Beberapa kali saya mendapati anak yang berkarakter pengecut. Ketika dia melakukan kesalahan, dia pura-pura tidak tahu. Dan, justru melempar kesalahan kepada temannya.

“Ummi, aku lho gak ngapa-ngapain, dia malah yang mengganggu aku, sampai tadi dimarahi orang.”

Padahal dia yang jahil, usil, tetapi untuk mengantisipasi agar tidak ditegur, kesalahan dilempar ke orang lain. Ada yang jelas-jelas bersalah, tetapi malah diam membisu. Ada juga, takut kepada makhluk, sehingga mengalahkan cintanya kepada Allah.

 

Suatu hari, murid-murid madrasah kedatangan orang mabuk masuk ke tempat kami mengaji. Si pemabuk itu mencaci maki dan sumpah serapah terhadap anak-anak madrasah. Sampai ada anak yang menangis histeris ketakutan. Besoknya, Si Santri tidak berani berangkat mengaji lagi.

 

Butuh motivasi dan penguatan agar si anak berani mengaji kembali.

“Ah.. ngapain takut sama orang itu, dia mah pemabuk, kalian anak sholih, pendekar silat, sekali hajar, jatuhlah dia, nggak usah takut. Dia sudah diancam kok sama takmir, kalau berani macam-macam, nanti akan kita laporkan ke polisi. Ngaji terus ya.. harus jadi pemberani dong, kan kamu anak sholih. Anak sholih itu pemberani….”

 

Ternyata, banyak juga orang dewasa menjadi penakut dan pengecut. Karena waktu masih kecil, tidak pernah dididik jiwa syajaa’ah oleh keluarga atau guru mereka.

 

Apakah Syajaa’ah itu ?

Kata syajaa’ah merupakan kosakata dari bahasa Arab, yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai sifat berani, pemberani, perwira atau ksatria. Asal katanya adalah syaju’a-yasju’u-syaja’atan (شجع – يشجع – شجاعة) yang artinya berani. Lawan kata Syajaa’ah adalah penakut/pengecut yang dalam istilah Arab disebut dengan Al-Jubn (الجُبْن).

Sedangkan pengertian syajaa’ah secara istilah adalah : Mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan, dan sebagainya ; tidak takut.

 

Jikalau kita melihat sejarah para Nabi, mulai Nabi Adam Alaihissalam hingga Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam, maka pendidikan yang diajarkan Allah kepada para Nabi tidak lain adalah Syajaa’ah. Sebuah mental keberanian menyampaikan kebenaran, memperjuangkan kebenaran, menghadapi rintangan, menghadapi ujian, menghadapi musuh yang besar dan kuat. Dan mental para Nabi begitu elegan dengan keberaniannya. Masyaa Allah.

 

Apa sebenarnya yang mendasari mental syajaa’ah untuk anak-anak kaum muslimin? Tidak lain adalah mental laa ilaaha illallah.

Makna Laa ilaaha illallah [لا إله إلا الله] yang benar adalah لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ (Laa ma’buuda bi haqqin illallah), artinya tidak ada sesembahan yang benar dan berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja. Semua sesembahan yang disembah oleh manusia berupa malaikat, jin, matahari, bulan, bintang, kuburan, berhala, dan sesembahan lainnya adalah sesembahan yang batil, tidak bisa memberikan manfaat dan tidak pula bisa menolak bahaya.

 

Pada kalimat [لا إله إلا الله] terdapat empat kata yaitu :

  1. Kata Laa (لا) berarti menafikan, yakni meniadakan semua jenis sesembahan.
  2. Kata ilaah (إله) berarti sesuatu yang disembah.
  3. Kata illa (إلا) berarti pengecualian.
  4. Kata Allah (الله) maksudnya bahwa Allah adalah ilaah/sesembahan yang benar.

 

Dengan demikian makna [لا إله إلا الله] adalah menafikan segala sesembahan selain Allah dan hanya menetapkan Allah saja sebagai sesembahan yang benar.

 

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

 

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْحَقُّ وَاَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖ هُوَ الْبَاطِلُ وَاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ

Artinya : “(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al Hajj: 62).

 

Maka penanaman tauhid adalah modal kuat untuk membuat anak anak memiliki mental pemberani. Bahwa tidak ada yang perlu ditakuti, kecuali Allah Azza wa Jalla. Sungguh baik mengajarkan anak-anak semenjak dini, bawa kecintaan, kerinduan, ketergantungan, harapan, dan takut hanya kepada Allah.

  1. Selalu menanamkan rasa kecintaan kepada Allah.

“Nak, Allah itu Maha Cinta, coba lihat langit yang indah itu, tidak ada yang bisa membuatnya kecuali Allah. Kita harus mencintai Allah. Kalau ada orang mencintai gadgetnya melebihi cintanya pada Allah, ehmm itu terlalu sempit dan tandanya orang itu tidak cerdas.”

  1. Mengajarkan kerinduan kepada Allah.

“Nak, berapa menit lagi adzan ya, mama sudah rindu ingin segera bertemu Allah. Ayoo hentikan semua kegiatan, kita segera ambil wudhu’ yuuk..”

  1. Mengajarkan ketergantungan kepada Allah.

“Kamu tidak usah sedih, Allah tempat bergantung kita. Kalau Allah berkehendak kamu menang lomba, apa sulitnya bagi Allah. Tidak usah takut, kalau memang ingin ikut lomba, ikut saja, berusaha yang keras, berdoa, pasti Allah akan mudahkan.”

  1. Mengajarkan harapan hanya kepada Allah.

“Anakku, kita tidak boleh menaruh harapan pada bu guru. Harapan itu hanya pada Allah. Bu guru, tidak memperhatikan kamu saja nak. Di sekolah ada 25 murid, jadi bu guru harus memperhatikan 25 anak, bukan kamu saja. Maka sebaik-baik harapan hanya kepada Allah. Biarkan Allah yang menjaga dan melindungimu nak…”

  1. Mengajarkan takut hanya kepada Allah.

“Ngapain kamu takut sama syaithan. Yang membuat syaithan, hantu, iblis, itu Allah. Allah yang menciptakan surga dan neraka. Allah yang Maha Kuasa atas segala-galanya. Tidak pantas kita takut sama Allah. Yang kita takuti hanya Allah. Karena Allah yang berkuasa atas kita, bukan syaithan.”

 

DIALOG-DIALOG CERDAS antara guru dan murid, antara orang tua dan anak, antara anak dan teman WAJIB KITA TUMBUHKAN. Agar anak-anak memiliki mental yang super dahsyat, karena memiliki keberanian yang luar biasa.

 

Nah, ayah ibu yang dimuliakan Allah, mulailah saat ini mengevaluasi putra-putri kita. Apakah mereka memiliki jiwa yang lemah atau pengecut? Atau bisa jadi terlalu berani, hingga tidak mampu mengukurnya? Mari mulai saat ini, kita pantau keberanian mereka. Yang memiliki jiwa pengecut dan penakut, mulailah tahapan mengajarkan tentang tauhid kepada mereka. Yang sudah terlalu berani, ajarkan juga strategi dan akhlaq. Sehingga mereka bisa mengaplikasikan keberaniannya ke jalan yang baik dan benar.

Etty Sunanti