وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمٌ

“…Kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar”.(QS An Nur : 15)

SUARA HATI – Terkadang kita ngobrol ringan, mungkin di warung kopi, di ruang tamu atau ditempat santai membuat kita fresh, tanpa beban. Namun Berhati-hatilah dalam bicara, karea boleh jadi ada pembicaraan yang kita anggap ringan, ternyata itu besar dampaknya. Jika positif, maka akan berdampak positif, jika negatif akan menjadi blunder bagi kita, contohnya ghibah. Yakni, membicarakan kejelekan orang lain.

Karena boleh jadi apa yang pernah kita bicarakan akan membawa apa-apa yang akan terjadi dimasa hadapan. Hati-hatilah dalam dalam bicara, jangan mudah melaknat orang lain, jangan mudah mencela orang lain, jangan mudah membully orang lain dan jangan mudah menggungjingkan kejelekan orang lain. Karena boleh jadi apa yang kita  gunjingkan akan terjadi pada kita di kemudian hari kemudian. Ngobrol ngidul terkadang gak terasa bermuatan ghibah atau mungkin namimah. Pernahkah diantara kita “ngatain orang lain buruk, eh ternyata dikemudian hari kita melakukan perbuatan orang yang kita katain ?”. Itulah blunder ghibah dan fitnah. Berhati-hatilah dalam bicara.

Adapun dampak blunder ghibah bukan saja di dunia, jika tidak mau taubat, maka nilai balasan di akhirat akan di pindahkan kepada orang yang kita ghibah. Wah rugi bukan !.

Jadi, mari belajar bersama-sama untuk menjaga lisan kita. Karena blundernya tidak hanya di dunia, tapi diakhirat juga. Bahkan di riwayat lain, orang yang suka ghibah baunya akan terasa busuk dan di akhiat kukunya terbuat dari tembaga mencakar-cakar muka dan dandanya. So, nikmatnya ghibah hanyalah semu dan itu pembicaraan yang tidak mutu.

Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassallam mengingatkan kita bahwa salah satu standarisasi beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhir adalah bicara yang baik-baik atau jika tidak bisa, lebih baik diam. Itu lebih aman, dari pada membicarakan apa yang tidak kita ketahui, sehingga bermuatan dusta. Jangan mudah berfatwa, wong dulu ulama’ mau berfatwa saja mengeluarkan semua landasan ilmu, la kita terkadang mudah nge-share sesuatu yang belum tentu kita lakukan dan kebenarannya. Ayo bijak bicara, nge-share pernyataan, agar tidak blunder bagi kita. Semoga Allah menjaga kita dari pembicaraan yang gak produktif dan bermuatan dosa. Aamiin.

 

Oleh : Rofiq Abidin
Suarahati.org

 

SHARE ARTIKEL !
124Shares
124Shares