akhlaq, dan aqidah Islamiyah mereka.
Jangan sampai kita masukkan cerita dongeng fiksi, tidak masuk akal, bahkan justru pembodohan buat mereka. Apalagi kisah-kisah yang bertentangan dengan pemahaman kita sebagai muslim.
Bukankah Al-Qur’an prosentase terbesar juga berkisah tentang sejarah. Banyak kisah bijak dan luar biasa dalam Al-Qur’anan. Kita hanya perlu mencari literaturnya, dan mengolah dengan bahasa sederhana dan menarik, agar bisa dipahami anak-anak.

Oleh : Etty Sunanti